Ada kerinci nan tinggi menyangjungku
Ada pulau nan berhala
memujaku
Ada duabelas nan
berbukit satukanku
Adapula sungai nan
berbatang alirkanku
mengenalmu tak hanya pinang
tapi lebih pada kagumku
pada putrinya
mengenangmu bukan
sekedar siginjai
tapi lebih pada merdekaku
dengan empunya
berperahu hariku mengitari
batang sambil menunggu pukat nan berbaung,
karena di panggung
rumahku ada tempoyak
aku bercandi di atas
muara nan luas
ditemani setiap kubu yang
mencintai hijau
Aku belajar menjadi orang,
dari Si Kayo yang susah
tak selalu miskin
dari Si Hitam yang
gelap tak selalu kelam
O kupinang kau...
Yogyakarta,
06 Januari 2013

puisinyo menyentuh, dan cantik, apolagi kalo dibaco dengan asumsi bahwa puisi merupakan simbol yang belum tentu mencerminkan kenyataan secara apa adanya. tapi kalo dibaco dengan pendekatan bahwa puisi, atau lebih persisnya kata-kata dalam puisi, punya referensi langsung terhadap kenyataan, maka kayaknyo aku perlu ngasi sedikit info: A)"batang" punya paling sedikit tiga makna: batang = bangkai; batang = (batang) pohon, dan batang = sungai; B) "hari" juga beragam maknanya: hari = yaum (b. arab) atau day (b. inggris), contoh: hari senin, selasa, rabu, dst; hari = Kresna, nama seorang dewa Hindu; C)Orang Kayo bukan nama orang, tetapi gelar, gelar yang disandangkan kepada saudagar besar. gelar orang kayo jugo digunakan di aceh pada zaman kerajaan islam nusantara. di jambi, seorang saudagar cina, pernah memperoleh gelar sebagai Orang Kayo.
BalasHapus