Secara geografis desaku terletak di daerah
terpencil, sehingga menjadi bagian dari desa tertinggal, akibatnya kurang
mendapatkan sentuhan pendidikan. Aku pun terkenang sewaktu duduk di kursi
penantian di muka jendela harapan, “Desa lain pasti tak
mengalami seperti apa yang terjadi dengan desaku, mungkin ini menjadi kenyataan yang
harus kuhadapi”.
Aku sudah merasakan kecemburuan pada desa tetangga sejak kelas 2 MTs, tapi ada satu yang masih bisa kubanggakan “Desaku,
desa beradat”. Kesopanan dan tutur sapa yang lembut terhadap guru dan orang tua
masih terjaga rapi, para pemudi berjalan menggunakan kain songket serta dengan
baju tertutup, para pemuda tidak mengenal minum-minuman keras. Aku benar-benar
mendapatkan kehangatan sapaan masyarakat, keharmonisan dalam bergaul. Aku pun
sempat memberi label, mungkin ini yang dimaksud Nabi tentang ‘Rumahku adalah syurgaku’.
Tapi setelah berdirinya sebuah kerajaan zaman yang dimotori oleh teknologi. Pertahanan yang hanya
dibentengi sebilah bambu keimanan dan sesuap bangku pendidikan dengan mudah jatuh
tersungkur. Sungguh dramatis.
Demikian pula fenomena yang saat ini terjadi di desaku. Seyogyanya mereka memiliki sikap santun dan tutur kata yang lembut
terhadap orang tua, namun sekarang sudah sulit untuk ditemukan, ketidakakuran
di antara suami-istri, ibu, ayah dan anak sudah menjadi pemandangan pertama
dan tontonan sehari-hari. Pemudi juga sudah tidak lagi menggunakan kain songket
dan baju tertutup sebagai pakaian kebanggaannya, melainkan pakaian serba minim, ketat, dan seksi, selain itu juga para pemuda yang dulu tidak mengenal minum-minuman keras, sekarang sudah mengkosumsi minum-minuman keras, bahkan telah bersahabat baik dengan narkoba.
Problematika unik dan menggelitik juga dapat disaksikan,
walaupun masyarakat di sana tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan yang cukup sebagai seorang politikus, tetapi banyak di antara mereka ikut-ikutan terjun di
dalam dunia politik. Akibatnya sering terjadi percekcokan dan perselisihan,
karena perbedaan ideologi saat pemilihan, tidak peduli itu
sesama saudara, ayah atau anak sendiri. Saling tak berteguranpun terkadang tak
dapat dielakkan. Padahal siapa yang ia dukung serta apa yang bakalan diperoleh
dari yang diperjuangkan, sedikitpun tak pernah sampai memberikan harapan ke depannya.
Hal seperti ini mungkin saja bisa dibenarkan dengan beberapa alasan, ya! selama hal ini masih dalam kolidor
politik yang sehat serta bekal pengetahuan yang benar.
Hukum rimba atau hukum laut bukan saja
terjadi di Pemerintahan pusat dan Pemerintahan daerah, melainkan sudah
merambah ke Pemerintah Desa. Ketidakadilan hukum yang selalu ramah kepada orang-orang
yang memangku jabatan, orang-orang kaya serta teman dekat juga
menjadi pengalaman pahit keluargaku, peristiwanya terjadi tepat ketika aku duduk
di bangku Mts. Setidaknya sudah dua kali menimpa keluargaku.
Pertama orang tuaku harus merelahkan tanah
sekitar ½ Ha yang ditanami pepohonan rambutan dan durian, karena diyakini oleh
pemerintah desa sebagai tanah milik desa, walaupun orang tuaku memiliki surat
tanah (segel) dari kepemilikan tanah tersebut, namun tetap saja kalah dalam persidangan. Kedua,
orang tuaku kembali mengalami kerugian yang sama, yaitu kembali menyerahkan tanah sekitar 1 Ha yang ditumbuhi pepohonan
duku. Tapi kali ini atas pengakuan pribadi seseorang yang hanya bermodalkan
keyakinan kalau tanah tersebut miliki nenek moyangnya dulu. Orang tuaku sudah begitu jelas memiliki surat tanah atas kepemilkan tanah tersebut. Setelah dilakukan persidangan sekitar 2 bulan, keputusan pun berakhir dengan kekalahan. Ironisnya selain harus menyerahkan tanah tersebut, beliau juga harus
membayar denda sebesar Rp6000,000,00.
Praktik-praktik korupsi juga sering mewarnai
Pemerintahan Desa. Beberapa saat saja menjabat seseorang bisa membeli mobil sedan. Asumsi seperti ini memang
sedikit terkesan syu’uzzon, tapi aku
hanya menganalogikan dengan logika sehat, apakah mungkin dalam waktu singkat dan dengan
perolehan gaji sebesar Rp1000,000,00 sampai Rp2000,000,00/bulan seseorang bisa
membeli mobil, tanpa ada sumber lain yang bisa menghasilkan uang.
Ada satu lagi yang membuat desaku dikenal
oleh banyak desa di sekitarnya yaitu memiliki pemuda-pemuda yang ingin membuat
kerusuhan, tidak diajak rusuh saja mau apalagi memang diajak rusuh, tidak
peduli itu di desa orang lain atau di desa sendiri. Mereka selalu memberanikan diri
berhadapan dengan siapa saja, maka tidak heran terbesit di
telinga ada seorang pemuda yang menusuk, mengapak serta memukul pemuda desa
lain.
Aku kini berada di daerah lain. Aku rasa
permasalahan-permasalahan ini juga terjadi di belantika bumi manapun. Tidak
lain tidak bukan suguhan pendidikan secara terencana, terkoordinir,
kontinyuitas, serta komprehensif sebagai kuncinya. Catatan pinggir yang kuharap
bisa berada di tengah.
Yogyakarta, November 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar