Senin, 22 April 2013

Dari Tangis yang Tertahan


Di kala bocah
ntah Emak, Ebak, Abang, Ayuk, Nyai atau Datuk …. selalu bilang padaku
“Makan dulu sebelum berangkat, nanti kepunan
akibat berdesak-desak lidahku yang kena balak,  mereka pun berkata;
“Wow! Itu pertanda Ebak pulang bawa banyak rezeki, mungkin ayam hutan,  kancil atau rusa”
Mereka seolah menyuntikkan bius di kelenjar aduhku dan
aku tak jadi menangis

lalu ketika sehabis makan
“Jangan sisakan sebutir nasi pun , nanti dia menangis”
namun bila aku menangis gara-gara ulah kakak atau abang
“Sssssstttt! …. Jangan menangis, nanti kakak kita beri nasi yang hangat sekali”
Kau tahu…. Aku kembali tak jadi menangis

ketika aku terpeleset dan berdarah
Mereka menyuruhku segera berdiri dan berucap
“Duh! Anak Emak sayang, cepat  sini lukamu diobati nanti keluar nasi”
Kau tahu ….Aku lagi dan lagi tak jadi menangis

Yeah! Mungkin sudah saatnya aku menangis
Walah kudapati ia sudah dilarang


NB; Kepunan adalah sebuah kejadian naas yang bisa jadi menimpa kita dan biasanya kerap diucapkan bila makanan sudah dihidangkan. 


Yogyakarta, 21 April 2013


4 komentar:

  1. Bagus kak, tp klw boleh coment, perasaan akhirnyo kok kurang ngena yo bang, hehe
    Maaf ni kami malah ngoreksi senior, yaa smoga kita sukses kedepannyo bang,.
    Oyya follback blog kami, dan jgn lupa mampir, hehehe :)

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas comentx dx. Bebas kok di sini, tak ada yg lebih hebat, kita saling belajar bersama. Endingnya coba tuk mengilustrasikan kenangan masa lalu, karena sampai detik ini abang belum pernah menangis untuk ortu. Abang ingin mencurahkan seluruh tangis sekali saja, walau kesempatan itu saat mereka menutup mata, sehingga ada kalimat "walau kudapati ia (tangis) sudah dilarang", karena dalam agama kita saat jasad dilingkupi tubuh kita sudah tak boleh lagi menangis. Ok, saling berbagi semangat dan ilmu saja....hhee

    BalasHapus
  3. suka sama tulisan ini. idenya bagus, tapi bahasanya kurang terolah.

    saran: akan besar manfaatnya jika puisi yang baru saja digubah tidak langsung dipublikasikan, tetapi diendapkan dulu barang beberapa hari. setelah diendapkan, kita baca kembali puisi kita. kita evaluasi sendiri. kita berusaha menjawab misalnya pertanyaan-pertanyaan seperti ini:

    apa sesungguhnya ide yang saya sematkan pada puisi ini?
    bagaimana bahasanya?
    sudah sesuaikah ragam bahasa yang dipakai dalam puisi ini?
    sudah paskah pilihan katanya?
    mengapa saya memilih judul ini?
    mengapa saya memilih ide ini?
    mengapa ide ini saya ungkapkan melalui puisi, tidak melalui prosa atau esai?
    bagaimana kaitan puisi ini dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya?

    dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada diri kita sendiri, mudah-mudahan puisi berikutnya yang kita gubah lebih berkualitas daripada puisi sebelumnya.

    BalasHapus
  4. Terima kasih bang. Secara jujur puisi ini masih dengan bahasa aslinya, belum ada pengolahan. boleh lah kapan-kapan kita ngobrol lagi. tantangan terberat yang masih belum bisa saya bangun adalah malas untuk mentalaah atau membuat kerangka penulisan. Jadilah yang tercipta karya yang terkadang ngelantur dan tak fokus seperti yang pernah abang sebutkan sebelumnya.

    BalasHapus