Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Maret 2013

CERPEN "OH! GURUKU YANG KONYOL"



****
USIAKU kira-kira 16 tahun waktu dipertemukan pada seorang guru yang kuanggap konyol, nyeleneh, dan tak biasa. Hampir sepanjang harinya ia memakai sarung, peci putih, dan baju kokoh. Seolah seragam kebesarannya. Tak peduli itu berpergian jauh dengan sepeda atau pesawat, bicara di depan seorang konglomerat atau rakyat melarat.
“Kau tahu kenapa Nabi Khidir tak seagung Nabi Musa? Nabi Khidir tak masuk dalam 25 Nabi yang diimani, apalagi 5 Rasul seperti halnya Nabi Musa AS, padahal Nabi Musa AS disuruh berguru oleh Tuhan sama Nabi Khidir. Apa perbedaan antara kedua Nabi tersebut?  
“Mungkin karena Nabi Musa lebih diyakini Tuhan punya kemampuan untuk memimpin umat”. Ah!...Tak tahu lah. Menurutmu bapak apa?
Jawaban bisa saja kau dapat dari tayangan di telivisi, berita di koran, atau dari kesaksian mata-kepalamu sehari-hari. Tentang guru ngaji yang memperkosa tiga muridnya yang masih belia. Tentang guru yang memberi ancaman tidak mengeluarkan ijazah hanya karena ingin menikmati tubuh muridnya. Tentang 5 bocah laki-laki yang duduk di bangku SD yang memperkosa si bocah perempuan. Tentang guru yang dimutasi hanya karena memarahi si anak pejabat.  Tentang guru yang membalsem mata siswinya hanya karena dicurigai mencontek. Tentang guru yang menyebarkan kunci jawaban hanya karena takut kejelekan sekolahnya semakin terlihat atau tentang apapun itu. Nabi Khidir mengajarkan kalau kerendahan dan kesalahan tidak melulu dipersepsikan ‘tidak baik’. Termasuk apa yang dipikirkan tentang dia.
Seorang bapak berperawakan lembut namun tegas tersebut kembali mempercundangiku dengan pertanyaannya. Akankah pula kau sadari kenapa Nabi Musa tak jauh lebih cerdas dari Nabi Khidir?
“Tak tahu, mungkin karena Nabi Khidir lebih tua, jadi sudah banyak belajar, banyak pengalaman, banyak pula akalnya” Jawabku semakin tak mengerti.
 “Perbedaannya seperti kita berdua. Aku bertanya dan kau hanya menjawab, padahal kau merasa dirimu lah yang bertanya” Dia memancingku tuk memperpanjang pertanyaan siang itu.  
“Maksudnya? Bapak pikir dengan pertanyaan, pertanyaan, dan pertanyaan kita selalu mendapatkan jawaban yang tepat? Bagaimana dengan kisah Nabi Musa As dalam surat Albaqarah tentang Bani Israil yang disuruh mencari seekor sapi betina? Bukankah pertanyaan membuatnya semakin mampus ?” Aku tantang dia.
“O! Jadi kau merasa orang yang bertanya adalah orang yang tak mengerti jawaban, orang yang bodoh. Nabi Musa mendapatkan jawaban atas kekonyolan yang diperbuat Nabi Khidir itu diawali pertanyaan. Bani Israil mendapatkan jawaban atas kekonyolan yang dilakukan Nabi Musa itu karena pertanyaan. Walau tanpa mereka sadari mereka sebenarnya yang konyol”.    
****
GURU yang mengajarkanku kekonyolan tersebut sebelumnya adalah seorang ustadz di pondok pesantren ternama. Dia mempunyai darah batak, sedangkan desaku tak sedikitpun berbau batak. Tapi tak tahu kenapa dia lebih memilih untuk mendiami kampungku, padahal jangankan untuk mengisi periuk nasi, proses belajar mengajar saja berkejaran dengan waktu. Jika anak-anak Madrasah Ibtidaiyah menggunakannya ketika jarum jam menghampiri titik 13.00, maka kami harus mengawasi waktu supaya tak menabrak angka tersebut. Dia konyol.
Dia tak mendelik bak sekedip pun tentang celotehan orang. Ketika semua putera daerah yang berpendidikan memilih hijrah ke luar kampung. Dengan santai ia menanggapi; “mano adolah orang ngato-ngatoin kito, yang ado kito sendiri yang memperbesar masalahnyo, sekironyo pun ado ngapoin pulo kito tanggapin serius” Jawab beliau dengan dialek Jambi yang terkesan memaksa.
“Kalau kau sabar kau akan memahami apa itu kekonyolan” Sambungnya pula.
Bukan hanya itu. Dua tahun yang lalu kudengar dia menolak diangkat menjadi PNS alias Pegawai Negeri Sipil, padahal dia punya istri dan dua anak yang menantikan mainan, baju baru atau makan di restoran. Anehnya lagi, gaji honorer yang alakadarnya ia sisihkan untuk mencicil pembangunan gedung sekolah. Jika aku kembali dipertemukan dengannya akan kutanyakan tentang ini.
****
Aku hampir mengakhiri strata satuku dan dia tampak tak sedikitpun mengakhiri kekonyolannya. Bahkan baru-baru ini ditawari menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk menggantikan posisi yang ditinggali temannya dan dia juga menolak. Padahal aku tahu betul, andai saja dia menerimamya ia pasti bisa membuatkan gedung sekolah yang megah, melancong ke luar negeri, mengendarai mobil yang mewah. Dia benar-benar manusia konyol. 

Lagi dan lagi dia berulah. Mendadak dia menggodam 2 keramik bergambar ka'bah dari 3 gambar yang terpasang di dinding belakang mimbar. Sebuah tindakan yang tak pernah dikomunikasikan terlebih dahulu sama masyarakat. Sontak saja ia semakin dikecam sebagai guru yang konyol. Ketika aku ajukan pertanyaan tentang semua kekonyolan yang ia perbuat. Dia menyuruhku memotong lidahku dan memukul ke tubuhnya. 



NB: Kisah ini terinspirasi dari seorang guru MTs di kampungku. Aku pikir beliau hidup dalam kesederhanaan. Salah satu kesederhanaan yang teramat kukenang adalah cara beliau berpikir. Lalu kisahnya aku kaitkan dengan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam surat Al-kahfi, selanjutnya diakhiri kisah Nabi Musa beserta Bani Israil dalam dalam surat Al-baqarah.
  
Yogyakarta, 30 Maret 2013



Sabtu, 07 Juli 2012

ASMARA DI UJUNG MITOS



RASA penat menyelimutiku, sehabis pulang praktik KOMUDA selama dua pekan di Rumah Sakit Nur Hidayah Bantul. Ini adalah hari terakhirku. Rasa penat seolah lekas minggat, ketika terngiang di pikiran ini untuk pulang kembali ke Jambi. Hampir satu tahun aku pergi meninggalkan orang tua, kakak, keponakan, teman, kampung halaman serta sang kekasih. Hanya lewat signal  kusaling mengenal. Rindu yang sebenarnya tak seutuhnya luntur. Walau sesaat tapi terasa melekat, ketika kami saling tahu dalam keadaan sehat wal’afiat. 

MANUSIA SEPAROH DURIAN



Aku mendapat kabar katanya ada sesosok lelaki aneh, bertubuh krempeng, berkulit sawo matang, dan berambut hitam lebat di kebun durian milikku. Kebenaran berita itu nyata adanya. Sesampai di sana aku memerhatikanya ada seorang yang sedang mengelus-elus buah durian, menempelkan hidungnya pada duri-duri yang tajam itu, dan tampak olehku ia terbuai dalam aroma hembusan bau durian tersebut. 
Aku sendiri masih belum bisa menyimpulkan kenapa ia memerlakukan durian tak ubahnya lagi sedang memanjakan anaknya. Bahkan seperti halnya wudhu dalam sholat dan serupa pakaian di badan.

LAMPU BOTOL BEKAS


Di mata keluargaku, kelam adalah sebuah cerita lama. Cerita lama yang tak lagi dikenang. Sunyi juga kini telah berubah menjadi bisu yang selalu ingin terusik. Ketakutan seakan tak pernah ada bersemayam di balik kegelapan. Jikalau pun ada yang berbicara ketakutan, itu pasti bukan tentang kegelapan.Ya! Bukan tentang kegelapan.

SI BUJANG SAMPAH

Kenapa mesti aku yang kaupanggil Si Bujang Sampah? Aku muak mendengar ucapanmu yang memanggilku Si Bujang Sampah. Bukti akan berbicara nanti siapa sebenarnya aku. Ini jalanku. Aku tak butuh teman-teman pembual dan pecundang sepertimu. Pergi sekarang dariku.

          Usia 10 tahun saat pertama kali kudengar teman-teman menyapaku Si Bujang Sampah. Padahal bukanlah namaku. Aku sudah buktikan  kebimbanganku ini dengan apa yang ada di akta kelahiran, rapor SD (Sekolah Dasar), bahkan di dinding kamar rumahku masih terlihat jelas sebuah goresan arang  bertuliskan Miftahul Khairi beserta tempat dan tanggal kelahiranku Jambi, 03 Desember 1990.  Tapi kenapa ada nama yang tiba-tiba menjadi benalu.       Buatku malu.

Rabu, 11 Januari 2012

SEGORES LUKA DALAM MIMPI


“Ibu dan ayah. Tuk kali ini coba mengerti aku. Aku rasa kutelah mencoba memahamimu. Tapi kenapa kau tak pernah memberi ruang pada apa yang kumau”.
Dengan hobinya sebagai penulis. Nasri masuk ke kamar dan mengambil diary yang sejak MTS dia simpan. Di dalamnya tertulis berbagai macam kegundahan serta keresahan. Hanya sedikit goresan yang melukiskan kebahagian.
“kenapa ibu? kenapa ayah?. Aku selalu dilarang”
Nasri duduk lesu tak bergairah. Mukanya kusut seakan suram menapak masa depan yang terbentang luas di hadapan. Suram bukan karena tak ada uang. Bukan pula meriang, apalagi sudah tak punya mimpi tuk terbang. Tapi tentang wujud cinta yang begitu sulit tuk ia pahami.
Terlahir sebagai anak bungsu. Nasri sadari itu. Ia tak boleh kecewakan orang tua yang teramat mencintai dan menyayanginya. Bagi si Nasri senyum orang tua adalah kebahagiannya. Jika itu mau orang tua, maka itu menjadi maunya.
Pada awalnya Nasri menikmati hidup di lingkaran orang tuanya. Bahagia sekali bisa berjalan dengan setumpuk doa dari orang tua. Begitu pula dengan orang tua Nasri terlukis berjuta kebahagian menghinggapi angannya. Bangga sekali memiliki anak yang penurut.
Inilah misteri sebuah waktu. Semua bisa berubah. Semua bisa luntur. Hingga lahirkan kejenuhan dan beragam permintaan dan tentunya tak akan abadi.
Memasuki dunia MA (Madrasah Aliyah). Di sinilah di mana Nasri mulai dihadapkan di antara dua pilihan. Pilihan dia dan orang tua. Di sekolah yang ia masuk ada 2 alternatif, yaitu; tinggal di asrama atau di luar alias ngekos.
Disini mulai tampak sikap penurut Nasri terkikis. Ia berbelok haluan, ketika orang tuanya menyuruh jalan terus. Bukan karena melawan, tapi karena waktu yang kini membuat dia berubah. Berubah tuk  sekejap saja mendengarkan apa yang sebenarnya  ia mau.
Namun di balik semua itu Nasri tetaplah anak yang punya kepekaan yang kuat terhadap apa yang dirasa orang tua. Walau dia masih remaja, tapi dia mencoba tuk berpikir dewasa.
“Orang tuaku menyuruh tinggal di asrama pasti mereka tak mau terjadi apa-apa padaku”
Nasri sendiri menyadari  kalau ia tak seutuhnya bisa menjamin mampu mengontrol prilakunya. Bila tinggal dalam lingkungan yang bebas. Akhirnya Nasri mencoba tuk kembali ke jalur orang tuanya.
Pernah pertengahan tahun kedua Nasri kembali mengeluh. Ia sudah tak tahan dan minta tuk keluar dari asrama. Begitu hasrat tersampaikan. Berbagai pujuk rayu serta harapan  keluar dari mulut orang tuanya. Klimaksnya mereka teteskan airmata. Tetesan airmata yang kembali urungkan niat si Nasri. Dia kembali.
Nasri terus bertahan. Hasilnya dia mampu menamatkan sekolah di Madrasah Aliyah tersebut. Dia mulai berpikir kalau apa yang ia capai saat ini. Bukan hanya kelulusan dari sekolah saja. Melainkan juga kelulusan menjalankan apa yang orang tua mau.
Satu harapan ke depan yang tertanam dalam diri Nasri. Pencapaian saat ini sebagai go to freedom. Dia ingin selanjutnya berjalan dengan kata hatinya.
Sampai pada akhirnya Nasri diberi kesempatan kuliah di Yogyakarta. Masalah jurusan apa yang harus ia ambil. Tak tahunya sudah terlampir sedari dulu. Satu pilihan yang lagi-lagi membuat ia menghela napas panjang.
“Nak, kamu mesti ambil jurusan Keperawatan. Peluangnya jauh lebih besar. Jangan ambil jurusan yang lain. Kalau tak dapat kerja gimana?. Lihat itu kakakmu sampai sekarang menjadi pengangguran abadi. Lalu coba perhatikan pula itu anak Pak Qosim balik-baliknya juga menjadi petani”
“Saya ingin mengambil jurusan sastra ibu. Sastra sudah menjadi hobi saya sejak MTS. Saya senang sekali sastra”
“Ah! apa itu sastra. Tak jelas tujuanya. Ibu sudah dengar dari mana-mana kalau Keperawatan itu lagi dibutuhkan, sedangkan sastra ibu saja baru dengar kali ini. Pokoknya kamu harus ikuti apa yang sudah menjadi ketentuan ibu. Ibu jauh lebih tahu tentang masa depanmu”
“Tapi kan saya yang menjalani semua ini, Bu”
“Oooh! jadi gitu. Kamu mau berjalan sendiri-sendiri. Berarti sekarang semuanya kamu mesti sendiri. Termasuk bea kuliahmu”
“Tapi ibu”
“Tak ada topi-topi lagi. Eeeh!... maksudnya tapi. Ibu ini sudah tua, jadi ibu lebih banyak tahu daripada kamu”
Sangat sulit bagi Nasri tuk mengelak. Dia tak ingin airmata itu kembali membasahi pipi kedua orang tuanya. Tak lagi.
“Mungkin inilah waktunya aku tuk berbakti pada mereka. Setelah sekian lama mereka merawat serta mendidikku. Biarlah kuterluka. Aku akan coba tuk jalani semua ini”.  Tekad Nasri.
Semester I, semester II dan semester III tak ubahnya seperti deruh air ketika bendungan dibuka. Bergemuruh. Deras sekali. Namun siapa sangka di semester IV air  mulai terkuras. Tak lagi terlihat gagah. Nasri mulai alami kejenuhan. Ia baru menyadari bagaimana rasanya melanggar kode etik yang seharusnya disepakati bersama kata hati.
Waktu telah begitu banyak terbuang. Uang telah banyak melayang. Mau diapain lagi. Nasi telah menjadi bubur. Dan buburpun telah ia makan. Kini dia berusaha tuk tetap berharap dari bubur yang telah ia makan. Tinja seperti apa yang keluar. Busuk tapi harum atau malah harum tapi busuk.
Tak sampai di situ, Nasri juga mesti menentukan sikap yang tepat ketika menghadapi berbagai permintaan dan larangan orang tuanya. Sering sekali apa yang diinginkan Nasri tak sampai di pelabuhan. Karena harus berbentur karang ketakutan orang tuanya.
Keputusan orang tua tak jarang menyentuh kelenjar lakrimalis Nasri, hingga teteskan airmata. Kondisi ini pernah ia alami ketika di semester III ia meminta tuk dibelikan motor. Tapi orang tuanya tetap saja mempertahankan prinsip yang telah mereka buat sedari awal.
Berkecamuk perasan yang ada dalam pikiran orang tua Nasri. Kalau kecelakaan gimana?. Terus kalau nanti kamu lupa kuliah gara-gara keterusan jalan-jalan gimana? lalu gimana kalau motornya sampai hilang?. Sedangkan tujuan Nasri memiliki motor  sebagai ruang gerak atau memperluas langkahnya. Nasri beranggapan kalau tanpa motor ia tampak seperti ‘mati kutu’. Namun orang tua tetap saja menyangkal keinginan Nasri dengan pikiran-pikiran negatif.
Permintaan itu terus dan terus Nasri coba alamatkan pada orang tuanya. Hasilnya mereka luluh. Begitu banyak syarat yang Nasri terima sebelum mereka benar-benar deal. Salah satunya Nasri tak boleh keseringan jalan-jalan. Dan kata terakhir yang sempat Nasri dengar adalah kalau motor yang sudah dibeli ini hilang. Mereka tak akan lagi sekali-sekali membelikan motor buatnya.
Biarlah. Tak apa-apa. Nasri tetap bahagia, walau mesti berhadapan dengan syarat-syarat itu. Nasri masih beranggapan kalau ini wujud dari sebuah cinta.
Seiring dengan bergulirnya waktu. Wujud cinta orang tuanya semakin sulit tuk ia pahami. Perasaan itu muncul ketika ia minta izin dari orang tuanya tuk pindah dari kos ke masjid menjadi takmir. Nasri punya keyakinan kalau di masjid ia bisa semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Dia merasa ada yang mengganjal dari sikap dan perilakunya dari hari ke hari. Dia kerapkali meninggalkan salat. Sedangkan bila di masjid Nasri beranggapan bisa menjalin hubungan dengan Allah SWT serta membangun hubungan sesama manusia.
Nasri tetaplah Nasri. Dia mencoba mengalah. Dengan tetap tinggal di kos. Setelah hampir dua tahun Nasri bertahan dengan kos yang diinginkan orang tua. Dia kembali hadirkan sebuah penawaran baru yaitu pindah ke kontrakan. Namun orang tuanya tetap saja berdalih kalau Nasri mesti tinggal di kos sampai dia selesaikan kuliah.
“Kalau kali ini aku juga menyerah. Kapan kesempatanku tuk menang. Sampai kapan semua ini akan berakhir. Semoga aku selalu diberikan kekuatan oleh Tuhan tuk jalani semua ini. Maafkan aku Kalau gagal berjalan dengan jalanmu”



Yogyakarta, 10  Januari 2012


  

Senin, 12 Desember 2011

PENANTIAN BU MURTI DI PEREMPATAN SUBUH




HARI berlayar menuju senja. Bu Murti masih tampak duduk di balik tabir resah. Sunyi sendiri. Dia adalah seorang janda yang telah  ditinggal pergi suami sekitar tiga tahun yang lalu. Pergi tuk selamanya.
Anak semata wayang yang selalu dia sayang juga hanya bisa dikenang. Merantau hampir dua tahun menyeberangi selat sunda di tengah pulau Jawa, kota Yogyakarta. Seperanjat doa. Seonggok senyum bergelora di antara melodi rindu. Takut, cemas, serta bimbang berusaha dia tepis dengan sebuah ketegaran.

Foto yang kini tertempel di dinding kamar sering menjadi tempat pengaduan Bu Murti. “Ayah!...Apakah ayah baik-baik saja di sana? Nak!... Apakah kamu baik-baik juga di sana?  Kalau ibu baik-baik saja di sini.  Ibu merindukan kebersamaan di antara kita lagi”
Ibu Murti dikenal sebagai wanita yang sangat mencintai kedamaian dalam keluarga. Keharmonisan keluarga yang telah dia capai sebelumnya. Sulit tuk dikubur, apalagi dimusnahkan. Karena itu Bu Murti mempunyai suatu tekad. Tuk tidak menikah lagi. Bulat.
“Biar sunyi menghancurkan hatiku, aku akan tetap setia padamu”. Janji Bu Murti.
Ibu Murti memang dididik dari kelurga yang berkiblat pada kasih-sayang. Tak heran bila nama yang disandangnya menjadi buah dari sebuah perwujudan itu. Nama yang dibuat ayahnya ketika dia masih berumur tiga hari.  
Lengang petang, sunyi siang di ujung hari. Bu Murti  temukan kegelapan. Dia pun menuju kasur tuk hilangkan kepenatan, setelah sehari bekerja. Dia memang seorang wanita yang sangat dikagumi masyarakat di kampungnya. Suami Bu Murti boleh saja kini hanya tinggal nama di batu nisan. Tapi semangat suami tetap selalu hidup dalam jiwanya. Dengan kegigihan, Bu Murti masih mampu mewujudkan mimpi anak meniti mimpi di kota pendidikan.
Kini Bu Murti punya kesibukan mengurus perkebunan sawit yang dulu dia tanam bersama suami. Dulu, selain menggantungkan hidup di perkebunan sawit. Suami juga memiliki pemasukan sebagai guru honorer di sekolah berbasis agama setara dengan SD (Sekolah Dasar). Walau mungkin tak seberapa, tapi mereka merasakan kebarqahan dari apa yang dijalani suami  saat itu.
Pihak sekolah sebenarnya membolehkan Bu Murti, jika mau menggantikan posisi suaminya. Namun setelah ditimang-timang, pilihan Bu Murti tetap pada kebun sawit. Bu Murti mengerti kalau menjadi guru adalah perbuatan yang mulia, tapi di balik semua itu dia juga berpikir. Apa bisa dia mencukupi bea hidup serta memenuhi kebutuhan anaknya dari menjadi guru honorer yang hanya berpenghasilan Rp300.000 sampai Rp500.000? Itu juga kadang dibayar, kadang tidak.
Bila diambil kedua-dua. Dia berkeyakinan tak akan mampu menjalankannya. Karena dia juga punya pekerjaan di rumah. Akhirnya, keputusan Bu Murti bulat untuk memilih kebun sawit. Bu Murti punya kebun sawit seluas 2 ha dan setiap dua minggu Bu Murti mampu meraup hasil sekitar Rp2000.000 sampai Rp2500.000. Sudah sangat cukup untuk bea hidup dia dan anaknya. 
Ibu Murti kini masih berada di perampatan subuh tersebut. Sambil sesakali membayangkan kenangan-kenangan yang tersisa bersama suami dan anaknya. Matanya yang mulai rabun, tampak terkadang menyapa pepohonan yang ia pikir anaknya dan telinganya yang mulai pikun juga tak jarang mendengar suara panggilan suaminya. 
Ada peristiwa yang mengharukan di saat Bu Murti membayangkan anaknya. Di detik-detik kelahiran anaknya, Bu Murti sekeluarga sempat digegerkan kecemasan selama hampir 5 jam, ketika anaknya masih berada dalam kandungan. Hanya dibantu dukun, dia dan anaknya Alhamdulillah masih mampu diselamatkan. Tapi yang menjadi kepiluan Bu Murti sampai saat ini. Setelah kejadian itu, dia tak lagi bisa mengandung, karena janinnya diangkat. Demi keselamatan dia dan anaknya.
Dalam lelap tak jarang Bu Murti terbangun. Tangannya meraba ke samping, tapi hanya sebuah bantal guling. Di tengah resah dia rasakan kesejukan lantunan azan subuh. Bu Murti menoleh ke jam dinding yang berada persis di depan pintu kamar. Ditemukan jarum jam menukar titik ke angka 4. Dia bangun dari pembaringan menuju sumur. Baru sekitar lima langkah, kakinya terhenyak berhenti. Dia lihat sebuah kamar kosong tanpa penghuni. Kamar yang dulu sering dia hampiri tuk membangunkan anaknya.  Sebelum sampai di sumur.
Wajah Bu Murti terasa terbias ketika disentuh dengan bilasan air wudhu. Subuh memang waktu yang menyimpan berjuta kenangan buat Bu Murti. Dulu mereka selalu menjalankan salat subuh secara berjamaah. Bagi Bu Murti salat subuh adalah salat penyatuan. Tak ada waktu yang teramat dinanti selain waktu subuh. Di waktu subuh mereka bisa merasakan kebersamaan. Yang memang tak di dapat di waktu yang lain.
Di persimpangan subuh itulah Bu Murti terus menanti. Dipandangnya jalan di simpang kanan. Dibayangkan suaminya berada di sana. Kedamaian ia rasa. Tapi tatkala kepalanya di putar ke kiri. Menderuh di qalbu sebuah kecemasan. Bu Murti cemas kalau dia belum seutuhnya mampu mendidik anaknya. Takut anak berbelok ke arah yang salah. Lembah curam. Jurang.   
Doa sanjungan untuk sebuah keselamatan dunia-akhirat antara dia, suami dan anaknya  selalu menghiasi salatnya. Bu Murti memiliki pribadi tak kenal lelah. Tak peduli ada kabar dari sang anak atau tidak. Tak peduli walau anak masih berniat lewat atau tidak. Dia tetap duduk manis menanti. Satu keyakinan dan mimpi Bu Murti. Mereka dapat bersama-sama bergandeng tangan melewati simpang kanan.
Subuh pergi, hadirkan subuh yang baru. Bu Murti dengan tubuh dililit kain putih. Masih tetap bersimpuh diatas sejadah rohmah. Dengan penuh pengharapan dia tengadahkan dagu dan kedua tangannya, sembari berucap. “Ya Allah! Tunjukkan jalan yang benar buat anakku, janganlah buat dia bimbang menentukan arah tujuan, ketika berada di persimpangan jalan”
Bu Murti selalu bertanya setiap orang yang muncul dari simpang di mana anaknya pertama kali melangkahkab kakinya.
“Apa kamu pernah bersua anakku di sepanjang jalanmu?”.
Tak jarang kabar yang datang menghembuskan kepiluan. Meredupkan angan.  “Selama di sana saya tak pernah bersua dengan anak ibu. Sepanjang perjalanan yang saya tempuh, saya merasakan kesulitan melewati jalan yang becek dan penuh semak belukar”
“Apakah sepanjang jalan yang  kamu tempuh pernah menemukan orang yang terpeleset, sesat, bahkan mungkin terjatuh ke pinggir jurang?”
“Tentu ada Bu Murti! Teman-teman saya yang dulu sama-sama berangkat ke sana. Sekarang banyak yang bingung dan meraba-raba. Pas mau saya ajak pulang, ada yang bilang malu dan juga takut untuk melewati jalan ini kembali”. Sembari mengarahkan telunjuknya ke jalan yang baru saja ia lewati.
Di balik kabar yang buruk tersebut. Bu Murti juga temukan kedamaian yang mengalir. Kembali tuk menaruh harapan. Karena setiap dia menyambangi orang yang lewat. Tak semuanya ceritakan keburukan. Tapi bercerita juga tentang jalan yang halus, mulus, dan lurus. 
Sekarang Bu Murti hanya bisa diam di dua sisi. Baik atau buruk. Pilihan yang masih dianggapnya tepat yaitu ikut angin kebaikan. Walau dia sendiri hanya mampu mengenal anaknya dari depan. Belum sampai ke belakang. Dia tetap punya keyakinan, kalau anakku tak ubahnya seekor ikan di tengah lautan luas. 

Yogyakarta, 5 Agustus 2012

ADA ARTI SEBUAH NAMA



JEJAK terjang pria bernama Jakar selalu saja membuat orang gemas sekaligus menghela napas, apalagi ketika menyaksikan secara langsung tingkah laku konyolnya.  Saat pemilihan kepala desa (Pilkades) tahun 2009 aku sempat bertanya dalam bimbang, ketika panitia memanggil nama “Zakaria, Zakaria, Zakaria”. Ternyata  sosok yang membuatku penasaran tersebut muncul dengan nama Jakar.
“Loh! Inikan Jakar”. Lirihku dalam hati. Sejak saat itulah aku baru kenal, kalau Zakaria adalah Jakar.
Jakar hidup bersama isterinya Dijah dan dua buah hatinya Sam’un dan Nuruja   . Dia tinggal di sebuah rumah sederhana di Desa Tuo Ilir, Jambi. Ya! Jakar memang memiliki sebuah tempat berteduh di kala panas dan hujan serta bersandar di kala lelah. Namun orang-orang tetap saja memandang sebelah mata. Bukan karena rumah yang dimiliki Jakar tak gegap gempita, tapi karena hanya peninggalan mertua.  
Banyak orang berpendapat. “Kalau bukan karena mertua. Sampai  mati sekalipun Jakar pasti tak akan punya rumah”. Setelah mendengar beberapa keterangan dari orang-orang kampung.  Pernyataan mereka bisa jadi beralasan.
Adalah Pak Salim orang yang pertama kali menuangkan ceritanya. “Saat itu saya lagi sedang membangun rumah ini (Puak!... Menepakkan tangan ke lantai). Jakar datang kepada saya dengan berkata. Lim minta  genteng tiga  ya?”. Sambil mengarahkan muncung ke arah genteng yang dimaksud.
“Tuk apa ya Kar?”
“Tuk dimakan”
“Hah!...”
“Kamu ini gimana Lim, ya untuk memperbaiki genteng rumah saya yang bocor lah. Hehehe… Saya butuh cuma satu, tapi mana tahu nanti ada lagi yang bocor.  Saya kan tak mesti lagi datang ke sini”
Pak Salim sendiri tak mau diberi stempel sebagai orang pelit, hanya karena tiga buah genteng.
“Ooow! Ya ambil saja Kar. Lima juga tak apa-apa” (Mengangkat tangan kanan dan memperlihatkan jari –jari tangannya yang lima)
Ucapkan dua patah kata terima dan kasih. Jakar pun pergi.
Tak lama berselang setelah kejadian itu. Pak Salim kembali lagi mendapatkan tamu seorang Jakar.
Kali ini Pak Salim lagi disibukkan mengecat rumah. Karena tiga sampai empat hari ke depan Pak Salim akan segera mengajak keluarga pindah. Pada saat Pak Salim lagi duduk sejenak ditemani secangkir kopi hangat dan jagung rebus. Jakar datang dengan nada sedikit menimpali maksud tujuannya.
“Nampaknya sudah mau selesai rumahnya Lim”
“Alhamdulillah!... Rencana saya akan pindah kira-kira tiga sampai empat hari ke depan”
Belum sempat Pak Salim menawarkan kopi dan jagung rebus yang ada di depannya. Jakar sudah mengangkat cerek yang berisi air kopi dan jagung rebus Pak Salim yang masih tersisa dua biji dilahap habis sama Jakar.
Pak Salim yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa diam. Pak Salim bukan risih, karena harus kehilangan secangkir kopi dan jagung rebus. Tapi sikap Jakar itu yang membuat Pak Salim sedikit tak percaya. Cuek banget.
Tak sampai di situ. Jakar kembali melanjutkan aksi. “Di bagian depan rumah saya dindingnya agak  kusam, Lim. Boleh ya aku minta catnya?”. Kata Jakar dengan santai.
Pak Salim yang merasa tak enak, karena catnya sendiri sudah berada di tangan Jakar. Hanya mampu menganggukkan kepala.
“Terima kasih ya Lim. Kupergi dulu”
Selain Pak Salim ada Pak Tajudin yang pernah meredam amarah ketika melihat tingkah Jakar. “Menurut saya hanya dia orang di kampung ini punya prinsip. Cuma mau makan enak dan tidur nyenyak,tapi kerja tidak”
“Kenapa pula, Din?”. Jawab Pak Salim
“Sekitar empat tahun yang lalu saya pernah mengadu nasib di Kota Jambi. Sebagai buruh toko swalayan. Tak tahu pada waktu itu Jakar dapat informasi dari siapa. Dia tiba-tiba menelepon saya dan meminta untuk dicarikan pekerjaan. Terserah apa saja. Kebetulan sekali pada waktu itu. Di toko di mana saya bekerja lagi kekurangan karyawan. Saya langsung berbicara pada bos, kalau ada teman yang membutuhkan posisi tersebut. Bos segera mengiakan”
“Lalu?”
“Jakar sempat bekerja dua hari, namun tiba-tiba dia pulang dengan alasan anaknya sakit. Dengan memberikan uang seangka bekerja satu bulan, bos akhirnya mengizinkan ia pulang. Sempat bos sedikit tak percaya, tapi aku mencoba meyakinkan bos dengan mengorbankan aku sebagai tanggung jawabnya. Karena aku benar-benar sangat tersentuh ketika dia menceritakan anaknya sakit parah dan tak ada uang seribupun tuk berobat. Dia pulang dengan janji akan kembali setelah anaknya sembuh. Paling lambat satu minggu”
“Terus dia kembali atau tidak?”
“Hmmm! Tidak …dia hanya menjual rasa iba. Lima hari setelah itu aku baru tahu dari seorang teman, kalau Jakar masih ada di Kota Jambi dan anaknya yang dia bilang sakit, rupanya tak kenapa-kenapa. Sempat aku berencana untuk membuat perhitungan sama dia, tapi aku buru-buru disadarkan rasa maluku pada semua orang”
“Masalah tanggung jawabmu sama bos gimana, Din?”
“Mau tak mau aku harus menebusnya dengan satu bulan bekerja tanpa upah”
“Masya Allah! Sampai segitunya. Jakar memang sudah berbahagia di atas penderitaan orang lain”
“Sudahlah, yang lalu biarlah menjadi pengalaman kita”
“Benar!..Oh ya Din!..jadi ada benarnya selama ini kalau nama Jakar menjadi bulan-bulanan perkataan orang”
“Maksudmu?”
“Seringkan orang di kampung kita bilang, tak usah buat nama dari keluarga Jakar. Namanya boleh Jakar, tapi seperti tak punya zakar. Akibatnya orang mamaknai nama Jakar ‘jarang kerja’, isterinya Dijah  ‘diam saja’ dan dua anaknya Sam’un ‘sama untungnya’ serta Nuruja ‘nurut saja’.
“Wah! Kau mengingatkan aku pada novel ‘Romeo and Juliet’ karya Shakespeare. Ketika Romeo berkata pada Juliet, apalah arti sebuah nama? Mungkin ini jawabannya”.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Kisah Cintaku Bersama Dik Ulis

CERPEN PERDANA

Di lembar kertas putih bertinta hitam ini, kucoba untuk  memecahkan sebuah gumpalan bahtera perasaan yang bersemayam di dalam hatiku. Tahu nggak shobat. Menurutku hanya  'Dik Ulis’ lah something  yang slalu setia menemaniku, memang ia bukan seorang wanita yang membuatku tak  sanggup berkata dengan kecantikannya dan memang benar pula ia bukan bidadari yang membuatku seolah-olah tak mampu untuk tegak berdiri dengan pesonanya. Tapi satu hal yang perlu shobat garis bawahi atau kalau tak mau repot-repot pakai stabilo aja. He3x ... Alasanku memilih Dik Ulis yaitu, karena kemulian hatinya yang selalu menaburkan senyum di hatiku.
Dik Ulis tahu betul bagaimana  membawa suasana yang tenggelam menjadi hidup kembali, Dik Ulis  juga mengerti bagaimana bersikap ketika dalam keadaan euforia. Tak ada sikap dan kata sedikitpun yang menyisakan luka sepanjang petualangan cinta kami. Satu kata yang ingin kuucapkan, puji syukur kupanjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah mempertemukan ku bersama Dik Ulis.
Menurutku, dari dahulu yaitu sejak kuda lagi makan benalu dan sampai saat ini kuda sudah makan sphageti, cinta dik Ulis buatku tak akan lekang oleh panas serta tak akan lapuk karena hujan. Ceileee!... emang lebay sich kedengarannya, tapi mau diapain lagi, itulah perasaan yang terekam oleh kamera rasaku saat ini, buat ‘lampion jiwaku’ Dik Ulis tercinta.
Terkadang bisa juga dibilang aneh sich shobat, saking cintanya ia padaku, ia tak peduli aku mau pergi sama kekasih lain, kata Dik Ulis mah; jika abang sudah bosan sama ku, abang nggak apa-apa kock mau cari kekasih yang lain, yang penting abang selalu ingat denganku. Selingkuh membuat kita makin kukuh dan poligami menghiasi cinta kita supaya semakin bersemi. sambung Dik Ulis pula.  Amboi! enak kali rupanya pacaran sama Dik Ulis, ini dia kata-kata yang sudah kutunggu sejak kumulai bosan dengan pesona wajahmu, gumamku dalam hati.
Shobat-shobat pembaca mungkin nggak bakalan percaya, Dik Ulis nggak peduli loh shobat, apabila aku lagi pengen ngajak dia jalan-jalan, setiap saat dia pasti mau dan ketika aku tidak mau atau sudah bosan sama dia, Dik Ulis nggak ngomel-ngomel apa-apa, dia selalu tetap duduk manis menanti kedatanganku. Secara sepintas memang radah-radah aneh kedengarannya shobat. Tapi itu lah realita cintaku.
Aku sebagai seorang kekasihnya saja merasa ganjil tentang kejadian ini. Terkadang di tengah kesendirian pernah terlintas di pikiranku, kalau aku mesti harus benar-benar setia padanya, namun sungguh sayang, kesadaran itu hanya ‘nusebja’ alias numpang sebentar saja. Setelah itu pikiran kembali mengajakku bernostalgia dengan kekasih yang lain. Mungkin pantas kali ya, kalau aku diberi gelar ‘Bad Boy’.
Andai ditanya, apa benar kamu cinta sama Dik Ulis? Insya Allah dengan asma Allah dan juga kuasa-Nya kuberani berkata, bahwa aku juga cinta sama Dik Ulis. Namun ketika ditanya, apakah kamu benar-benar mau setia padanya?. Kesetianku selalu ada buat Dik Ulis , tapi ... maaf kalau di dalam kesetian ini, aku juga harus berbagi kesetian sama kekasih lain. Aku adalah seorang lelaki yang suka perselingkuhan, selingkuh itu indah.
Untuk melukiskan kebahagian yang tergambar di hatiku, mungkin hanya lewat untaian kata-kata ini, yang bisa kupersembahkan untuk Dik Ulis tercinta;
Dik Ulis! . . .
Kau memang sangat manis
Tatapan matamu bagaikan bola tenis
Hidungmu bak bola manggis
Dagumu laksana ulu keris
Aku rela mencarimu, walau kau berada di negeri perancis
Kau tak ajarkan padaku bagaimana bermuka sinis
Tapi kau ajarkan padaku bagaimana senyum, ketika aku dalam keadaan menangis
Hanya ini yang dapat kutulis
Untukmu Dik Ulis . . .
Dari sederetan panjang tentang kisah perjalanan cintaku sama dik Ulis. Waduh! gile yech kata-katanya seperti seorang sejarawan aje. Heee3x... Saat ini, bagiku sudah tak ada kata lagi yang bisa kuucapkan untuk melukiskan semua tentangnya. Kalau ku tak berlebihan pantas kiranya kupanggil dia; Annisya’ baldotun toyyibatun warobbun ghofur.  Upz ya! ada satu kata lagi, Fiddun ya wal akhiroh atau mungkin bisa juga kali ya kusebut dia Limited Edition. Busyet dech!
Aha! Tapi sayang shobat, dibalik semua kisah yang menyimpan berjuta senyuman tersebut. Kekuatan cinta kami mesti diuji dengan  bertubi-tubi kesenjangan serta permasalan, hingga akhirnya akupun dihantui oleh perasaan pesimis, membuatku harus terbaring kaku tanpa bahasa. Tepat pada tanggal 6 Agustus 2011, komunikasi antara kami mulai terputus, jangankan untuk membelai lembut rambut-rambut Dik Ulis dengan jemariku, tegur sapa pun tak terjalin saat kami berpapasan.  hubungan kasih  yang selama bertahun-tahun berjalan harmonis serta romantis, tak tahu kenapa harus berakhir miris.  Setiap hari kucoba untuk kembali mengambil hati Dik Ulis, namun karena luka yang terlalu menyakitkan, membuatku sulit untuk kembali menutup segumpal daging yang terlanjur teriris, karena dia sendiripun sudah menutup rapat-rapat hatinya untukku.         
Sebulan lebih lamanya ku harus jalani hari-hariku, hanya ditemani sunyi dan sepi. Dik Ulis yang selama memberi warna dalam setiap jejak langkahku, kini pergi bagaikan di telan kegelapan.
‘Allah tak akan menguji hamba-Nya, yang itu diluar kemampuanya’. Begitu lah kira-kira kata yang pertama teringat di benakku. Kamis, 15 September 2011 benar-benar merupakan sebuah tragedi bersejarah dalam dunia percintaanku, karena di hari, tanggal, bulan serta tahun ini  secara bertahap-tahap kukembali mendapatkan signal kasihku bersama Dik Ulis.
Shobat-shobat pembaca mungkin masih dihantui berbagai macam rasa penasaran atau mungkin ada yang mau mencoba merasakan gelora asmara seperti aku dan Dik Ulis.  Siapa sich sebenarnya Dik Ulis yang membuat lelaki yang bernama ‘Riadussolihin’ begitu mencintainya. Walau pada faktanya sendiri Dik Ulis harus diduain. Berdasarkan silsilah Dik Ulis mempunyai ayah yang bernama Abuku, sedangkan ibunya sendiri bernama Umica. Dik Ulis dilahirkan di  daerah Yogyakarta.
Konon pada saat itu aku lagi dipojok kesunyian terdiam bisu, Dik Ulis diam-diam datang menghiburku. Dengan senang bercampur keraguan kusambut ia dengan penuh keterbukaan. Mulai pada saat itulah tumbuh benih-benih cintaku pada Dik Ulis, singkat cerita akhirnya kupinang ia menjadi kekasihku.
Untuk menutup semua rasa penasaran pembaca pada Dik Ulis. Dik Ulis yang aku maksud disini adalah ‘Menulis’ yang aku singkat menjadi Ulis, Abusem sendiri berasal dari dua kata Abu dan Sem, sem sendiri adalah ‘semangat’, lalu karena dia berperan sebagai ayah, maka aku ambil Bahasa Arab dari ayah yaitu ‘Abu’. Sedangkan Umica berasal dari dua kata Umi dan Ca, Ca sendiri adalah ‘Membaca’ dan karena dia disebut sebagai ibu, maka aku ambil Bahasa Arab ibu yaitu Umi.  Jadi Dik Ulis yang dimaksud dalam kisah ini  adalah ‘menulis’.


Yogyakarta, 10 April 2011