Sabtu, 04 Mei 2013

DONGENG “ Secarik Rambut dari Sang Emak”



            Di sebuah desa terpencil di daerah Jambi hiduplah seorang ibu janda bersama dua orang anaknya, yaitu Si Supik berusia 7 tahun dan Si Kulup yang masih beranjak ke usia 1 tahun. Mereka tinggal di sebuah ladang  yang jauh dari hiruk pikuk keramaian serta kebisingan pedesaan. Hanya suara-suara kicauan burung, kenakalan monyet, celoteh jangkrik dan keriuhan binatang yang mereka jumpai. Sejak pagi membawa cahaya menjelang siang menjemput Zuhur Sang Emak menghabiskan waktunya  di ladang dengan bercocok tanam sayur-sayuran, sehabisnya ia bercengkraman dengan kedua buah hatinya. Dia amat mencintai Si Supik dan juga Si Kulup.
            Siang itu cahya mentari seakan tak kuasa tuk menembus awan-awan hitam yang melingkupinya, sepertinya panas akan luntur dalam misi penyemprotan langit. Tiba-tiba saja Sang Emak mendapatkan seekor belalang rusa yang hinggap di dedaunan sayur. Belalangnya besar sekali, hingga akhirnya ia memanggil Si Supik untuk mengambil belalangnya tersebut, lalu memasaknya sebagai lauk makan siang.
            “Pik! Ini Emak ado dapat belalang. Tolong kau masak yo. Emak ndak nyudahin kerjo iko. O yo, Pik!…Kalau kalian ndak makan, makan ajo dulu samo adik, tapi kau sisoin sedikit yo belalangnyo buat Emak”
            “Yo Emak!...”Si Supik balik ke pondok.
            Tak lama berselang setelah memasak, si adik terbangun dari atas buaiannya. Binar wajahnya seolah tampak ingin menangis, karena saat membuka mata yang terlihat sosok seorang kakak, bukan Emaknya. Muka masamnya juga mencerminkan kalau ia terlihat lapar dan haus. Si kakak yang sudah terbiasa dengan keadaan tersebut buru-buru membujuk sambil memberikan sedikit belalang yang tadi dimasak.
             Benar si adik tak jadi menangis. Tapi ia meminta belalang lagi. Si Supik memanggil ibunya. “Emak adik ndak makan belalangnyo lagi, cak mano Emak?”
            “Yo sudah kau kasih ajo lagi”
            Berulangkali kemauan yang sama dari Si Kulup memaksa Si Supik bertanya dan melahirkan jawaban yang hampir sama dari Sang Emak. Tanpa disadari belalang habis tanpa sisa sedikit pun.  
            Suara gemuruh saling sahut-menyahut  bersama sesekali petir menyambar mengisyaratkan langit tak main-main untuk membasahi bumi. Sang Emak janda buru-buru mengambil parang dan tajak, lalu bergegas menuju pondoknya.
            Sehabis mencuci kaki dan tangan, berikut wajahnya. Ia melakukan penjamuan perutnya, sudah terbayang di benaknya kenikmatan belalang yang tadi didapat. Tapi alangkah kagetnya hanya mendapati sayur tumis beserta nasi. Tak ada belalang di sana. Dia sangat kecewa, namun Sang Emak tak melampiaskan sakit hatinya dengan caci maki atau umpatan, melainkan menyuruh Si Supik untuk mencuci kain sutra hingga berwarna putih di sungai. Sebelum kainnya benar-benar berwarna putih ia tak boleh kembali ke pondok.
            Si Supik menuruti permintaan Emaknya, tanpa ada rasa curiga sedikit pun. Sedangkan Si Kulup setelah sejenak disusuin, ia letakkan di atas buaian dan dinyanyikan hingga ia tertidur pulas. Merasa berhasil dengan rencananya, Si ibu pun berlari sejauh-jauhnya meninggalkan kedua buah hatinya tersebut. Kekecewaan yang teramat memudarkan kasih sayangnya.
            Beruntung Si Supik yang telah berjam-jam di sungai diberitahu oleh seekor pungguk kalau Emak mereka telah meninggalkan mereka. Dan pergi entah kemana. Mendengar kabar demikian ia segera mengambil adiknya, lalu berlari sambil mengendong adiknya. Berjalan menyusuri semak hingga tak jarang harus terjatuh. Tak ada jejak-jejak kaki yang bisa mengantarkannya kepada perjumpaan pada Sang Emak, karena buru-buru dihapus oleh hujan. Hanya sisa rintik-rintik yang mulai mengambil nada dengan tangisnya.
            Hujan kini telah membubarkan diri. Jalanan yang becek semakin memupus harapan Si Supik dan Si Kulup untuk bertemu Emaknya. Tak tahu lagi harus kemana, sedangkan senja mulai merabakan pandangan. Tapi Tuhan berkata lain, dalam keputuasaan Si Supik melihat sesosok orang memasuki batu yang terlihat sedang menganga. Dia yakin betul itu adalah Emaknya.
            Sontak saja ia berlari menuju batu tersebut, namun sayang begitu mendekat batu menutup rapat. Si Supik dan Si Kulup hanya sempat menarik secarik rambut Emaknya. Dari dalam batu sayup-sayup terdengar pesan dari Sang Emak; “kalian pulanglah kembali ke pondok, bilo ndak berjumpo emak tanamlah secarik rambut itu di laman depan pondok kito. Setelah nanti bertahun-tahun rambutnyo akan tumbuh gedang hinggo mencapai langit. Kalian naiklah ke langit melalui rambut itu, lalu kito akan samo-samo bersuo di sano.”   

Catatan; Dongeng/Nande (Bahasa Jambi) ini kerap dibawakan oleh Ebak saat aku berusia 2-5 tahun. Waktu itu dongeng menjadi fantasi sebelum aku menceburkan diri dalam kelelapan. Dongeng ini ibarat nostalgia dari beragam dongeng yang disuguhkannya. Terima kasih Ebak!
Emak= Ibu, Ebak= Ayah, Supik= Panggilan sayang pada anak perempuan, Kulup= Pamggilan sayang pada anak laki-laki.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar