****
USIAKU kira-kira 16
tahun waktu dipertemukan pada seorang guru yang kuanggap konyol, nyeleneh, dan
tak biasa. Hampir sepanjang harinya ia memakai sarung, peci putih, dan baju
kokoh. Seolah seragam kebesarannya. Tak peduli itu berpergian jauh dengan sepeda
atau pesawat, bicara di depan seorang konglomerat atau rakyat melarat.
“Kau
tahu kenapa Nabi Khidir tak seagung Nabi Musa? Nabi Khidir tak masuk dalam 25
Nabi yang diimani, apalagi 5 Rasul seperti halnya Nabi Musa AS, padahal Nabi
Musa AS disuruh berguru oleh Tuhan sama Nabi Khidir. Apa perbedaan antara kedua
Nabi tersebut?
“Mungkin
karena Nabi Musa lebih diyakini Tuhan punya kemampuan untuk memimpin umat”.
Ah!...Tak tahu lah. Menurutmu bapak apa?
Jawaban
bisa saja kau dapat dari tayangan di telivisi, berita di koran, atau dari kesaksian
mata-kepalamu sehari-hari. Tentang guru ngaji yang memperkosa tiga muridnya
yang masih belia. Tentang guru yang memberi ancaman tidak mengeluarkan ijazah
hanya karena ingin menikmati tubuh muridnya. Tentang 5 bocah laki-laki yang duduk di bangku SD yang memperkosa si bocah perempuan. Tentang guru yang dimutasi hanya karena memarahi si anak pejabat. Tentang guru yang membalsem mata
siswinya hanya karena dicurigai mencontek. Tentang guru yang menyebarkan kunci
jawaban hanya karena takut kejelekan sekolahnya semakin terlihat atau tentang apapun
itu. Nabi Khidir mengajarkan kalau kerendahan dan kesalahan tidak melulu
dipersepsikan ‘tidak baik’. Termasuk apa yang dipikirkan tentang dia.
Seorang
bapak berperawakan lembut namun tegas tersebut kembali mempercundangiku dengan
pertanyaannya. Akankah pula kau sadari kenapa Nabi Musa tak jauh lebih cerdas
dari Nabi Khidir?
“Tak
tahu, mungkin karena Nabi Khidir lebih tua, jadi sudah banyak belajar, banyak
pengalaman, banyak pula akalnya” Jawabku semakin tak mengerti.
“Perbedaannya seperti kita berdua. Aku
bertanya dan kau hanya menjawab, padahal kau merasa dirimu lah yang bertanya” Dia
memancingku tuk memperpanjang pertanyaan siang itu.
“Maksudnya?
Bapak pikir dengan pertanyaan, pertanyaan, dan pertanyaan kita selalu mendapatkan
jawaban yang tepat? Bagaimana dengan kisah Nabi Musa As dalam surat Albaqarah
tentang Bani Israil yang disuruh mencari seekor sapi betina? Bukankah
pertanyaan membuatnya semakin mampus ?” Aku tantang dia.
“O!
Jadi kau merasa orang yang bertanya adalah orang yang tak mengerti jawaban,
orang yang bodoh. Nabi Musa mendapatkan jawaban atas kekonyolan yang diperbuat
Nabi Khidir itu diawali pertanyaan. Bani Israil mendapatkan jawaban atas kekonyolan
yang dilakukan Nabi Musa itu karena pertanyaan. Walau tanpa mereka sadari
mereka sebenarnya yang konyol”.
****
GURU
yang mengajarkanku kekonyolan tersebut sebelumnya adalah seorang ustadz di
pondok pesantren ternama. Dia mempunyai darah batak, sedangkan desaku tak sedikitpun
berbau batak. Tapi tak tahu kenapa dia lebih memilih untuk mendiami kampungku,
padahal jangankan untuk mengisi periuk nasi, proses belajar mengajar saja berkejaran
dengan waktu. Jika anak-anak Madrasah Ibtidaiyah menggunakannya ketika jarum
jam menghampiri titik 13.00, maka kami harus mengawasi waktu supaya tak menabrak
angka tersebut. Dia konyol.
Dia
tak mendelik bak sekedip pun tentang celotehan orang. Ketika semua putera
daerah yang berpendidikan memilih hijrah ke luar kampung. Dengan santai ia menanggapi;
“mano adolah orang ngato-ngatoin kito,
yang ado kito sendiri yang memperbesar masalahnyo, sekironyo pun ado ngapoin pulo
kito tanggapin serius” Jawab beliau dengan dialek Jambi yang terkesan
memaksa.
“Kalau
kau sabar kau akan memahami apa itu kekonyolan” Sambungnya pula.
Bukan
hanya itu. Dua tahun yang lalu kudengar dia menolak diangkat menjadi PNS alias
Pegawai Negeri Sipil, padahal dia punya istri dan dua anak yang menantikan
mainan, baju baru atau makan di restoran. Anehnya lagi, gaji honorer yang
alakadarnya ia sisihkan untuk mencicil pembangunan gedung sekolah. Jika aku
kembali dipertemukan dengannya akan kutanyakan tentang ini.
****
Aku
hampir mengakhiri strata satuku dan dia tampak tak sedikitpun mengakhiri
kekonyolannya. Bahkan baru-baru ini ditawari menjadi anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah untuk menggantikan posisi yang ditinggali temannya dan dia juga
menolak. Padahal aku tahu betul, andai saja dia menerimamya ia pasti bisa membuatkan
gedung sekolah yang megah, melancong ke luar negeri, mengendarai mobil yang
mewah. Dia benar-benar manusia konyol.
Lagi
dan lagi dia berulah. Mendadak dia menggodam 2 keramik bergambar ka'bah dari 3
gambar yang terpasang di dinding belakang mimbar. Sebuah tindakan yang tak
pernah dikomunikasikan terlebih dahulu sama masyarakat. Sontak saja ia semakin
dikecam sebagai guru yang konyol. Ketika aku ajukan pertanyaan tentang semua
kekonyolan yang ia perbuat. Dia menyuruhku memotong lidahku dan memukul ke
tubuhnya.
NB:
Kisah ini terinspirasi dari seorang guru MTs di kampungku. Aku pikir beliau hidup
dalam kesederhanaan. Salah satu kesederhanaan yang teramat kukenang adalah cara
beliau berpikir. Lalu kisahnya aku kaitkan dengan kisah Nabi Musa dan Nabi
Khidir dalam surat Al-kahfi, selanjutnya diakhiri kisah Nabi Musa beserta Bani
Israil dalam dalam surat Al-baqarah.
Yogyakarta, 30 Maret
2013

sebelumnya minta maaf, karena komentarku kali ini mungkin terasa lebih pahit daripada biasanya. tapi, obat yang manjur itu biasanya pahit kan?
BalasHapus1) cerpenmu ini seperti tampilan blogmu. tidak ada fokus. semua ingin ditonjolkan. pembaca jadi bingung.
2) hanya bagus penampilannya, isinya tidak. sorry, ralat: penampilannya juga tidak bagus-bagus amat. masih ada kesalahan teknis, misalnya ejaan.
3) pengaitan khidir dengan tokoh guru terkesan dipaksakan. kalau cerita khidir dibuang, cerpen ini lebih bernilai sastra.
4) tips berikut dianjurkan untuk dicoba. sebelum menulis, bikin kerangka tulisan dulu. tentukan mana fokusnya. buat alurnya. memang benar, ada penulis yang menulis tanpa menyusun kerangka tulisan dulu. namun sebenarnya, sebelum menulis, mereka telah menyusun kerangka tulisan di dalam kepalanya. bawah saat menulis kerangka tulisan yang telah disusun itu dibongkar dan dipugar, itu soal lain. penulis tidak dapat sepenuhnya mengontrol perkembangan dan arah logika cerita.
5) kritik yang produktif adalah kritik yang berasal dari diri sendiri. menerima kritik dari orang lain merupakan perjuangan yang berat. maka silakan evaluasi sendiri cerpenmu ini, dengan menggunakan teori prosa fiksi yang dipaparkan suminto a. sayuti sebagai acuannya.