ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN BATU GINJAL
(UROLITIASIS)

Oleh
:
KELOMPOK
A
1. Yunita
Agustini (09130034)
2. Ririn
Sukma Wardani (09130035)
3. Nur
Ajizah (09130039)
4. Randy
Repodesalta (09130042)
5. Riadussolihin
(09130050)
6. Ngakan
Gede Nugraha (09130076)
7. A.
A. Istri Sukmaningsih (09130077)
8. Maria
Paulina Nahak (09130086)
9. Aprillino
Barnes (09130089)
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah Asuhan Keperawatan Pada
Pasien Dengan Batu Ginjal dapat terselesaikan. Makalah ini saya susun
berdasarkan beberapa sumber dari buku dan internet. Adapun tujuan pembuatan
makalah ini diantaranya untuk melengkapi nilai tugas akhir semester pendek. Selain itu
makalah ini saya susun dengan harapan dapat memberikan manfaat untuk pembaca dalam memahami
definisi, penyeba, tanda gejala dan penatalaksanaan medis pada pasien dengan Batu
Ginjal.
“Tak ada gading
yang tak retak” Begitu pula dengan makalah yang saya susun ini masih jauh dari
kesempurnaan.. Oleh sebab itu saya harapkan kritik dan saran yang konstruktif
dari pembaca untuk perbaikan kedepannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua, terutama bagi Mahasiswa Keperawatan.
Yogyakarta, 10 Juli 2012
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………………………………………………………………i
Daftar Isi ………………………………………………………………ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar belakang ……………………………………………………………… 1
B.
Tujuan ………………………………………………………………
2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.
Definisi ………………………………………………………………
3
B.
Penyebab ………………………………………………………………
3
C.
Tanda dan Gejala ……………………………………………………… 6
D.
Penatalaksanaan Medis ……………………………………………… 7
E.
Patofisiologi ……………………………………………………………… 7
F.
Pathway ………………………………………………………………
9
G.
Masalah Keperawatan ……………………………………………………… 10
BAB III KASUS
A.
Kasus ………………………………………………………………
12
B.
Pengkajian ……………………………………………………………… 16
C.
Analisa Data ……………………………………………………………… 21
D.
Prioritas Diagnosa ……………………………………………………… 22
E.
Perencanaan ……………………………………………………………… 23
F.
Implementasi dan Evaluasi ……………………………………………… 27
BAB IV PENUTUP
A.
Simpulan ………………………………………………………………
31
B.
Saran ………………………………………………………………
31
Daftar Pustaka ………………………………………………………………
32
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Batu
ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman
Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi.
Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem
kaliks ginjal, pielum, ureter, kandung kemih
dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke
saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah
karena adanya stasis urine seperti pada batu kandung kemih (VU) karena hiperplasia prostat atau batu
uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra.
Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di
tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan
bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran
kemih yang paling sering terjadi
(Purnomo, 2000, hal. 68-69)
Penyakit
batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara berkembang
banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai
batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi
status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di
seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu saluran kemih.
B.
Tujuan
1.
Tujuan
Umum
Mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada
klien dengan batu ginjal
2.
Tujuan
Khusus
a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi konsep
asuhan keperawatan pada klien dengan batu ginjal meliputi: definisi batu ginjal , penyebab batu
ginjal , tanda dan gejala batu ginjal , patofisiologi batu ginjal dan masalah yang biasa muncul pada klien
dengan batu ginjal .
b. Mahasiswa dapat mengidentifikasi asuhan pada
klien dengan batu ginjal meliputi
pengkajian, analisa data, prioritas diagnose, rencana keperawatan dan evaluasi.
c.
Mahasiswa
dapat melaksanakan asuhan keperawatan peda klien dengan batu ginjal meliputi pengkajian, analisa data, prioritas
diagnose, rencana keperawatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Batu
ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,
infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks
ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi (Purnomo, 2000, hal. 68-69)
Batu ginjal atau kalkulus adalah batu yang
terdapat di saluran kemih, batu yang sering dijumpai tersusun dari
Kristal-kristal kalsium (Elizabeth J. Corwin, 2009). Batu ginjal atau kalkulus
adalah bentuk deposit mineral, paling umum oksalat Ca2+ dan fosfat
Ca2+, namun asam urat dan Kristal juga pembentuk batu dalam saluran
kemih, batu ini umumnya ditemukan pada pelvis dan kalik ginjal (Marilynn E.
Doenges dkk, 1999)
B. Penyebab
Penyebab
terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran
urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan
lain yang masih belum terungkap (idiopatik).
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor
yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor
intrinsik dan faktor ekstrinsik.
Faktor intrinsik, meliputi:
1.
Herediter : diduga dapat diturunkan dari generasi ke
generasi.
2.
Umur : paling sering
didapatkan pada usia 30-50 tahun
3.
Jenis kelamin : jumlah pasien pria 3
kali lebih banyak dibanding pasien wanita.
Faktor ekstrinsik, meliputi:
1.
Geografi : pada beberapa
daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi daripada daerah lain
sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu)
2.
Iklim dan temperatur
3.
Asupan air : kurangnya asupan air
dan tingginya kadar mineral kalsium dapat meningkatkan insiden batu saluran
kemih.
4.
Diet : diet tinggi purin,
oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran kemih.
5.
Pekerjaan : penyakit ini
sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas
fisik (sedentary life).
Batu Kalsium
Batu kalsium (kalsium oksalat dan atau
kalsium fosfat) paling banyak ditemukan yaitu sekitar 75-80% dari seluh batu
saluran kemih. Faktor tejadinya batu kalsium adalah:
1.
Hiperkasiuria:
Kadar kasium urine
lebih dari 250-300 mg/24 jam, dapat terjadi karena peningkatan absorbsi kalsium
pada usus (hiperkalsiuria absorbtif),
gangguan kemampuan reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal (hiperkalsiuria renal) dan adanya
peningkatan resorpsi tulang (hiperkalsiuria
resoptif) seperti pada hiperparatiridisme primer atau tumor paratiroid.
2.
Hiperoksaluria:
Ekskresi oksalat
urien melebihi 45 gram/24 jam, banyak dijumpai pada pasien pasca pembedahan
usus dan kadar konsumsi makanan kaya oksalat seperti the, kopi instan, soft
drink, kakao, arbei, jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama bayam.
3.
Hiperurikosuria:
Kadar asam urat
urine melebihi 850 mg/24 jam. Asam urat dalam urine dapat bertindak sebagai
inti batu yang mempermudah terbentuknya batu kalsium oksalat. Asam urat dalam
urine dapat bersumber dari konsumsi makanan kaya purin atau berasal dari
metabolisme endogen.
4.
Hipositraturia:
Dalam urine, sitrat
bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat sehingga menghalangi ikatan
kalsium dengan oksalat atau fosfat. Keadaan hipositraturia dapat terjadi pada
penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau pemakaian diuretik
golongan thiazide dalam jangka waktu lama.
5.
Hipomagnesiuria:
Seperti halnya dengan sitrat, magnesium
bertindak sebagai penghambat timbulnya batu kalsium karena dalam urine
magnesium akan bereaksi dengan oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah
ikatan dengan kalsium dengan oksalat. . (Purnomo, 2000)
Teori
pembentukan batu : (Mansjoer, dkk; 2000)
a.
Teori
inti (nucleus) : Kristal dan benda asing merupakan tempat pengendapan kristal
pada urin yang sudah mengalami supersaturasi.
b.
Teori
matriks : matriks organic yang berasal dari serum atau protein-protein urin
memberikan kemungkinan pengendapan kristal.
c.
Teori
inhibitor kristalisasi : beberapa substansi dalam urine menghambat terjadinya
kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau absenya substansi ini memungkinkan
terjadinya kristalisasi.
Pembentukan batu membutuhkan supersaturasi
dimana supersaturasi itu bergantung pada pH urin, kekuatan ion, konsentrasi
cairan dan pembentukan kompleks.
Batu kalsium dapat disebabkan oleh :
a.
Hiperkalsiuria
absorptif : gangguan absobsi usus yang beerlebihan juga pengaruh vitamin D dan
hiperparatiroid.
b.
Hiperkalsiuria
renalis : Kebocoran pada ginjal.
Batu oksalat dapat disebabkan oleh :
a.
Primer
autosomal resesif
b.
Ingesti-Inhalasi
: Vitamin.C, ethylene glycol, methoixyflurane, anastesi.
c.
Hiperoksaloria
enternik : inflamasi saluran pencernaan, reseksi usus halus, bypass
jejunoileal, sindrom malabsobsi.
Batu asam urat dapat disebabkan oleh :
a.
Makanan
yang banyak mengandung purin
b.
Pemberian
sitostatik pada pengobatan neoplasma
c.
Dehidrasi
kronis
d.
Obat-obatan
: tiazid, lasix, salisilat.
(Mansjoer, dkk;
2000)
C. Tanda
dan Gejala
(Elizabeth
J. Corwin, 2009)
a.
Nyeri.
Sering bersifat kolik atau ritmik, terutama bila batu terletak di ureter atau
dibawah. Nyeri dapat terjadi secara hebat tergantung dari lokasi letak batu
b.
Batu di
ginjal dapat menimbulkan obstruksi atau infeksi
c.
Hematuria. Disebabkan oleh iritasi dan cidera
struktur ginjal yang disertai batu
d.
penurunan
pengeluaran urin
e.
terjadi
obstruksi aliran pengenceran urin karena kemampuan ginjal memekatkan urin
terganggu oleh pembengkakan yang terjadi disekitar kapiler peritubulus
(Marilynn E. Doenges dkk, 1999)
a.
Aktivitas
atau istirahat : pekerjaan monoton, keterbatasan aktivitas atau imobilisasi
b.
Sirkulasi
: peningkatan tekanan darah, peningkatan nadi, kulit hangat dan kemerahan ,
pucat
c.
Eliminasi
: riwayat ISK kronis, obstruksi sebelum kalkulus, penurunan haluaran urin,
kandung kemih penuh, rasa terbakar, dorongan berkemih meningkat, diare,
oliguria, hematuria, piuria, perubahan pola berkemih
d.
Makanan
dan cairan : mual muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi piurin, kalsium
oksalat dan fosfat, ketidakcukupan pemasukan cairan, kurang nya minum yang
cukup, distensi abdominal, penurunan bising usus.
e.
Nyeri :
akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi tergantung pada lokasi batu, perilaku
distraksi, nyeri tekan pada ginjal saat di palpasi
f.
Keamanan
: riwayat penggunaan alkohol, demam, menggigil
D. Penatalaksanaan
Medis
(Elizabeth J. Corwin, 2009)
a.
peningkatan
asupan cairan meningkatkan aliran urin dan membantu mendorong adanya batu
b.
modifikasi
makanan yang dapat mengurangi kadar pembentuk batu bila kadungan batu
teridentifikasi
c.
ubah pH
urin sedemikian untuk meningkatkan pemecahan batu
d.
litotripsi
(terapi gelombang kejut) ekstrakorporeal/ di luar tubuh atau terapi laser yang
digunakan untuk memecah batu
e.
Bila
diperlukan lakukan tindakan bedah untuk mengangkat batu yang besar atau untuk
meningkatkan setelah disekitar batu untuk mengatasi obstruksi
E. Fatofisiologi
Batu ginjal dapat
disebabkan oleh peningkatan pH urin (misalnya batu kalsium bikarbonat) atau
penurunan ph Urin (batu asam urat). Konsentrasi bahan-bahan pembentuk batu yang
tinggi didalam darah dan urine serta kebiasaan makan atau konsumsi obat
tertentu, juga dapat merangsang pembentukan batu sehingga menghambat aliran
urin dan menyebabkan stasis atau tidak ada pergerakan urin dibagian manapun
dari saluran kemih sehingga terjadi kemungkinan pembentukan batu (Elizabeth J. Corwin, 2009)
Batu
saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran
kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi
urine atau keluhan miksi yang lain sedangkan pada batu saluran kemih bagian
atas dapat menyebabkan hidroureter atau hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di
dalam saluran kemih dapat menimbulkan infeksi, abses ginjal, pionefrosis,
urosepsis dan kerusakan ginjal permanen (gagal ginjal). (Price & Wilson ,
1995)
Batu
Saluran Kemih
|
Infeksi
|
Hidronefrosis
Hidroureter
|
Pionefrosis
Urosepsis
|
Pielonefritis
Ureritis
Sistitis
|
Obstruksi
|
Gagal
Ginjal
|
F. Pathway
Dx Nyeri akut
|
Herediter
:
-Lingkungan
-Pekerjaan
-Diet tinggi kalsium
-Jumlah minum
|
Tinggal di pelvis
|
obstruksi
|
Membentuk batu
|
Batu kecil
|
Lolos kedalam ureter
melalui urin
|
kristalisasi
|
Kelainan
biokimia urine
|
Batu besar
|
Super
saturasi
|
Inhibitor Kristal pH urin
|
Meningkatnya zat Ca, Mg, F,
dan ginjal
|
Komplikasi :
-Gangguan
eliminasi urin
-gagal
ginjal akut maupun kronis
pielonefritisuremia |
Infeksi /UTI
|
uritritis
|
Panas/nyeri
|
Refluk urin
|
Hidronefrosis
|
Retensi urin
|
mengiritasi
|
Gagal ginjal
|
Perforasi
ginjal
|
Dx Gangguan eliminasi
urin
|
Hematuria
|
Dx Penurunan Volume cairan
|
perdarahan
|
Ureum
meningkat
|
Dx Intoleransi aktivitas
|
Dx Perubahan status nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
|
Penurunan
BB
|
pH urin
|
G. Masalah keperawatan
(Marilynn E. Doenges, dkk., 1999 dan Judith
M. Wilkinson, 2002) )
1.
nyeri
akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi atau dorongan kontraksi ureteral,
trauma jaringan, pembentukan edema, iskemik seluler.
Intervensi :
1)
Kaji
karakteristik nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, intensitas, factor presipitasi)
Rasional
: Membantu mengevaluasi adanya nyeri untuk menunjukkan tempat obstruksi dan
kemajuan kalkulus
2)
Kaji
TTV (tekanan darah, nadi, suhu, TTV)
Rasional
: mengetahui tanda-tanda vital pasien
3)
Kaji
keadaan umum
Rasional
: mengetahui keadaan umum pasien
4)
Ajarkan
tehnik relaksasi
Rasional
: membantu meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan oror, mengurangi nyeri
5)
Anjurkan
memberikan lingkungan yang nyaman
Rasional
: membantu kenyamanan pasien dengan mengontrol lingkungan
6)
Kolaborasi
dengan dokter untuk pemberian obat
Rasional
: membantu mengurangi nyeri pasien dengan tehnik farmakologi
2.
Perubahan
eliminasi urin berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi
ginjal ureteral, obstruksi mekanik, inflames.
Intervensi
1)
Kaji
pemasukan dan pengeluaran dan karakteristik urin
Rasional
: mengidentifikasi urin
2)
Tentukan
pola berkemih pasien dan perhatikan variasi pola berkemih pasien
Rasional
: mengontrol sebsasi kebutuhan berkemih pada pasien
3)
Dorong
peningkatan pemasukan cairan
Rasional
: peningkatan hidrasi pembilas bakteri, darah dan debris dan dapat membantu
lewatnya batu
4)
Kolaborasi
dengan tenaga laboratorium untuk memeriksa urin ( catat adanya keluaran batu
untuk dianalisa
Rasional
: untuk mengidentifikasi tipe batu dan menentukan pilihan terapi yang akan
digunakan
5)
Kolaborasikan
dengan dokter untuk pemberian obat (asetazolamid /diamox, alupurinol,
antibiotic, pemberian natrium dan kalium
Rasional
: untuk membantu kestabilan retensi urin secara farmakologi
3.
Resiko
Kekurangan volume cairan b/d mual muntah, dieresis pascaobstruksi
Intervensi
:
1) kaji pemasukan dan
pengeluaran cairan
Rasional : untuk mengetahui keseimbangan input-output
pasien
2) kaji KU pasien (mukosa
bibir,torgor kulit)
Rasional
: untuk mengetahui adanya tanda-tanda
dehidrasi sehingga dapat dilakukan penanganan segera
2) identifikasi
penyebab adanya perubahan volume
cairan (muntah,diare ,intake output urin
)
Rasional
: untuk menentukan tindakan yang akan
dilakukan selanjutnya
3) minta
pasien dan keluarga untuk mencatat jumlah cairan yang keluar dan masuk
(intake-output) seperti minum,urin,muntah dll
Rasional
: untuk mengetahui /memantau jumlah
balance cairan pada pasien
4) kaji
adanya dehidrasi
Rasional
: untuk mengetahui tingkat kekurangan
volume cairan pada pasien
5) kolaborasi
dengan dokter untuk pemberian cairan intra vena (IV)
Rasional
: untuk membantu menagani kekurangan
volume cairan pada pasien dengan teknik
farmakologi
6) anjurkan
keluarga untuk memberikan minum banyak pada pasien
Rasional : untuk membantu menangani kekurangan volume
cairan pada pasien dengan teknik non-farmakologi
7) pantau
jumlah cairan dan elektrolit pasien
Rasiona
: intuk mengontrol jumlah cairan dan elektrolit pada pasien
BAB III
KASUS
A.
Uraian
Kasus
Tn.K 58 thn datang ke
rumah sakit pada tanggal 2 Agustus 2012 diantar oleh keluarganya,dengan keluhan
sudah hampir 1 bln pasien sering merasakan nyeri pada daerah punggung bagian
belakang dengan skala nyeri 7, pasien mengatakan bahwa nyeri sering dirasakan
saat pasien melakukan aktivitas yang berat dengan lama 5-10 menit setiap
melakukan aktivitas berat, pasien juga mengatakan bahwa saat BAK terasa sangat
nyeri seperti tertusuk-tusuk dan terbakar sehingga pasien merasa takut untuk
melakukan BAK, Pasien mengatakan saat
BAK urin yang dikeluarkan hanya sedikit . Pasien juga mengatakan bahwa
sebelumnya pola makan pasien tidak begitu teratur,pasien sering mengkonsumsi
makanan sejenis sea food, dan memiliki kebiasaan sedikit mengkonsumsi air
putih, pasien mengatakan sejak sakit pasien sering merasa haus, pasien juga mengatakan akhir-akhir ini sering
mual dan muntah.. Pasien mengatakan merasa cemas dengan keadaan
penyakitnya dan mengatakan takut tidak
akan sembuh seperti keadaan normal.
Saat dilakukan pengkajian
didapatkan TTV : TD : 130/90 mmHg, nadi : 90x/mnt, suhu : 37,50C ,
RR : 24 x/mnt, turgor kulit tidak elastic , mukosa bibir tampak kering dan
pasien terlihat pucat dan lemah.
Setelah
dilakukan tes laboratorium didapatkan hasil bahwa terdapat penumpukan cairan
kristaloid (zat kapur ) pada kandung kemuh (VU) pasien.pasien terpasang kateter
urin untuk membantu proses pengeluaran urin (BAK ).
Didapatkan hasil laboratorium :
Darah
rutin Hasil Normal Satuan
Hb 13,5 12,0-18,0 g/ dl.
Ht 42 37-52 %
Leukosit 6.300 4.800-10.800 / µl
Trombosit 368.000 150.000-450.000 / µl
Hemostatis
rutin
Masa
protombin 12,7 11-17 dtk
APTT 32,6 30-40 dtk
Kimia
Protein total:
Protein total 7,3 6-8 g/dl
Albumen 3,9 3,5-5 g/dl
Globulin 3,4 1,5-3,5 g/dl
Fosfatase alkali 125 35-135 µ/L
SGOT 19 10-36 µ/L
SGPT 20 10-45 µ/L
Gamma GT 26 7-40 µ/L
Trigliserida 67 < 150 mg/dl
HDL
kolesterol 50 > 40 mg/dl
LDL
kolesterol 139 < 120 mg/dl
Natrium 136 145-147 mmol/L
Kalium 4,0 3,5-5,5 mmol/L
Klorida 99 94-111 mmol/L
Asam urat 4,6 P: 3,4-7,0 mmol/L
W:
2,4-5,7
Sero
imunologi
PSA 6,5 < 4,0 ng/ml
Urinalisa
Urin
lemgkap:
Warna : keruh
Kekeruhan : Keruh
Analisa
dengan klinitex
Bj 1.030 1.005-1.500 g/dl.
pH 5,0 5,0-8,0
Protein ++ Negatif
Glukosa Negatif Negatif
Keton Negatif Negatif
Darah +++ Negatif
Bilirubin Negatif Negatif
Urobilinogen 3,2 3,2-166 mmol/L
Nitrit Negatif Negatif
Mikroskopik
Sedimen
:
Sel
ephitel + Positif
Leukosit 25-30 0-5 /LPB
Erytrosit > 100 0-1 /LPB
Silinder Negatif Negatif
Kristal Negatif positif
Bakteri ++ positif
Masa
protombin 14,7 dtk
APTT 38,4 dtk
Kimia:
Ureum 56 10-50 mg/dl
Kreatinin 1,3 0,6-1,2 mg/dl
B.
Pengkajian
keperawatan
Nama Perawat : Perawat B
Tanggal Pengkajian : 2 Agustus 2012
Jam Pengkajian : 08.00 wib
1.
Biodata
:
Identitas
Klien
Nama :
Tn. K
Umur :
58 tahun
Alamat :
Jl. Kapas No.7 Blok A Sleman
Agama :
Islam
Pendidikan :
SMA
Pekerjaan :
Wiraswasta
Status perkawinan :
sudah kawin
Suku :
Jawa
Tanggal MRS :
2 Agustus 2012
Diagnosa masuk : Gagal ginjal Akut
Penanggung Jawab
Nama :
Ny.I
Umur :
33 tahun
Alamat :
Jl. Kapas No.7 Blok A Sleman
Agama :
Islam
Pendidikan :
SMA
Pekerjaan :
IRT
Hubungan dengan
klien : Istri
2.
Keluhan
Utama
Klien mengeluh nyeri pada bagian
punggung.
3.
Riwayat
Kesehatan
a. Riwayat
Penyakit Sekarang
Klien datang ke RS
dengan keluhan merasa nyeri pada punggung. Nyeri dirasakan saat klien melakukan
aktivitas yang berat dengan lama 5-10 menit setiap melakukan aktivitas berat, pasien
juga mengatakan bahwa saat BAK terasa sangat nyeri seperti tertusuk-tusuk dan
terbakar sehingga pasien merasa takut untuk melakukan BAK.
b. Riwayat
Penyakit Dahulu
Klien tidak memiliki riwayat operasi
sebelumnya.
c. Riwayat
Penyakit Keluarga
Klien mengatakan tidak memiliki riwayat
penyakit keluarga seperti DM dan hipertensi.
4.
Genogram
Ket :
: Perempuan
: Laki-laki
: Klien
: Meninggal
: Tinggal dalam satu rumah
5.
Basic Promoting physiology of
Health
1.
Aktivitas dan latihan
Klien mengatakan sebelum sakit
klien dapat melakukan aktifitas yang berat. setelah sakit klien tidak pernah melakukan
aktivas yang berat karena aktivitas yang berat membuat rasa nyeri pada
punggungnya.
2. Tidur
dan istirahat
Klien mangatakan
sebelum sakit klien tidur 7jam/hari, setelah sakit klien kurang tidur karena
sering merasa nyeri saat ingin BAK pada saat istirahat.
3. Kenyamanan
dan nyeri
P : Saat ingin BAK
Q :Seperti tertusuk-tusuk dan
terbakar
R : nyeri dirasakan dibagian
punggung
S :7
T :.5-10 menit setiap melakukan
aktivitas berat
4. Nutrisi
BB
: 55kg, TB : 170cm, LiLa :12
A : antropometri,IMT : BB/(TB)2 =
55 kg/(1,7)2 = 19,0
B : Biokimia. Hb = 13gr/dl.
C : Klinik : Klien tidak nampak pucat dan
lemah dan tidak mengalami penurunan BB.
D : Diet klien mengatakan dalam sehari makan
3x/hari
5. Cairan, elektrolit dan asam basa.
Dalam sehari klien minum 5gelas/hari
1 glass = 200cc.
Minum 5 gelas/hari=5x200=1000ml
Infus 500cc/8jam=3x500=1500ml
Air metabolisme 5/kg BB/hari=5x55=275ml
Input=1000+1500+275=2775ml
Urin=8x300=2400ml/hari
Feses=100ml/hari
IWL=15/kg/hari=15x50=750ml
IWL=IWL+200(suhu sekarang-370C)=750+200(37,5-37)=850
Output=2400+100+850=
3350
BC =Input-Output
=2775-3350
=-575ml
pH =7,36
6. Oksigenasi
klien tidak menggunakan alat bantu
pernafasan, suhu : 37,50C , RR : 24 x/mnt.
7. Eliminasi
fekal/bowel
BAB klien dilakukan dengan normal,
warna kuning kecoklatan, bau khas feses, dan tidak terdapat darah dalam feses.
8. Eliminasi
urin
Klien BAK sehari sebanyak 8x sehari
dengan sekali BAK sebanyak 300ml, warna urin kuning jernih, berbau khas urin
dan tidak ada darah dalam urin.
9. Sensori,
persepsi dan kognitif
Klien tidak menggunakan alat bantu
kacamata dan klien juga tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
6.
Pemeriksaan
Fisik
a.
Keadaan umum : Compos Mentis
b.
TTV
: TD : 120/90 mmHg, nadi : 90x/mnt, suhu : 37,50C , RR : 24 x/mnt
Pemeriksaan kepala
Pada kepala berbentuk mesochepal,
rambut klien tidak rontok, tidak ada lesi pada kulit kepala, tidak berketombe,
dan tidak terdapat nyeri tekan pada kepala klien.
c.
Pemeriksaan muka
Muka klien
terlihat pucat, tidak lesi pada wajah klien.
d.
Pemeriksaan mata
Bentuk mata
simetris, sclera non ikterik, kornea jernih, pupilnya ishokor, konjungtiva anemis,
palpebra edema.
e.
Pemeriksaan hidung
Hidung klien
berbentuk simetris, tulang hidung tidak septum deviasi, tidak ada lesi, tidak
terdapat hematom, tidak ada polip dan epistaksis.
f.
Pemeriksaan mulut
turgor kulit pucat, mukosa bibir
tampak kering dan pasien terlihat pucat
g.
Pemeriksaa leher klien
Tidak
ada pembesaran thyroid, tidak ada kaku kuduk, reflek menelan baik.
h.
Pemeriksaan dada
Dada
klien simetris, klien terlihat sesak nafas,
ronkhi (-), tidak terlihat retraksi interkosta.
i.
Pemeriksaan
abdomen
Inspeksi
: warna kulit coklat, tidak ada lesi
Auskultasi
: peristaltik usus 15 kali
Palpasi
: Saat
dipalpasi tidak ada nyeri tekan.
Perkusi : terdengar timpani
j.
Pemeriksaan ekstremitas
Tidak terjadi pembengkakan pada
ekstremitas klien dan tidak ada tanda kelemahan otot.
a.
Atas : Kekuatan otot
Capilary refil
1detik
Akral : hangat
b. Bawah : Kekuatan otot
Capilary refil 1detik
Akral : hangat
C.
Analisa
Data
Nama
klien : Tn.K No.Register : 12012011
Umur
: 58 Tahun Diagnosa Medis : Urolitiasis
Ruang rawat : - Alamat : Jl. Kapas No.7 Blok A
Sleman
No.
|
Data focus
|
Etiologi
|
Problem
|
1.
|
DS : klien mengatakan nyeri saat berkemih
DO :
-
TD
: 130/90 mmHg
-
RR
: 24x/mnt
-
Suhu
: 37,5 0C
-
Muka
klien tampak meringis menahan sakit
P : Nyeri dirasakan saat klien melakukan aktivitas berat dan saat
BAK
Q : nyeri seperti tertusuk-tusuk dan terbakar
R : nyeri dirasakan klien di daerah punggung bagian
belakang
S : skala nyeri 7
T : nyeri dirasakan selama 5-10 mnt |
Agen injuri biologis
|
Nyeri akut
|
2.
|
DS :
-
Klien
mengatakan merasakan nyeri saat BAK sehinnga merasa takut untuk melakukan BAK
-
Pasien
mengatakan saat BAK urin yang
dikeluarkan hanya sedikit
DO :
-
Wajah klien terlihat meringis menahan sakit
-
Terpasang
kateter urin pada klien
|
stimulasi kandung
kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
|
Perubahan pola
eliminasi urine
|
3.
|
DS :
-
Pasien
mengatakan memiliki kebiasan sedikit mengkonsumsi air putih
-
Pasien
mengatakan sering mengalami mual muntah
-
pasien
mengatakan sejak sakit pasien sering merasa haus
DO
:
-
Mukosa
bibir pasien tampak kering
-
Kulit
pasien terlihat pucat dan lemah
-
Turgor
kulit tidak elastic
-
Nadi
: 90x/mnt
-
RR
:24x/mnt
-
TD
: 130/90 mmHg
-
Suhu
: 37,5 0C
-
Ht
; 42. Warna urin keruh, dengan tingkat
kekeruhan keruh,
-
Kristaloid
(+), bakteri (+)
|
Mual muntah dan asupan cairan
|
Resiko kekurangan
volume cairan
|
D.
Prioritas
Diagnosa
1. Nyeri akut b.d
agen injuri biologis ditandai dengan
2. Perubahan pola eliminasi urin b.d stimulasi
kandung kemih
3. Resiko kekurangan volume cairan
b.d mual muntah dan asupan
E. RENCANA KEPERAWATAN
Nama
klien : Tn.K No.Register
: 12012011
Umur
: 58 Tahun Diagnosa
Medis : Urolitiasis
Ruang
rawat : - Alamat
: Jl.
Kapas No.7 Blok A Sleman
No
|
Diagnosa
keperawatan
|
Tujuan & Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
TTD
|
1
|
Nyeri akut b.d agen
injuri biologis
|
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam , diharapkan nyeri berkurang dengan
kriteria hasil :
P : pasien tidak
lagi merasakan nyeri saat berkemih
Q : saat berkemih pasien tidak lagi merasakn
nyeri seperti tertusuk-tusuk, dan
terbakar
R : pasien tidak
lagi mengeluh nyeri dibagian belakang
punggung
S : skala nyeri
pasien berkurang menjadi 3
T : -
- Pasien tampak lebih tenang
-TTV dalam batas normal :
- TD
120-140/80-100 mmHg
–Nad i 80-100
x/menit
- Suhu
36°C- 37°C
- RR 16 – 24
x/menit
- saat merasakan
nyeri pasien bisa mengontrol dengan
teknik relaksasi (nafas dalam )
|
1. kaji TTV
2. Kaji skala
nyeri, lokasi dan intensitasnya
3. Ajarkan
penggunaan teknik
manajemen nyeri ( latihan napas dalam,imajinasi)
4. Kalaborasi
dengan dokter dalam pemberian antibiotic
5. Kalaborasi
dengan dokter dalam pemberian analgetik sesuai indikasi
|
1. Untuk mengetahui kondisi
umum pasien
2. untuk menentukan skala,lokasi,dan intensitasnnyerinya.
3. Mengalihkan
perhatian terhadap nyeri, meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin
berlangsung lama
4. dapat membantu dalam
menentukan obat yntuk membunuh bakteri penyeban infeksi
5. dapat membantu dalam menentukan obat yang
digunakan untuk menghilangkan nyeri.
|
Prwt 1
|
2
|
Perubahan pola eliminasi urin b.d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi
ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24
jam diharapkan klien BAK secara normal dengan criteria hasil :
- klien tidak merasakan nyeri
lagi saat BAK
- warna urin klien kembali normal (kuning)
|
1.
Awasi asupan dan haluaran, karakteristik urine, catat adanya keluaran
batu.
2. Tentukan
pola berkemih normal klien dan perhatikan variasi yang terjadi.
3.
Dorong peningkatan asupan cairan.
4. kolaborasi
dengan dokter untuk pemberian obat
sesuai indikasi:
-
Asetazolamid (Diamox), Alupurinol (Ziloprim)
-
Hidroklorotiazid
(Esidrix, Hidroiuril), Klortalidon (Higroton)
-
Amonium
klorida, kalium atau natrium fosfat (Sal-Hepatika)
-
Agen
antigout mis: Alupurinol (Ziloprim)
-
Antibiotika
-
Natrium
bikarbonat
-
Asam
askorbat
|
1. untuk mengetahui
karakteristik adanya batu ginjal pada urin
2. untuk mengetahui
keseimbangan input dan output klien
3. untuk
menghindari terjadinya kekurangan cairan pada klien
4.
-
Meningkatkan pH urine (alkalinitas) untuk
-
menurunkan pembentukan batu asam.
-
Mencegah stasis urine dan menurunkan
-pembentukan
batu kalsium.
-
Menurunkan pembentukan batu fosfat
-Menurunkan
produksi asam urat.
-Mungkin
diperlukan bila ada ISK
-Mengganti
kehilangan yang tidak dapat teratasi selama pembuangan bikarbonat dan atau
alkalinisasi urine, dapat mencegah pemebntukan batu.
-Mengasamkan
urine untuk mencegah berulangnay pembentukan batu alkalin
-Mungkin
diperlukan untuk membantu kelancaran aliran urine.
-Mengubah
pH urien dapat membantu pelarutan batu dan mencegah pembentukan batu
selanjutnya.
|
Prwt
|
3.
|
Resiko kekurangan volume cairan b.d mual
muntah dan asupan cairan
|
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan pasien tidak lagi mengalami
mual muntah dengan KH :
- Mukosa bibir klien
kembali lembab
- Turgor kulit klien
kembali elastic
- Pasien tidak tampak
lemah
- Input dan output
klien seimbang
|
1. ukur pemasukan
dan pengeluaran dengan akurat
2. perhatikan tanda
dan gejala kekurangan cairan
3. berikan cairan
yang diizinkan sesuai dengan program pengobatan
4. control suhu
lingkungan
|
1. untuk membantu memperkirakan
kebutuhan cairan klien
2. kehilangan cairan dapat
menyebabkan gangguan hipovolemik
3. fase diuretic dapat
berlanjut ke fase oliguria, waspada dehidrasi noktural
4. suhu lingkungan dapat
mempengaruhi kekurangan cairan
|
Perawat
|
F.
Implementasi
dan Evaluasi
Nama
klien : Tn.K No.Register : 12012011
Umur
: 58 Tahun Diagnosa Medis : Urolitiasis
Ruang rawat : - Alamat : Jl. Kapas No.7 Blok A
Sleman
No.
|
Tgl
|
Jam
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
Nama Ttd
|
1.
|
2- 08-2012
|
09.00
|
1. mengkaji TTV
S:-
O: TD : 130/90 mmHg
RR :
24x/mnt
Suhu
: 37,5 0C
2.mengkaji skala
nyeri, lokasi dan intensitasnya
S : klien
mengatakan nyeri pada punggungnya dan nyeri saat berkemih
O :
P : Nyeri dirasakan saat klien melakukan aktivitas berat dan saat
BAK
Q : nyeri seperti tertusuk-tusuk dan terbakar
R : nyeri dirasakan klien di daerah punggung bagian
belakang
S : skala nyeri 7
T : nyeri dirasakan selama 5-10 mnt
3.
mengajarkan
penggunaan teknik
manajemen nyeri (latihan napas dalam,imajinasi)
S : -
O : klien nampak
mengikuti arahan perawat.
4. mengkolaborasi dengan dokter dalam pemberian
antibiotic
S : -
O : pasien nampak minum obat yang diberikan.
5. Mengkoalaborasi dengan dokter dalam pemberian
analgetik sesuai indikasi
S :-
O :cetorolac 1A/12jam
|
S :
klien mengatakan nyeri pada punggungnya dan
nyeri saat berkemih
O :
TD : 130/90 mmHg
RR : 24x/mnt
Suhu : 37,5 0C
P : Nyeri dirasakan saat klien melakukan aktivitas berat dan saat
BAK
Q : nyeri seperti tertusuk-tusuk dan terbakar
R : nyeri dirasakan klien di daerah punggung bagian
belakang
S : skala nyeri 7
T : nyeri dirasakan selama 5-10 mnt, pemberian cetorolac 1A/12jam.
A : Tujuan belum tercapai
P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,4 dan 5
|
Prwt 1
|
2.
|
2- 08-2012
|
09.00
|
1. mengawasi asupan dan haluaran,
karakteristik urine, catat adanya keluaran batu.
S : -
O : input 2775ml dan output 3350ml
BC =
input-output
= 2775-3350
= -575ml
2.
menentukan pola berkemih normal klien dan perhatikan variasi yang
terjadi.
S : klien mengatakan saat berkemih merasa
nyeri
O : urine klien terlihat keruh
3.mendorong peningkatan asupan cairan.
S :-
O : klien nampak menjalankan arahan
perawat.
4.
kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi:
S : -
O : Asetazolamid
(Diamox), Alupurinol (Ziloprim), Hidroklorotiazid (Esidrix, Hidroiuril),
Klortalidon (Higroton), Amonium klorida, kalium atau natrium fosfat
(Sal-Hepatika), Agen antigout mis: Alupurinol (Ziloprim), Antibiotika,
Natrium bikarbonat , Asam askorbat.
|
S :
klien mengatakan saat berkemih merasa nyeri
O :
BC =
input-output
= 2775-3350
= -575ml
Urine nampak keruh
A : tujuan belum tercapai
P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,dan4
|
|
3.
|
2- 08-2012
|
09.00
|
1. mengukur pemasukan dan
pengeluaran dengan akurat
S : klien mengatakan minum air
sebanyak 5gelas. Klien BAK 8x/hari dan BAB 1x/hari
O : BC = input-output =
2775-3350=-575
2. memperhatikan tanda dan
gejala kekurangan cairan
S :-
O :
Mukosa bibir pasien tampak kering, Kulit
pasien terlihat pucat dan lemah, Turgor kulit tidak elastic
3.memberikan cairan yang
diizinkan sesuai dengan program pengobatan
S :-
O : klien nampak terpasang
infuse 500cc/8jam
4. mengontrol suhu
lingkungan
S :-
O : 37C
|
S :
: klien mengatakan minum air
sebanyak 5gelas. Klien BAK 8x/hari dan BAB 1x/hari
O :
BC = input-output =
2775-3350=-575, Mukosa
bibir pasien tampak kering, Kulit pasien terlihat pucat dan lemah, Turgor
kulit tidak elastic, klien terpasang infuse 500/8jam, dan suhu ruangan 37 c
A :
Tujuan belum tercapai.
P :
Lanjutkan intervensi 1,2,3 dan 4
|
BAB
IV
PENUTUP
A. Simpulan
Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di
tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan
bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran
kemih yang paling sering terjadi
(Purnomo, 2000, hal. 68-69)
Dari pengkajian yang
dilakukan pada Tn.K maka diagnosa
keperawatan yang muncul adalah:
1.
Nyeri
akut b.d agen injuri biologis ditandai dengan
2.
Perubahan
pola eliminasi urin b.d stimulasi kandung kemih
3.
Resiko
kekurangan volume cairan b.d mual muntah dan asupan
B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa
agar dapat meningkatkan pengetahuannya tentang macam-macam penyakit dan juga
meningkatkan kemampuan dalam pembuatan asuhan keperawatan pada pasien dengan Batu ginjal.
2. Bagi perawat
Diharapkan bagi perawat
agar dapat meningkatkan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan serta
pengetahuannya sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal
terkhususnya pada pasien dengan penyakit batu ginjal.
3. Bagi Dunia keperawatan
Diharapkan asuhan
keperawatan ini dapat terus diperbaiki kekurangannya sehingga dapat menambah
pengetahuan yang lebih baik bagi dunia keperawatan, serta dapat diaplikasikan
untuk mengembangkan kompetensi dalam keperawatan.
Daftar
Pustaka
Purnomo, BB ( 2000), Dasar-dasar Urologi, Sagung Seto, Jakarta
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta
Mansjoer,A.,Soprohaita.,Wardani,W.I.,Setiowulan,W.,2000.Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Media
Aesculapius.Jakarta
Smeltzer.C Suzannae,
Bare.G Breda.2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8.Jakarta.EGC
Santosa,Budi.2005.Panduan
Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006 Definisi dan Klasifikasi. Jakarta.Prima
Medika
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus