Jumat, 04 Januari 2013

CATATAN PINGGIR DESAKU


 
Secara geografis desaku terletak di daerah terpencil, sehingga menjadi bagian dari desa tertinggal, akibatnya kurang mendapatkan sentuhan pendidikan. Aku pun terkenang sewaktu duduk di kursi penantian di muka jendela harapan, “Desa lain pasti tak mengalami seperti apa yang terjadi dengan desaku, mungkin ini menjadi kenyataan yang harus kuhadapi”.
Aku sudah merasakan kecemburuan pada desa tetangga sejak kelas 2 MTs, tapi ada satu yang masih bisa kubanggakan “Desaku, desa beradat”. Kesopanan dan tutur sapa yang lembut terhadap guru dan orang tua masih terjaga rapi, para pemudi berjalan menggunakan kain songket serta dengan baju tertutup, para pemuda tidak mengenal minum-minuman keras. Aku benar-benar mendapatkan kehangatan sapaan masyarakat, keharmonisan dalam bergaul. Aku pun sempat memberi label, mungkin ini yang dimaksud Nabi tentang ‘Rumahku adalah syurgaku’. Tapi setelah berdirinya sebuah kerajaan zaman yang dimotori oleh teknologi. Pertahanan yang hanya dibentengi sebilah bambu keimanan dan sesuap bangku pendidikan dengan mudah jatuh tersungkur. Sungguh dramatis.
Demikian pula fenomena yang saat ini terjadi di desaku. Seyogyanya mereka memiliki   sikap santun dan tutur kata yang lembut terhadap orang tua, namun sekarang sudah sulit untuk ditemukan, ketidakakuran di antara suami-istri, ibu, ayah dan anak sudah menjadi pemandangan pertama dan tontonan sehari-hari. Pemudi juga sudah tidak lagi menggunakan kain songket dan baju tertutup sebagai pakaian kebanggaannya, melainkan pakaian serba minim, ketat, dan seksi, selain itu juga para pemuda yang dulu  tidak mengenal minum-minuman keras, sekarang sudah mengkosumsi minum-minuman keras, bahkan telah bersahabat baik dengan narkoba.
Problematika unik dan menggelitik juga dapat disaksikan, walaupun masyarakat di sana tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan yang cukup sebagai seorang politikus, tetapi banyak di antara mereka ikut-ikutan terjun di dalam dunia politik. Akibatnya sering terjadi percekcokan dan perselisihan, karena perbedaan ideologi saat pemilihan, tidak peduli itu sesama saudara, ayah atau anak sendiri. Saling tak berteguranpun terkadang tak dapat dielakkan. Padahal siapa yang ia dukung serta apa yang bakalan diperoleh dari yang diperjuangkan, sedikitpun tak pernah sampai memberikan harapan ke depannya. Hal seperti ini mungkin saja bisa dibenarkan dengan beberapa  alasan, ya! selama hal ini masih dalam kolidor politik yang sehat serta bekal pengetahuan yang benar.
Hukum rimba atau hukum laut bukan saja terjadi di Pemerintahan pusat dan Pemerintahan daerah, melainkan sudah merambah ke Pemerintah Desa. Ketidakadilan hukum yang selalu ramah kepada orang-orang yang memangku jabatan, orang-orang kaya serta teman dekat juga menjadi pengalaman pahit keluargaku, peristiwanya terjadi tepat ketika aku duduk di bangku Mts. Setidaknya sudah dua kali menimpa keluargaku.
Pertama orang tuaku harus merelahkan tanah sekitar ½ Ha yang ditanami pepohonan rambutan dan durian, karena diyakini oleh pemerintah desa sebagai tanah milik desa, walaupun orang tuaku memiliki surat tanah (segel) dari kepemilikan tanah tersebut, namun  tetap saja kalah dalam persidangan. Kedua, orang tuaku kembali mengalami kerugian yang sama, yaitu kembali menyerahkan tanah sekitar 1 Ha yang ditumbuhi pepohonan duku. Tapi kali ini atas pengakuan pribadi seseorang yang hanya bermodalkan keyakinan kalau tanah tersebut miliki nenek moyangnya dulu. Orang tuaku sudah begitu jelas memiliki surat tanah atas kepemilkan tanah tersebut. Setelah dilakukan persidangan sekitar 2 bulan, keputusan pun berakhir dengan kekalahan. Ironisnya selain harus menyerahkan tanah tersebut, beliau juga harus membayar denda sebesar Rp6000,000,00.
Praktik-praktik korupsi juga sering mewarnai Pemerintahan Desa. Beberapa saat saja menjabat seseorang bisa membeli mobil sedan. Asumsi seperti ini memang sedikit terkesan syu’uzzon, tapi aku hanya menganalogikan dengan logika sehat,  apakah mungkin dalam waktu singkat dan dengan perolehan gaji sebesar Rp1000,000,00 sampai Rp2000,000,00/bulan seseorang bisa membeli mobil, tanpa ada sumber lain yang bisa menghasilkan uang.
Ada satu lagi yang membuat desaku dikenal oleh banyak desa di sekitarnya yaitu memiliki pemuda-pemuda yang ingin membuat kerusuhan, tidak diajak rusuh saja mau apalagi memang diajak rusuh, tidak peduli itu di desa orang lain atau di desa sendiri. Mereka selalu memberanikan diri berhadapan dengan siapa saja, maka tidak heran terbesit di telinga ada seorang pemuda yang menusuk, mengapak serta memukul pemuda desa lain.
Aku kini berada di daerah lain. Aku rasa permasalahan-permasalahan ini juga terjadi di belantika bumi manapun. Tidak lain tidak bukan suguhan pendidikan secara terencana, terkoordinir, kontinyuitas, serta komprehensif sebagai kuncinya. Catatan pinggir yang kuharap bisa berada di tengah.

Yogyakarta,   November 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar