di mana kita dapati teriakan rerumputan, di sana seharusnya kita jumpai padi yang merunduk
di mana kita dapati bumi berguncang cadas, di sana kita sadari ada yang di luar batas
saat itu...
ada bisik yang menjadi cermin tilik
dari
Sang Kholiq yang membidik
Nama-nama agung kembali berkumandang
setelah tak lagi dikenang
di Pulau Sumateraku, sayang
bekas luka dulu masih tertera darah
kini kembali menjadi terdakwa
di Perairan Simelue
selagi alam membuka mata
tak kira kita tersangka
yang mesti dilumuri petaka
masih menanti waktu tuk mencuci muka
di sejadah sadar kita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar