Aku mendapat kabar katanya ada sesosok lelaki aneh, bertubuh krempeng, berkulit sawo matang, dan berambut hitam lebat di kebun durian milikku. Kebenaran berita itu nyata adanya. Sesampai di sana aku memerhatikanya ada seorang yang sedang mengelus-elus buah durian, menempelkan hidungnya pada duri-duri yang tajam itu, dan tampak olehku ia terbuai dalam aroma hembusan bau durian tersebut.
Aku sendiri masih belum bisa menyimpulkan kenapa ia memerlakukan durian tak ubahnya lagi sedang memanjakan anaknya. Bahkan seperti halnya wudhu dalam sholat dan serupa pakaian di badan.
Keesokan
siang kulihat angin tampak bertiup kencang, daun-daun di dahan menggrinding,
daun-daun kering berterbangan dan beberapa durian pula kulihat tampak
melepaskan diri dari dahannya. Aku kembali menemukan lelaki yang sama dan masih
dengan perilaku yang sama.
Tiba-tiba
saja ia memanggil namaku dari muka pintu pondok. Seakan kedatanganku sudah ia
tunggu. “Ayo! Ke sini kawan. Aku menunggumu sejak beberapa hari yang lalu”
Aku
kaget bukan main, padahal ada pohon besar yang melindungi tubuhku. “Ya! ka...wan
te...rima ka..sih” Jawabku dengan suara agak pelo
Di
pondok itu ia banyak menceritakan segala hal tentang dirinya. Ia mengatakan
sejak usia tiga tahun ia sudah mulai dikenalkan orang tua pada setiap makanan
yang berbau durian. Mulai dari asam durian yang biasa dikenal dengan sebutan
tempoyak, ada juga lempuk durian, kerupuk durian, dan berbagai macam olahan
durian lainnya.
Dan
ia juga sempat meneteskan airmata. Saat di mana ia terkenang menu terakhir yang
ia nikmati semenjak kepergian ibunya. Adalah kopi hangat yang dicelupkan
bersama sebongkah durian. Makanan yang ia pikir jauh lebih nikmat dari pizza
atau sphageti sekalipun.
Aku
sempat memerhatikan wajahnya sekitar
sepuluh menit tanpa berkedip, aku tak menduga kalau wajahnya memang jauh lebih
mirip sama buah durian. Aku dengar-dengar orang-orang pun sudah tak mengenalnya
dengan nama Dian Kusuma, melainkan Dian Manusia Separoh Durian.
Ditambah
lagi tiga tahun yang lalu sejak kepalanya ditimpa buah durian. Bukan hanya semakin
menampakkan kemiripan secara fisik, melainkan juga sifat kedurianan yang jauh
lebih dominan dibandingkan sifat lahiriah seorang manusia yang selama ini ia
miliki. Mungkin saja ada syaraf yang putus atau trauma, karena buah durian itu
begitu keras menghantam kepalanya. Dian sempat kolaps sebentar di bawah pohon
durian tersebut, namun ia tersadar saat mendengar dentungan durian lain yang jatuh tepat di
samping kiri daun telinganya.
Berawal
dari kejadian itulah kini ia terasingkan dari pergaulan. Karena bau yang ia
bawa tak jarang membuat orang menutup rapat-rapat hidung dan juga mulutnya.
Tapi ia sendiri tetap tak memilih pengobatan apapun terhadap penyakit yang ia
alami. Menurutnya, kealamian dan kemurnian wangi durian mengalahkan parfum dari
perancis sekalipun. Dan ia tetap berbangga
hati dengan sifat kedurianan yang mengalir dalam dirinya saat ini.
Penampilan
ala durian yang begitu ia cintai, tak jarang pula membuat orang-orang tertawa
geli. Norak, kolot, kampungan, atau ndeso selalu menjadi kesan pertama di saat
orang-orang melihatnya. Namun tetap beda halnya dengan kesimpulan yang ia
miliki. Ia berpendapat penampilannya jauh lebih keren dibandingkan mode apapun.
Bahkan mode ala korea sekalipun yang sekarang begitu diagungkan banyak orang.
Tak
ketinggalan pula ia menuturkan sebuah cerita yang ia anggap lucu. Namun bagiku cerita
ini kubilang sangat nekad. Dua setengah tahun yang lalu ia pernah mencoba tuk
berpergian dengan menggunakan pesawat. Ironi sekali, ia harus membungkus
mimpinya menjadi khayalan tuk menembus awan serta melayang di udara. Kesempatan
itu memang tak pernah ada untuknya.
“Ini
peraturan yang diada-adakan orang luar negeri kan, Pak!” Ucapnya pada salah
satu pengawas bandara.
“Hei!
Kamu jangan asal bicara. Baumu itu yang akan mengganggu penerbangan kita.
Sudah! pergi sekarang dari sini” Ia menarik tangan Dian Manusia Separoh Durian
ke luar dari ruangan bandara.
Dian
belum mau kalah. “Lalu bagaimana dengan pesawat Sukhoi Super jet-100 buatan
Rusia yang katanya begitu canggih. Bukankah ia jatuh karena salak yang menggunung, bukan karena
bau durian”
“Berhenti
bualanmu! Kamu mau aku bawa ke kantor polisi, karena ulahmu yang menggangu
ketertiban bandara” Ia semakin geram.
“Ngapain
saya dibawa ke kantor polisi? Kalau ke toko atau kios buah-buahan ya
boleh-boleh saja. Hehehe... Ya karena ini bukan permasalahan kriminal, tapi
siapa yang sebenarnya salah, bau duriankah atau salak yang menggunung?”
“Terserah
apa yang kau katakan! Aku tak ada cukup waktu melayani kebodohanmu” Pengawas
bandara itu pun pergi meninggalkan Dian Manusia Separoh Durian.
Sebenarnya
ada banyak orang yang menyarankan supaya Dian mau mengobati penyakitnya. Dan
mereka bilang ada sebuah terapi tuk menghilangkan semua jenis bau di Singapura.
Tapi Dian tetap tak mau. Kalaupun ia mau berobat, itu tentu bukan sampai ke
luar negeri.
Dian Manusia Separoh Durian semakin
yakin kalau peraturan yang tidak membolehkan ada bau durian di dalam pesawat
adalah peraturan yang diada-adakan orang luar negeri. Hal itu terbukti ketika
ia menyaksikan sebuah acara televisi yang menayangkan orang-orang barat membuat
perlombaan memakan durian. Dibayangan mereka durian sesuatu yang menjijikkan,
ibarat bangkai atau kotoran yang sangat menyengat dan barang siapa yang mampu
menaklukan tantangan itu akan mendapatkan hadiah yang begitu besar.
Semuanya terasa beda di indera rasa
mereka, karena memang sejak kecil lidahnya tak dibiasakan dengan buah durian.
Lalu kenapa apa yang ia rasakan, kita pun juga ikut merasakan? Namun kenapa apa
yang kita rasakan, mereka sama sekali tak mau merasakannya? Sungguh sangat tak
adil.
Keadaan hidup sebagai Manusia
Separoh Durian. Memang sangat sulit tuk disesuaikan dengan kondisi tempat
tinggalnya saat ini. Setiap orang-orang yang ia ditemui berlomba-lomba
menunjukkan kekerenan, baik dari ucapan dan penampilannya masing-masing.
Dian sendiri masih bisa terima kalaupun
memang semua orang memanggilnya Manusia
Separoh Durian. Asal jangan diganti dengan ‘Menyusia Sivarro Darayen’, karena
menurutnya bahasa di awal jauh lebih indah dibandingkan bahasa apapun di dunia.
Pagi itu, di sudut pasar yang kumuh.
Dian Manusia Separoh Durian sempat melihat seorang gadis cantik trendi yang
berlindung di balik tembok pembatas, ia mengira itu anak kenapa? Dua menit setelah itu Dian melihat ibu berkerudung
kain seakan mencari seseorang. Ibu itu berjalan sambil berteriak “Nak! Kamu di
mana? Tolong bantu ibu bawa durian ini”. Ia baru mengerti kalau gadis cantik
trendi itu yang dicari, karena begitu suara itu mendekatnya, ia kembali buru-buru
lari.
Dian Manusia Separoh Durian
menghampiri gadis cantik trendi tersebut. Sayang nasib berkata lain, sebelum ia
sempat mendekat. Ia langsung diteriaki maling. Sontak saja orang ramai-ramai
mengerumuni tubuh krempeng si Dian Manusia Separoh Durian. Hingga ia pun mengakhiri
hidupnya hari itu juga , karena beberapa kali pukulan keras itu mendarat di
tubuhnya. Dian Kusuma meninggal di tangan orang kampungnya sendiri.
Di malam harinya gadis cantik trendi
seolah mendapat bisikan ghaib. Sebentuk suara masuk melalui mimpinya dan
menginginkan Dian tak diperlakukan seperti pemakaman pada umumnya. Dipesan
tersebut, Dian Manusia Separoh Durian alias Dian Kusuma sama sekali tak boleh
dimandikan dengan air, melainkan cukup dilumuri durian di sekujur tubuhnya. Tak
diperkenankan juga pakai kain kafan, melainkan dibalut dengan Sang Saka Merah
Putih. Selain itu ia juga harus disholatkan dengan Bahasa Indonesia. Sedangkan pada ritual penguburan Dian harus diiringi
dengan tari-tarian dan juga lagu Indonesia Raya.
Tak ada seorang pun yang memercayai
pesan tersebut. Mereka menganggap itu hanya bisikan syaitan. Syirik bila dilakukan.
Mereka memerlakukan proses pemakaman Dian tak ada beda dengan manusia pada
umumnya.
Pesan terakhir yang pernah diucapkannya padaku, andai aku ingin tetap bertahan di dekatnya. Seperti, bau tak
sedap dari tangan sehabis makan durian bisa dihilangkan dengan mencuci tangan
di dalam kulitnya. Selain itu orang yang mabuk karena terlalu banyak makan
durian bisa diobati dengan meminum air yang terlebih dahulu dimasukkan ke dalam
kulitnya.
Semua penawar itu ternyata ada dalam dirinya.
Yogyakarta, 02 Juli 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar