Sabtu, 05 Januari 2013

BATU GINJAL






ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN BATU GINJAL
(UROLITIASIS)
Unriyo_baru.jpg
Oleh :
KELOMPOK A
1.      Yunita Agustini                                  (09130034)
2.      Ririn Sukma Wardani                         (09130035)
3.      Nur Ajizah                                          (09130039)
4.      Randy Repodesalta                             (09130042)
5.      Riadussolihin                                      (09130050)
6.      Ngakan Gede Nugraha                       (09130076)
7.      A. A. Istri Sukmaningsih                    (09130077)
8.      Maria Paulina Nahak                           (09130086)
9.      Aprillino Barnes                                  (09130089)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2012


KATA PENGANTAR
            Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Batu Ginjal dapat terselesaikan. Makalah ini saya susun berdasarkan beberapa sumber dari buku dan internet. Adapun tujuan pembuatan makalah ini diantaranya untuk melengkapi nilai tugas akhir semester pendek. Selain itu makalah ini saya susun dengan harapan dapat memberikan manfaat untuk pembaca dalam memahami definisi, penyeba, tanda gejala dan penatalaksanaan medis pada pasien dengan Batu Ginjal.
           “Tak ada gading yang tak retak” Begitu pula dengan makalah yang saya susun ini masih jauh dari kesempurnaan.. Oleh sebab itu saya harapkan kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca untuk perbaikan kedepannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi Mahasiswa Keperawatan.

                                                                        Yogyakarta, 10 Juli 2012



DAFTAR ISI
Kata Pengantar           ………………………………………………………………i
Daftar Isi                     ………………………………………………………………ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar belakang            ……………………………………………………………… 1        
B.     Tujuan             ……………………………………………………………… 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.    Definisi           ……………………………………………………………… 3
B.     Penyebab         ……………………………………………………………… 3
C.     Tanda dan Gejala        ……………………………………………………… 6
D.    Penatalaksanaan Medis           ……………………………………………… 7
E.     Patofisiologi    ……………………………………………………………… 7
F.      Pathway          ……………………………………………………………… 9
G.    Masalah Keperawatan ……………………………………………………… 10      
BAB III KASUS
A.    Kasus              ……………………………………………………………… 12
B.     Pengkajian       ……………………………………………………………… 16
C.     Analisa Data   ……………………………………………………………… 21
D.    Prioritas Diagnosa       ……………………………………………………… 22
E.     Perencanaan    ……………………………………………………………… 23
F.      Implementasi dan Evaluasi     ……………………………………………… 27
BAB IV PENUTUP
A.    Simpulan         ……………………………………………………………… 31
B.     Saran               ……………………………………………………………… 31
Daftar Pustaka                        ……………………………………………………………… 32



 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
               Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter, kandung kemih  dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu kandung kemih  (VU) karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra.
Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi  (Purnomo, 2000, hal. 68-69)
               Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu saluran kemih.







B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada klien dengan batu ginjal
2.      Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa dapat mengidentifikasi konsep asuhan keperawatan pada klien dengan batu ginjal  meliputi: definisi batu ginjal , penyebab batu ginjal , tanda dan gejala batu ginjal , patofisiologi batu ginjal  dan masalah yang biasa muncul pada klien dengan batu ginjal .
b.      Mahasiswa dapat mengidentifikasi asuhan pada klien dengan batu ginjal  meliputi pengkajian, analisa data, prioritas diagnose, rencana keperawatan dan evaluasi.
c.       Mahasiswa dapat melaksanakan asuhan keperawatan peda klien dengan batu ginjal  meliputi pengkajian, analisa data, prioritas diagnose, rencana keperawatan.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Definisi
Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi  (Purnomo, 2000, hal. 68-69)

Batu ginjal atau kalkulus adalah batu yang terdapat di saluran kemih, batu yang sering dijumpai tersusun dari Kristal-kristal kalsium (Elizabeth J. Corwin, 2009). Batu ginjal atau kalkulus adalah bentuk deposit mineral, paling umum oksalat Ca2+ dan fosfat Ca2+, namun asam urat dan Kristal juga pembentuk batu dalam saluran kemih, batu ini umumnya ditemukan pada pelvis dan kalik ginjal (Marilynn E. Doenges dkk, 1999)
B.     Penyebab
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.
Faktor intrinsik, meliputi:
1.      Herediter                  :  diduga dapat diturunkan dari generasi ke generasi.
2.      Umur                        : paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
3.      Jenis kelamin            : jumlah pasien pria 3 kali lebih banyak dibanding pasien wanita.

Faktor ekstrinsik, meliputi:
1.      Geografi                : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu)
2.      Iklim dan temperatur
3.      Asupan air             : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.
4.      Diet                       : diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu saluran kemih.
5.      Pekerjaan               : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktivitas fisik (sedentary life).
Batu Kalsium
Batu kalsium (kalsium oksalat dan atau kalsium fosfat) paling banyak ditemukan yaitu sekitar 75-80% dari seluh batu saluran kemih. Faktor tejadinya batu kalsium adalah:
1.      Hiperkasiuria:
Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24 jam, dapat terjadi karena peningkatan absorbsi kalsium pada usus (hiperkalsiuria absorbtif), gangguan kemampuan reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal (hiperkalsiuria renal) dan adanya peningkatan resorpsi tulang (hiperkalsiuria resoptif) seperti pada hiperparatiridisme primer atau tumor paratiroid.
2.      Hiperoksaluria:
Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam, banyak dijumpai pada pasien pasca pembedahan usus dan kadar konsumsi makanan kaya oksalat seperti the, kopi instan, soft drink, kakao, arbei, jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama bayam.
3.      Hiperurikosuria:
Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24 jam. Asam urat dalam urine dapat bertindak sebagai inti batu yang mempermudah terbentuknya batu kalsium oksalat. Asam urat dalam urine dapat bersumber dari konsumsi makanan kaya purin atau berasal dari metabolisme endogen.
4.      Hipositraturia:
Dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium sitrat sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat. Keadaan hipositraturia dapat terjadi pada penyakit asidosis tubuli ginjal, sindrom malabsorbsi atau pemakaian diuretik golongan thiazide dalam jangka waktu lama.
5.      Hipomagnesiuria:
Seperti halnya dengan sitrat, magnesium bertindak sebagai penghambat timbulnya batu kalsium karena dalam urine magnesium akan bereaksi dengan oksalat menjadi magnesium oksalat sehingga mencegah ikatan dengan kalsium dengan oksalat. . (Purnomo, 2000)
Teori pembentukan batu : (Mansjoer, dkk; 2000)
a.       Teori inti (nucleus) : Kristal dan benda asing merupakan tempat pengendapan kristal pada urin yang sudah mengalami supersaturasi.
b.      Teori matriks : matriks organic yang berasal dari serum atau protein-protein urin memberikan kemungkinan pengendapan kristal.
c.       Teori inhibitor kristalisasi : beberapa substansi dalam urine menghambat terjadinya kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau absenya substansi ini memungkinkan terjadinya kristalisasi.
Pembentukan batu membutuhkan supersaturasi dimana supersaturasi itu bergantung pada pH urin, kekuatan ion, konsentrasi cairan dan pembentukan kompleks.
Batu kalsium dapat disebabkan oleh :
a.       Hiperkalsiuria absorptif : gangguan absobsi usus yang beerlebihan juga pengaruh vitamin D dan hiperparatiroid.
b.      Hiperkalsiuria renalis : Kebocoran pada ginjal.
Batu oksalat dapat disebabkan oleh :
a.       Primer autosomal resesif
b.      Ingesti-Inhalasi : Vitamin.C, ethylene glycol, methoixyflurane, anastesi.
c.       Hiperoksaloria enternik : inflamasi saluran pencernaan, reseksi usus halus, bypass jejunoileal, sindrom malabsobsi.
Batu asam urat dapat disebabkan oleh :
a.       Makanan yang banyak mengandung purin
b.      Pemberian sitostatik pada pengobatan neoplasma
c.       Dehidrasi kronis
d.      Obat-obatan : tiazid, lasix, salisilat.
(Mansjoer, dkk; 2000)

C.    Tanda dan Gejala
(Elizabeth J. Corwin, 2009)
a.       Nyeri. Sering bersifat kolik atau ritmik, terutama bila batu terletak di ureter atau dibawah. Nyeri dapat terjadi secara hebat tergantung dari lokasi letak batu
b.      Batu di ginjal dapat menimbulkan obstruksi atau infeksi
c.        Hematuria. Disebabkan oleh iritasi dan cidera struktur ginjal yang disertai batu
d.      penurunan pengeluaran urin
e.       terjadi obstruksi aliran pengenceran urin karena kemampuan ginjal memekatkan urin terganggu oleh pembengkakan yang terjadi disekitar kapiler peritubulus
(Marilynn E. Doenges dkk, 1999)
a.       Aktivitas atau istirahat : pekerjaan monoton, keterbatasan aktivitas atau imobilisasi
b.      Sirkulasi : peningkatan tekanan darah, peningkatan nadi, kulit hangat dan kemerahan , pucat
c.       Eliminasi : riwayat ISK kronis, obstruksi sebelum kalkulus, penurunan haluaran urin, kandung kemih penuh, rasa terbakar, dorongan berkemih meningkat, diare, oliguria, hematuria, piuria, perubahan pola berkemih
d.      Makanan dan cairan : mual muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi piurin, kalsium oksalat dan fosfat, ketidakcukupan pemasukan cairan, kurang nya minum yang cukup, distensi abdominal, penurunan bising usus.
e.       Nyeri : akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi tergantung pada lokasi batu, perilaku distraksi, nyeri tekan pada ginjal saat di palpasi
f.       Keamanan : riwayat penggunaan alkohol, demam, menggigil



D.    Penatalaksanaan Medis
(Elizabeth J. Corwin, 2009)
a.       peningkatan asupan cairan meningkatkan aliran urin dan membantu mendorong adanya batu
b.      modifikasi makanan yang dapat mengurangi kadar pembentuk batu bila kadungan batu teridentifikasi
c.       ubah pH urin sedemikian untuk meningkatkan pemecahan batu
d.      litotripsi (terapi gelombang kejut) ekstrakorporeal/ di luar tubuh atau terapi laser yang digunakan untuk memecah batu
e.       Bila diperlukan lakukan tindakan bedah untuk mengangkat batu yang besar atau untuk meningkatkan setelah disekitar batu untuk mengatasi obstruksi

E.  Fatofisiologi
Batu ginjal dapat disebabkan oleh peningkatan pH urin (misalnya batu kalsium bikarbonat) atau penurunan ph Urin (batu asam urat). Konsentrasi bahan-bahan pembentuk batu yang tinggi didalam darah dan urine serta kebiasaan makan atau konsumsi obat tertentu, juga dapat merangsang pembentukan batu sehingga menghambat aliran urin dan menyebabkan stasis atau tidak ada pergerakan urin dibagian manapun dari saluran kemih sehingga terjadi kemungkinan pembentukan batu (Elizabeth J. Corwin, 2009)
Batu saluran kemih dapat menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran kemih. Manifestasi obstruksi pada saluran kemih bagian bawah adalah retensi urine atau keluhan miksi yang lain sedangkan pada batu saluran kemih bagian atas dapat menyebabkan hidroureter atau hidrinefrosis. Batu yang dibiarkan di dalam saluran kemih dapat menimbulkan infeksi, abses ginjal, pionefrosis, urosepsis dan kerusakan ginjal permanen (gagal ginjal). (Price & Wilson , 1995)



Batu Saluran Kemih
Infeksi
Hidronefrosis
Hidroureter
Pionefrosis
Urosepsis
Pielonefritis
Ureritis
Sistitis
Obstruksi
 





Gagal Ginjal
 















F.   Pathway
Dx Nyeri akut
Herediter  :
-Lingkungan
-Pekerjaan
-Diet tinggi  kalsium
-Jumlah minum
Tinggal di pelvis
obstruksi
Membentuk batu
Batu kecil
Lolos kedalam ureter melalui urin
kristalisasi
Kelainan biokimia urine
Batu besar
Super saturasi
Inhibitor Kristal pH urin
Meningkatnya zat Ca, Mg, F, dan ginjal
Komplikasi :
-Gangguan eliminasi urin
-gagal ginjal akut maupun kronis
pielonefritis
 uremia

Infeksi /UTI
uritritis
Panas/nyeri
Refluk urin
Hidronefrosis
Retensi urin
mengiritasi
Gagal ginjal
Perforasi ginjal
Dx Gangguan eliminasi urin
Hematuria
Dx Penurunan Volume cairan
perdarahan
Ureum meningkat
Dx Intoleransi aktivitas
Dx Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Penurunan BB
pH urin
 




















G.  Masalah keperawatan
(Marilynn E. Doenges, dkk., 1999 dan Judith M. Wilkinson, 2002) )
1.         nyeri akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi atau dorongan kontraksi ureteral, trauma jaringan, pembentukan edema, iskemik seluler.
Intervensi  :
1)      Kaji karakteristik nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, factor presipitasi)
Rasional : Membantu mengevaluasi adanya nyeri untuk menunjukkan tempat obstruksi dan kemajuan kalkulus
2)      Kaji TTV (tekanan darah, nadi, suhu, TTV)
Rasional : mengetahui tanda-tanda vital pasien
3)      Kaji keadaan umum
Rasional : mengetahui keadaan umum pasien
4)      Ajarkan tehnik relaksasi
Rasional : membantu meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan oror, mengurangi nyeri
5)      Anjurkan memberikan lingkungan yang nyaman
Rasional : membantu kenyamanan pasien dengan mengontrol lingkungan
6)      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat
Rasional : membantu mengurangi nyeri pasien dengan tehnik farmakologi
2.         Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal ureteral, obstruksi mekanik, inflames.
Intervensi
1)        Kaji pemasukan dan pengeluaran dan karakteristik urin
Rasional : mengidentifikasi urin
2)        Tentukan pola berkemih pasien dan perhatikan variasi pola berkemih pasien
Rasional : mengontrol sebsasi kebutuhan berkemih pada pasien
3)        Dorong peningkatan pemasukan cairan
Rasional : peningkatan hidrasi pembilas bakteri, darah dan debris dan dapat membantu lewatnya batu
4)        Kolaborasi dengan tenaga laboratorium untuk memeriksa urin ( catat adanya keluaran batu untuk dianalisa
Rasional : untuk mengidentifikasi tipe batu dan menentukan pilihan terapi yang akan digunakan
5)        Kolaborasikan dengan dokter untuk pemberian obat (asetazolamid /diamox, alupurinol, antibiotic, pemberian natrium dan kalium
Rasional : untuk membantu kestabilan retensi urin secara farmakologi
3.         Resiko Kekurangan volume cairan b/d mual muntah, dieresis pascaobstruksi
Intervensi :
1)    kaji pemasukan dan pengeluaran cairan
       Rasional    : untuk mengetahui keseimbangan input-output pasien
2)    kaji KU pasien (mukosa bibir,torgor kulit)
       Rasional    : untuk mengetahui adanya tanda-tanda dehidrasi sehingga dapat dilakukan penanganan segera
2)    identifikasi penyebab  adanya perubahan volume cairan  (muntah,diare ,intake output urin )
       Rasional    : untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya
3)    minta pasien dan keluarga untuk mencatat jumlah cairan yang keluar dan masuk (intake-output) seperti minum,urin,muntah dll
       Rasional    : untuk mengetahui /memantau jumlah balance cairan pada pasien
4)    kaji adanya dehidrasi
       Rasional    : untuk mengetahui tingkat kekurangan volume cairan pada pasien 
5)    kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan intra vena (IV)
       Rasional    : untuk membantu menagani kekurangan volume cairan pada pasien dengan  teknik farmakologi
6)    anjurkan keluarga untuk memberikan minum banyak pada pasien
       Rasional    : untuk membantu menangani kekurangan volume cairan pada pasien dengan teknik non-farmakologi
7)    pantau jumlah cairan dan elektrolit pasien
       Rasiona : intuk mengontrol jumlah cairan dan elektrolit pada pasien

BAB III
KASUS
A.    Uraian Kasus
Tn.K 58 thn datang ke rumah sakit pada tanggal 2 Agustus 2012 diantar oleh keluarganya,dengan keluhan sudah hampir 1 bln pasien sering merasakan nyeri pada daerah punggung bagian belakang dengan skala nyeri 7, pasien mengatakan bahwa nyeri sering dirasakan saat pasien melakukan aktivitas yang berat dengan lama 5-10 menit setiap melakukan aktivitas berat, pasien juga mengatakan bahwa saat BAK terasa sangat nyeri seperti tertusuk-tusuk dan terbakar sehingga pasien merasa takut untuk melakukan BAK, Pasien mengatakan saat  BAK urin yang dikeluarkan hanya sedikit . Pasien juga mengatakan bahwa sebelumnya pola makan pasien tidak begitu teratur,pasien sering mengkonsumsi makanan sejenis sea food, dan memiliki kebiasaan sedikit mengkonsumsi air putih, pasien mengatakan sejak sakit pasien sering merasa haus,  pasien juga mengatakan akhir-akhir ini sering mual dan muntah.. Pasien mengatakan merasa cemas dengan keadaan penyakitnya  dan mengatakan takut tidak akan sembuh seperti keadaan normal.
Saat dilakukan pengkajian didapatkan TTV : TD : 130/90 mmHg, nadi : 90x/mnt, suhu : 37,50C , RR : 24 x/mnt, turgor kulit tidak elastic , mukosa bibir tampak kering dan pasien terlihat pucat dan  lemah.
Setelah dilakukan tes laboratorium didapatkan hasil bahwa terdapat penumpukan cairan kristaloid (zat kapur ) pada kandung kemuh (VU) pasien.pasien terpasang kateter urin untuk membantu proses pengeluaran urin (BAK ).

Didapatkan hasil laboratorium :
Darah rutin                  Hasil                Normal                        Satuan
Hb                               13,5                 12,0-18,0                     g/ dl.
Ht                                42                    37-52                           %
Leukosit                      6.300               4.800-10.800               / µl
Trombosit                    368.000           150.000-450.000         / µl
Hemostatis rutin
Masa protombin          12,7                 11-17                           dtk
APTT                          32,6                 30-40                           dtk

Kimia                         
Protein total:
Protein total                7,3                   6-8                               g/dl
Albumen                     3,9                   3,5-5                            g/dl
Globulin                      3,4                   1,5-3,5                         g/dl
Fosfatase alkali           125                  35-135                         µ/L
SGOT                          19                    10-36                           µ/L
SGPT                          20                    10-45                           µ/L
Gamma GT                 26                    7-40                             µ/L
Trigliserida                  67                    < 150                           mg/dl
HDL kolesterol           50                    > 40                             mg/dl
LDL kolesterol            139                  < 120                           mg/dl
Natrium                       136                  145-147                       mmol/L
Kalium                                    4,0                   3,5-5,5                         mmol/L
Klorida                        99                    94-111                         mmol/L
Asam urat                    4,6                   P: 3,4-7,0                     mmol/L
                                                            W: 2,4-5,7
Sero imunologi
PSA                           6,5                    < 4,0                             ng/ml

Urinalisa
Urin lemgkap:
Warna                        : keruh
Kekeruhan                 : Keruh

Analisa dengan klinitex
Bj                               1.030                1.005-1.500                  g/dl.
pH                             5,0                    5,0-8,0
Protein                       ++                     Negatif                        
Glukosa                     Negatif             Negatif
Keton                        Negatif             Negatif
Darah                         +++                  Negatif
Bilirubin                    Negatif             Negatif
Urobilinogen             3,2                    3,2-166                         mmol/L
Nitrit                          Negatif             Negatif

Mikroskopik             
Sedimen :
Sel ephitel                  +                       Positif                         
Leukosit                    25-30                0-5                                /LPB
Erytrosit                    > 100                0-1                                /LPB
Silinder                      Negatif             Negatif            
Kristal                        Negatif             positif
Bakteri                       ++                     positif
Masa protombin        14,7 dtk
APTT                         38,4 dtk

Kimia:
Ureum                       56                     10-50                            mg/dl
Kreatinin                   1,3                    0,6-1,2                          mg/dl













B.     Pengkajian  keperawatan
Nama Perawat                  : Perawat B
Tanggal Pengkajian          : 2 Agustus 2012
Jam Pengkajian                : 08.00 wib

1.    Biodata :
Identitas Klien
Nama               : Tn. K
Umur               : 58 tahun
Alamat                        : Jl. Kapas No.7 Blok A Sleman
Agama             : Islam
Pendidikan      : SMA
Pekerjaan         : Wiraswasta
Status perkawinan       : sudah kawin
Suku                : Jawa
Tanggal MRS : 2 Agustus 2012
Diagnosa masuk : Gagal ginjal Akut
Penanggung Jawab
Nama               : Ny.I
Umur               : 33 tahun
Alamat                        : Jl. Kapas No.7 Blok A Sleman
Agama             : Islam
Pendidikan      : SMA
Pekerjaan         : IRT
Hubungan dengan klien          : Istri
2.    Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri pada bagian punggung.
3.    Riwayat Kesehatan
a.    Riwayat Penyakit Sekarang
Klien datang ke RS dengan keluhan merasa nyeri pada punggung. Nyeri dirasakan saat klien melakukan aktivitas yang berat dengan lama 5-10 menit setiap melakukan aktivitas berat, pasien juga mengatakan bahwa saat BAK terasa sangat nyeri seperti tertusuk-tusuk dan terbakar sehingga pasien merasa takut untuk melakukan BAK.
b.      Riwayat Penyakit Dahulu
Klien tidak memiliki riwayat operasi sebelumnya.
c.       Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit keluarga seperti DM dan hipertensi.




4.    Genogram
 











Ket :
            : Perempuan
           
: Laki-laki


: Klien


: Meninggal

: Tinggal dalam satu rumah

5.    Basic Promoting physiology of Health
1.      Aktivitas dan latihan
Klien mengatakan sebelum sakit klien dapat melakukan aktifitas yang berat. setelah sakit klien tidak pernah melakukan aktivas yang berat karena aktivitas yang berat membuat rasa nyeri pada punggungnya.
2.      Tidur dan istirahat
Klien mangatakan sebelum sakit klien tidur 7jam/hari, setelah sakit klien kurang tidur karena sering merasa nyeri saat ingin BAK pada saat istirahat.
3.      Kenyamanan dan nyeri
P : Saat ingin BAK
Q :Seperti tertusuk-tusuk dan terbakar
R : nyeri dirasakan dibagian punggung
S :7
T :.5-10 menit setiap melakukan aktivitas berat

4.      Nutrisi
BB : 55kg, TB : 170cm, LiLa :12
A : antropometri,IMT : BB/(TB)2 = 55 kg/(1,7)2 = 19,0
B : Biokimia. Hb = 13gr/dl.
C : Klinik : Klien tidak nampak pucat dan lemah dan tidak mengalami penurunan BB.
D : Diet klien mengatakan dalam sehari makan 3x/hari

5.      Cairan, elektrolit dan asam basa.
Dalam sehari klien minum 5gelas/hari 1 glass = 200cc.
Minum 5 gelas/hari=5x200=1000ml
Infus 500cc/8jam=3x500=1500ml
Air metabolisme 5/kg BB/hari=5x55=275ml
Input=1000+1500+275=2775ml
Urin=8x300=2400ml/hari
Feses=100ml/hari
IWL=15/kg/hari=15x50=750ml
IWL=IWL+200(suhu sekarang-370C)=750+200(37,5-37)=850
Output=2400+100+850= 3350
BC =Input-Output
=2775-3350
      =-575ml
pH =7,36

6.      Oksigenasi
klien tidak menggunakan alat bantu pernafasan, suhu : 37,50C , RR : 24 x/mnt.
7.      Eliminasi fekal/bowel
BAB klien dilakukan dengan normal, warna kuning kecoklatan, bau khas feses, dan tidak terdapat darah dalam feses.
8.      Eliminasi urin
Klien BAK sehari sebanyak 8x sehari dengan sekali BAK sebanyak 300ml, warna urin kuning jernih, berbau khas urin dan tidak ada darah dalam urin.
9.      Sensori, persepsi dan kognitif
Klien tidak menggunakan alat bantu kacamata dan klien juga tidak menggunakan alat bantu pendengaran.

6.    Pemeriksaan Fisik
a.         Keadaan umum : Compos Mentis
b.         TTV : TD : 120/90 mmHg, nadi : 90x/mnt, suhu : 37,50C , RR : 24 x/mnt Pemeriksaan kepala
Pada kepala berbentuk mesochepal, rambut klien tidak rontok, tidak ada lesi pada kulit kepala, tidak berketombe, dan tidak terdapat nyeri tekan pada kepala klien.
c.         Pemeriksaan muka
Muka klien terlihat pucat, tidak lesi pada wajah klien.
d.        Pemeriksaan mata
Bentuk mata simetris, sclera non ikterik, kornea jernih, pupilnya ishokor, konjungtiva anemis, palpebra edema.
e.         Pemeriksaan hidung
Hidung klien berbentuk simetris, tulang hidung tidak septum deviasi, tidak ada lesi, tidak terdapat hematom, tidak ada polip dan epistaksis.
f.          Pemeriksaan mulut
turgor kulit pucat, mukosa bibir tampak kering dan pasien terlihat pucat
g.         Pemeriksaa leher klien
Tidak ada pembesaran thyroid, tidak ada kaku kuduk,  reflek menelan baik.
h.         Pemeriksaan dada
Dada klien simetris, klien terlihat sesak nafas, ronkhi (-), tidak terlihat retraksi interkosta.
i.           Pemeriksaan abdomen
Inspeksi : warna kulit coklat, tidak ada lesi
Auskultasi : peristaltik usus 15 kali
Palpasi : Saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.
Perkusi : terdengar timpani
j.           Pemeriksaan ekstremitas
Tidak terjadi pembengkakan pada ekstremitas klien dan tidak ada tanda kelemahan otot.
a.       Atas : Kekuatan otot
Capilary  refil 1detik
Akral : hangat
b.      Bawah : Kekuatan otot
Capilary refil 1detik
Akral : hangat




C.     Analisa Data
Nama klien : Tn.K                                          No.Register : 12012011                         
Umur : 58 Tahun                                             Diagnosa Medis : Urolitiasis          
Ruang rawat : -                                               Alamat : Jl. Kapas No.7 Blok A Sleman
No.
Data focus
Etiologi
Problem
1.
DS : klien mengatakan nyeri saat berkemih
DO :
-          TD : 130/90 mmHg
-          RR : 24x/mnt
-          Suhu : 37,5 0C
-          Muka klien tampak meringis menahan sakit
P : Nyeri dirasakan saat  klien melakukan aktivitas berat dan saat BAK
Q : nyeri seperti tertusuk-tusuk dan terbakar
R : nyeri dirasakan klien di daerah punggung bagian belakang
 S :  skala nyeri 7
T : nyeri dirasakan selama 5-10 mnt

Agen injuri biologis
Nyeri akut
2.
DS :
-          Klien mengatakan merasakan nyeri saat BAK sehinnga merasa takut  untuk melakukan BAK
-          Pasien mengatakan saat  BAK urin yang dikeluarkan hanya sedikit 
DO :
-           Wajah klien terlihat meringis menahan sakit
-          Terpasang kateter urin pada klien
stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.

Perubahan  pola  eliminasi urine
3.
DS : 
-          Pasien mengatakan memiliki kebiasan sedikit mengkonsumsi air putih
-          Pasien mengatakan sering mengalami mual muntah
-          pasien mengatakan sejak sakit pasien sering merasa haus
DO :                                  
-          Mukosa bibir pasien tampak kering
-          Kulit pasien terlihat pucat dan lemah
-          Turgor kulit tidak elastic  
-          Nadi : 90x/mnt
-          RR :24x/mnt
-          TD : 130/90 mmHg
-          Suhu : 37,5 0C
-          Ht ; 42. Warna urin  keruh, dengan tingkat kekeruhan keruh,
-          Kristaloid (+), bakteri (+)

Mual muntah dan asupan cairan
Resiko kekurangan volume cairan

D.    Prioritas Diagnosa
1. Nyeri akut b.d agen injuri biologis ditandai dengan
2.  Perubahan pola eliminasi urin b.d stimulasi kandung kemih
3.  Resiko kekurangan volume cairan b.d mual muntah dan asupan





E.     RENCANA KEPERAWATAN
Nama klien : Tn.K                                                       No.Register : 12012011                         
Umur : 58 Tahun                                                         Diagnosa Medis : Urolitiasis          
Ruang rawat : -                                                 Alamat : Jl. Kapas No.7 Blok A Sleman
No
Diagnosa keperawatan
Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi
Rasionalisasi
TTD
1
Nyeri akut b.d agen injuri biologis
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam , diharapkan nyeri berkurang dengan kriteria hasil :
P : pasien tidak lagi merasakan  nyeri saat berkemih
Q :  saat berkemih pasien tidak lagi merasakn nyeri  seperti tertusuk-tusuk, dan terbakar
R : pasien tidak lagi mengeluh nyeri   dibagian belakang punggung
S : skala nyeri pasien berkurang  menjadi 3
T : -

-  Pasien tampak  lebih tenang
-TTV dalam batas normal :
-  TD 120-140/80-100 mmHg
–Nad i 80-100 x/menit
-  Suhu 36°C- 37°C
- RR 16 – 24 x/menit
- saat merasakan nyeri pasien bisa  mengontrol dengan teknik relaksasi (nafas dalam )
1. kaji TTV
2. Kaji skala nyeri, lokasi dan intensitasnya
3.   Ajarkan
penggunaan teknik manajemen nyeri ( latihan napas dalam,imajinasi)
4. Kalaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotic
5. Kalaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik sesuai indikasi

1.  Untuk mengetahui kondisi umum pasien
2. untuk menentukan skala,lokasi,dan intensitasnnyerinya. 
3.  Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin berlangsung lama
4.  dapat membantu dalam menentukan obat yntuk membunuh bakteri penyeban infeksi
5.  dapat membantu dalam menentukan obat yang digunakan untuk menghilangkan nyeri.
Prwt 1
2
Perubahan pola eliminasi urin b.d   stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan klien BAK secara normal dengan criteria hasil :
- klien tidak merasakan nyeri lagi saat BAK
- warna urin klien kembali normal (kuning)
1.   Awasi asupan dan haluaran, karakteristik urine, catat adanya keluaran batu.
2.   Tentukan pola berkemih normal klien dan perhatikan variasi yang terjadi.
3.   Dorong peningkatan asupan cairan.
4.  kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat  sesuai indikasi:
-   Asetazolamid (Diamox), Alupurinol (Ziloprim)

-       Hidroklorotiazid (Esidrix, Hidroiuril), Klortalidon (Higroton)

-       Amonium klorida, kalium atau natrium fosfat (Sal-Hepatika)

-       Agen antigout mis: Alupurinol (Ziloprim)

-       Antibiotika

-       Natrium bikarbonat

-       Asam askorbat









1. untuk mengetahui karakteristik adanya batu ginjal pada urin  
2. untuk mengetahui keseimbangan input dan output klien
3. untuk menghindari terjadinya kekurangan cairan pada klien
4.

- Meningkatkan pH urine (alkalinitas) untuk
- menurunkan pembentukan batu asam.
- Mencegah stasis urine dan menurunkan
-pembentukan batu kalsium.
- Menurunkan pembentukan batu fosfat
-Menurunkan produksi asam urat.
-Mungkin diperlukan bila ada ISK
-Mengganti kehilangan yang tidak dapat teratasi selama pembuangan bikarbonat dan atau alkalinisasi urine, dapat mencegah pemebntukan batu.
-Mengasamkan urine untuk mencegah berulangnay pembentukan batu alkalin
-Mungkin diperlukan untuk membantu kelancaran aliran urine.
-Mengubah pH urien dapat membantu pelarutan batu dan mencegah pembentukan batu selanjutnya.
Prwt
3.
Resiko kekurangan volume cairan b.d mual muntah dan asupan cairan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan pasien tidak lagi mengalami mual muntah  dengan KH :
-  Mukosa bibir klien kembali lembab
-  Turgor kulit klien kembali elastic
-  Pasien tidak tampak lemah
-  Input dan output klien seimbang
1. ukur pemasukan dan pengeluaran dengan akurat
2. perhatikan tanda dan gejala kekurangan cairan
3. berikan cairan yang diizinkan sesuai dengan program pengobatan
4. control suhu lingkungan 



1. untuk membantu memperkirakan kebutuhan cairan klien
2. kehilangan cairan dapat menyebabkan gangguan hipovolemik
3. fase diuretic dapat berlanjut ke fase oliguria, waspada dehidrasi noktural
4. suhu lingkungan dapat mempengaruhi kekurangan cairan
Perawat

F.      Implementasi dan Evaluasi
Nama klien : Tn.K                                          No.Register : 12012011                         
Umur : 58 Tahun                                             Diagnosa Medis : Urolitiasis          
Ruang rawat : -                                               Alamat : Jl. Kapas No.7 Blok A Sleman

No.
Tgl
Jam
Implementasi
Evaluasi
Nama Ttd
1.
2- 08-2012
09.00
 1. mengkaji TTV
S:-
O:     TD : 130/90 mmHg
RR : 24x/mnt
Suhu : 37,5 0C

2.mengkaji skala nyeri, lokasi dan intensitasnya
S : klien mengatakan nyeri pada punggungnya dan nyeri saat berkemih
O :
P : Nyeri dirasakan saat  klien melakukan aktivitas berat dan saat BAK
Q : nyeri seperti tertusuk-tusuk dan terbakar
R : nyeri dirasakan klien di daerah punggung bagian belakang
 S :  skala nyeri 7
T : nyeri dirasakan selama 5-10 mnt

3.  mengajarkan
penggunaan teknik manajemen nyeri (latihan napas dalam,imajinasi)
S : -
O : klien nampak mengikuti arahan perawat.
4. mengkolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotic
S : -
O : pasien nampak minum obat yang diberikan.
5. Mengkoalaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik sesuai indikasi
S :-
O :cetorolac 1A/12jam
S :
 klien mengatakan nyeri pada punggungnya dan nyeri saat berkemih
O :
TD : 130/90 mmHg
RR : 24x/mnt
Suhu : 37,5 0C
P : Nyeri dirasakan saat  klien melakukan aktivitas berat dan saat BAK
Q : nyeri seperti tertusuk-tusuk dan terbakar
R : nyeri dirasakan klien di daerah punggung bagian belakang
 S :  skala nyeri 7
T : nyeri dirasakan selama 5-10 mnt, pemberian
cetorolac 1A/12jam.
A : Tujuan belum tercapai
P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,4 dan 5






































Prwt 1
2.
2- 08-2012
09.00
1. mengawasi asupan dan haluaran, karakteristik urine, catat adanya keluaran batu.
S : -
O : input 2775ml dan output 3350ml
BC  = input-output
       = 2775-3350
       = -575ml

2.   menentukan pola berkemih normal klien dan perhatikan variasi yang terjadi.
S : klien mengatakan saat berkemih merasa nyeri
O : urine klien terlihat keruh

3.mendorong peningkatan asupan cairan.
S :-
O : klien nampak menjalankan arahan perawat.

4.  kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat  sesuai indikasi:
S : -
O : Asetazolamid (Diamox), Alupurinol (Ziloprim), Hidroklorotiazid (Esidrix, Hidroiuril), Klortalidon (Higroton), Amonium klorida, kalium atau natrium fosfat (Sal-Hepatika), Agen antigout mis: Alupurinol (Ziloprim), Antibiotika, Natrium bikarbonat , Asam askorbat.
S :
klien mengatakan saat berkemih merasa nyeri
O :
BC  = input-output
       = 2775-3350
       = -575ml
Urine nampak keruh
A : tujuan belum tercapai
P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,dan4

3.
2- 08-2012
09.00
1. mengukur pemasukan dan pengeluaran dengan akurat
S : klien mengatakan minum air sebanyak 5gelas. Klien BAK 8x/hari dan BAB 1x/hari
O : BC = input-output = 2775-3350=-575
2. memperhatikan tanda dan gejala kekurangan cairan
S :-
O :
Mukosa bibir pasien tampak kering, Kulit pasien terlihat pucat dan lemah, Turgor kulit tidak elastic
3.memberikan cairan yang diizinkan sesuai dengan program pengobatan
S :-
O : klien nampak terpasang infuse 500cc/8jam
4. mengontrol suhu lingkungan 
S :-
O : 37C

S :
: klien mengatakan minum air sebanyak 5gelas. Klien BAK 8x/hari dan BAB 1x/hari
O :
BC = input-output = 2775-3350=-575, Mukosa bibir pasien tampak kering, Kulit pasien terlihat pucat dan lemah, Turgor kulit tidak elastic, klien terpasang infuse 500/8jam, dan suhu ruangan 37 c
A :
Tujuan belum tercapai.
P :
Lanjutkan intervensi 1,2,3 dan 4




BAB IV
PENUTUP
A.    Simpulan
Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi  (Purnomo, 2000, hal. 68-69)
Dari pengkajian yang dilakukan pada Tn.K maka diagnosa keperawatan yang muncul adalah:
1.      Nyeri akut b.d agen injuri biologis ditandai dengan
2.      Perubahan pola eliminasi urin b.d stimulasi kandung kemih
3.      Resiko kekurangan volume cairan b.d mual muntah dan asupan
           
B.     Saran
1.      Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa agar dapat meningkatkan pengetahuannya tentang macam-macam penyakit dan juga meningkatkan kemampuan dalam pembuatan asuhan keperawatan pada pasien dengan Batu ginjal.
2.      Bagi perawat
Diharapkan bagi perawat agar dapat meningkatkan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan serta pengetahuannya sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal terkhususnya pada pasien dengan penyakit batu ginjal.
3.      Bagi Dunia keperawatan     
Diharapkan asuhan keperawatan ini dapat terus diperbaiki kekurangannya sehingga dapat menambah pengetahuan yang lebih baik bagi dunia keperawatan, serta dapat diaplikasikan untuk mengembangkan kompetensi dalam keperawatan.

Daftar Pustaka
Purnomo, BB ( 2000), Dasar-dasar Urologi, Sagung Seto, Jakarta
Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta
Mansjoer,A.,Soprohaita.,Wardani,W.I.,Setiowulan,W.,2000.Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Media Aesculapius.Jakarta
Smeltzer.C Suzannae, Bare.G Breda.2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8.Jakarta.EGC
Santosa,Budi.2005.Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006 Definisi dan Klasifikasi. Jakarta.Prima Medika



1 komentar: