Di sebuah desa
terpencil di daerah Jambi hiduplah seorang ibu janda bersama dua orang anaknya,
yaitu Si Supik berusia 7 tahun dan Si Kulup yang masih beranjak ke usia 1
tahun. Mereka tinggal di sebuah ladang
yang jauh dari hiruk pikuk keramaian serta kebisingan pedesaan. Hanya
suara-suara kicauan burung, kenakalan monyet, celoteh jangkrik dan keriuhan
binatang yang mereka jumpai. Sejak pagi membawa cahaya menjelang siang
menjemput Zuhur Sang Emak menghabiskan waktunya
di ladang dengan bercocok tanam sayur-sayuran, sehabisnya ia
bercengkraman dengan kedua buah hatinya. Dia amat mencintai Si Supik dan juga
Si Kulup.
Siang itu cahya mentari seakan tak
kuasa tuk menembus awan-awan hitam yang melingkupinya, sepertinya panas akan
luntur dalam misi penyemprotan langit. Tiba-tiba saja Sang Emak mendapatkan
seekor belalang rusa yang hinggap di dedaunan sayur. Belalangnya besar sekali,
hingga akhirnya ia memanggil Si Supik untuk mengambil belalangnya tersebut,
lalu memasaknya sebagai lauk makan siang.
“Pik! Ini Emak ado dapat belalang.
Tolong kau masak yo. Emak ndak nyudahin kerjo iko. O yo, Pik!…Kalau kalian ndak
makan, makan ajo dulu samo adik, tapi kau sisoin sedikit yo belalangnyo buat
Emak”
“Yo Emak!...”Si Supik balik ke
pondok.
Tak lama berselang setelah memasak,
si adik terbangun dari atas buaiannya. Binar wajahnya seolah tampak ingin
menangis, karena saat membuka mata yang terlihat sosok seorang kakak, bukan
Emaknya. Muka masamnya juga mencerminkan kalau ia terlihat lapar dan haus. Si
kakak yang sudah terbiasa dengan keadaan tersebut buru-buru membujuk sambil
memberikan sedikit belalang yang tadi dimasak.
Benar si adik tak jadi menangis. Tapi ia
meminta belalang lagi. Si Supik memanggil ibunya. “Emak adik ndak makan
belalangnyo lagi, cak mano Emak?”
“Yo sudah kau kasih ajo lagi”
Berulangkali kemauan yang sama dari
Si Kulup memaksa Si Supik bertanya dan melahirkan jawaban yang hampir sama dari
Sang Emak. Tanpa disadari belalang habis tanpa sisa sedikit pun.
Suara gemuruh saling sahut-menyahut bersama sesekali petir menyambar
mengisyaratkan langit tak main-main untuk membasahi bumi. Sang Emak janda
buru-buru mengambil parang dan tajak, lalu bergegas menuju pondoknya.
Sehabis mencuci kaki dan tangan,
berikut wajahnya. Ia melakukan penjamuan perutnya, sudah terbayang di benaknya
kenikmatan belalang yang tadi didapat. Tapi alangkah kagetnya hanya mendapati
sayur tumis beserta nasi. Tak ada belalang di sana. Dia sangat kecewa, namun
Sang Emak tak melampiaskan sakit hatinya dengan caci maki atau umpatan,
melainkan menyuruh Si Supik untuk mencuci kain sutra hingga berwarna putih di
sungai. Sebelum kainnya benar-benar berwarna putih ia tak boleh kembali ke
pondok.
Si Supik menuruti permintaan Emaknya,
tanpa ada rasa curiga sedikit pun. Sedangkan Si Kulup setelah sejenak disusuin,
ia letakkan di atas buaian dan dinyanyikan hingga ia tertidur pulas. Merasa
berhasil dengan rencananya, Si ibu pun berlari sejauh-jauhnya meninggalkan
kedua buah hatinya tersebut. Kekecewaan yang teramat memudarkan kasih
sayangnya.
Beruntung Si Supik yang telah
berjam-jam di sungai diberitahu oleh seekor pungguk kalau Emak mereka telah
meninggalkan mereka. Dan pergi entah kemana. Mendengar kabar demikian ia segera
mengambil adiknya, lalu berlari sambil mengendong adiknya. Berjalan menyusuri
semak hingga tak jarang harus terjatuh. Tak ada jejak-jejak kaki yang bisa
mengantarkannya kepada perjumpaan pada Sang Emak, karena buru-buru dihapus oleh
hujan. Hanya sisa rintik-rintik yang mulai mengambil nada dengan tangisnya.
Hujan kini telah membubarkan diri.
Jalanan yang becek semakin memupus harapan Si Supik dan Si Kulup untuk
bertemu Emaknya. Tak tahu lagi harus kemana, sedangkan senja mulai merabakan
pandangan. Tapi Tuhan berkata lain, dalam keputuasaan Si Supik melihat sesosok
orang memasuki batu yang terlihat sedang menganga. Dia yakin betul itu adalah
Emaknya.
Sontak saja ia berlari menuju batu
tersebut, namun sayang begitu mendekat batu menutup rapat. Si Supik dan Si
Kulup hanya sempat menarik secarik rambut Emaknya. Dari dalam batu sayup-sayup
terdengar pesan dari Sang Emak; “kalian pulanglah kembali ke pondok, bilo ndak
berjumpo emak tanamlah secarik rambut itu di laman depan pondok
kito. Setelah nanti bertahun-tahun rambutnyo akan tumbuh gedang hinggo mencapai
langit. Kalian naiklah ke langit melalui rambut itu, lalu kito akan samo-samo
bersuo di sano.”
Catatan; Dongeng/Nande
(Bahasa Jambi) ini kerap dibawakan oleh Ebak saat aku berusia 2-5 tahun.
Waktu itu dongeng menjadi fantasi sebelum aku menceburkan diri dalam kelelapan.
Dongeng ini ibarat nostalgia dari beragam dongeng yang disuguhkannya. Terima
kasih Ebak!
Emak= Ibu, Ebak= Ayah,
Supik= Panggilan sayang pada anak perempuan, Kulup= Pamggilan sayang pada anak
laki-laki.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar