Sabtu, 07 Juli 2012

MANUSIA SEPAROH DURIAN



Aku mendapat kabar katanya ada sesosok lelaki aneh, bertubuh krempeng, berkulit sawo matang, dan berambut hitam lebat di kebun durian milikku. Kebenaran berita itu nyata adanya. Sesampai di sana aku memerhatikanya ada seorang yang sedang mengelus-elus buah durian, menempelkan hidungnya pada duri-duri yang tajam itu, dan tampak olehku ia terbuai dalam aroma hembusan bau durian tersebut. 
Aku sendiri masih belum bisa menyimpulkan kenapa ia memerlakukan durian tak ubahnya lagi sedang memanjakan anaknya. Bahkan seperti halnya wudhu dalam sholat dan serupa pakaian di badan.

Keesokan siang kulihat angin tampak bertiup kencang, daun-daun di dahan menggrinding, daun-daun kering berterbangan dan beberapa durian pula kulihat tampak melepaskan diri dari dahannya. Aku kembali menemukan lelaki yang sama dan masih dengan perilaku yang sama.
Tiba-tiba saja ia memanggil namaku dari muka pintu pondok. Seakan kedatanganku sudah ia tunggu. “Ayo! Ke sini kawan. Aku menunggumu sejak beberapa hari yang lalu”
Aku kaget bukan main, padahal ada pohon besar yang melindungi tubuhku. “Ya! ka...wan te...rima ka..sih” Jawabku dengan suara agak pelo
Di pondok itu ia banyak menceritakan segala hal tentang dirinya. Ia mengatakan sejak usia tiga tahun ia sudah mulai dikenalkan orang tua pada setiap makanan yang berbau durian. Mulai dari asam durian yang biasa dikenal dengan sebutan tempoyak, ada juga lempuk durian, kerupuk durian, dan berbagai macam olahan durian lainnya.
Dan ia juga sempat meneteskan airmata. Saat di mana ia terkenang menu terakhir yang ia nikmati semenjak kepergian ibunya. Adalah kopi hangat yang dicelupkan bersama sebongkah durian. Makanan yang ia pikir jauh lebih nikmat dari pizza atau sphageti sekalipun.
Aku  sempat memerhatikan wajahnya sekitar sepuluh menit tanpa berkedip, aku tak menduga kalau wajahnya memang jauh lebih mirip sama buah durian. Aku dengar-dengar orang-orang pun sudah tak mengenalnya dengan nama Dian Kusuma, melainkan Dian Manusia Separoh Durian.   
Ditambah lagi tiga tahun yang lalu sejak kepalanya ditimpa buah durian. Bukan hanya semakin menampakkan kemiripan secara fisik, melainkan juga sifat kedurianan yang jauh lebih dominan dibandingkan sifat lahiriah seorang manusia yang selama ini ia miliki. Mungkin saja ada syaraf yang putus atau trauma, karena buah durian itu begitu keras menghantam kepalanya. Dian sempat kolaps sebentar di bawah pohon durian tersebut, namun ia tersadar saat mendengar  dentungan durian lain yang jatuh tepat di samping kiri daun telinganya.
Berawal dari kejadian itulah kini ia terasingkan dari pergaulan. Karena bau yang ia bawa tak jarang membuat orang menutup rapat-rapat hidung dan juga mulutnya. Tapi ia sendiri tetap tak memilih pengobatan apapun terhadap penyakit yang ia alami. Menurutnya, kealamian dan kemurnian wangi durian mengalahkan parfum dari perancis sekalipun.  Dan ia tetap berbangga hati dengan sifat kedurianan yang mengalir dalam dirinya saat ini. 
Penampilan ala durian yang begitu ia cintai, tak jarang pula membuat orang-orang tertawa geli. Norak, kolot, kampungan, atau ndeso selalu menjadi kesan pertama di saat orang-orang melihatnya. Namun tetap beda halnya dengan kesimpulan yang ia miliki. Ia berpendapat penampilannya jauh lebih keren dibandingkan mode apapun. Bahkan mode ala korea sekalipun yang sekarang begitu diagungkan banyak orang.
Tak ketinggalan pula ia menuturkan sebuah cerita yang ia anggap lucu. Namun bagiku cerita ini kubilang sangat nekad. Dua setengah tahun yang lalu ia pernah mencoba tuk berpergian dengan menggunakan pesawat. Ironi sekali, ia harus membungkus mimpinya menjadi khayalan tuk menembus awan serta melayang di udara. Kesempatan itu memang tak pernah ada untuknya.
“Ini peraturan yang diada-adakan orang luar negeri kan, Pak!” Ucapnya pada salah satu pengawas bandara.
“Hei! Kamu jangan asal bicara. Baumu itu yang akan mengganggu penerbangan kita. Sudah! pergi sekarang dari sini” Ia menarik tangan Dian Manusia Separoh Durian ke luar dari ruangan bandara.
Dian belum mau kalah. “Lalu bagaimana dengan pesawat Sukhoi Super jet-100 buatan Rusia yang katanya begitu canggih. Bukankah ia jatuh  karena salak yang menggunung, bukan karena bau durian”
“Berhenti bualanmu! Kamu mau aku bawa ke kantor polisi, karena ulahmu yang menggangu ketertiban bandara” Ia semakin geram.
“Ngapain saya dibawa ke kantor polisi? Kalau ke toko atau kios buah-buahan ya boleh-boleh saja. Hehehe... Ya karena ini bukan permasalahan kriminal, tapi siapa yang sebenarnya salah, bau duriankah atau salak yang menggunung?”
“Terserah apa yang kau katakan! Aku tak ada cukup waktu melayani kebodohanmu” Pengawas bandara itu pun pergi meninggalkan Dian Manusia Separoh Durian.
Sebenarnya ada banyak orang yang menyarankan supaya Dian mau mengobati penyakitnya. Dan mereka bilang ada sebuah terapi tuk menghilangkan semua jenis bau di Singapura. Tapi Dian tetap tak mau. Kalaupun ia mau berobat, itu tentu bukan sampai ke luar negeri.
            Dian Manusia Separoh Durian semakin yakin kalau peraturan yang tidak membolehkan ada bau durian di dalam pesawat adalah peraturan yang diada-adakan orang luar negeri. Hal itu terbukti ketika ia menyaksikan sebuah acara televisi yang menayangkan orang-orang barat membuat perlombaan memakan durian. Dibayangan mereka durian sesuatu yang menjijikkan, ibarat bangkai atau kotoran yang sangat menyengat dan barang siapa yang mampu menaklukan tantangan itu akan mendapatkan hadiah yang begitu besar.  
            Semuanya terasa beda di indera rasa mereka, karena memang sejak kecil lidahnya tak dibiasakan dengan buah durian. Lalu kenapa apa yang ia rasakan, kita pun juga ikut merasakan? Namun kenapa apa yang kita rasakan, mereka sama sekali tak mau merasakannya? Sungguh sangat tak adil.
            Keadaan hidup sebagai Manusia Separoh Durian. Memang sangat sulit tuk disesuaikan dengan kondisi tempat tinggalnya saat ini. Setiap orang-orang yang ia ditemui berlomba-lomba menunjukkan kekerenan, baik dari ucapan dan penampilannya masing-masing.
            Dian sendiri masih bisa terima kalaupun memang semua orang memanggilnya  Manusia Separoh Durian. Asal jangan diganti dengan ‘Menyusia Sivarro Darayen’, karena menurutnya bahasa di awal jauh lebih indah dibandingkan bahasa apapun di dunia.
            Pagi itu, di sudut pasar yang kumuh. Dian Manusia Separoh Durian sempat melihat seorang gadis cantik trendi yang berlindung di balik tembok pembatas, ia mengira itu anak kenapa? Dua  menit setelah itu Dian melihat ibu berkerudung kain seakan mencari seseorang. Ibu itu berjalan sambil berteriak “Nak! Kamu di mana? Tolong bantu ibu bawa durian ini”. Ia baru mengerti kalau gadis cantik trendi itu yang dicari, karena begitu suara itu mendekatnya, ia kembali buru-buru lari.
            Dian Manusia Separoh Durian menghampiri gadis cantik trendi tersebut. Sayang nasib berkata lain, sebelum ia sempat mendekat. Ia langsung diteriaki maling. Sontak saja orang ramai-ramai mengerumuni tubuh krempeng si Dian Manusia Separoh Durian. Hingga ia pun mengakhiri hidupnya hari itu juga , karena beberapa kali pukulan keras itu mendarat di tubuhnya. Dian Kusuma meninggal di tangan orang kampungnya sendiri.
            Di malam harinya gadis cantik trendi seolah mendapat bisikan ghaib. Sebentuk suara masuk melalui mimpinya dan menginginkan Dian tak diperlakukan seperti pemakaman pada umumnya. Dipesan tersebut, Dian Manusia Separoh Durian alias Dian Kusuma sama sekali tak boleh dimandikan dengan air, melainkan cukup dilumuri durian di sekujur tubuhnya. Tak diperkenankan juga pakai kain kafan, melainkan dibalut dengan Sang Saka Merah Putih. Selain itu ia juga harus disholatkan dengan Bahasa Indonesia. Sedangkan  pada ritual penguburan Dian harus diiringi dengan tari-tarian dan juga lagu Indonesia Raya.
            Tak ada seorang pun yang memercayai pesan tersebut. Mereka menganggap itu hanya bisikan syaitan. Syirik bila dilakukan. Mereka memerlakukan proses pemakaman Dian tak ada beda dengan manusia pada umumnya.  
Pesan terakhir yang pernah diucapkannya padaku, andai aku ingin tetap bertahan di dekatnya. Seperti, bau tak sedap dari tangan sehabis makan durian bisa dihilangkan dengan mencuci tangan di dalam kulitnya. Selain itu orang yang mabuk karena terlalu banyak makan durian bisa diobati dengan meminum air yang terlebih dahulu dimasukkan ke dalam kulitnya.
Semua penawar itu ternyata ada dalam dirinya.

             
Yogyakarta, 02 Juli 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar