Sabtu, 07 Juli 2012

LAMPU BOTOL BEKAS


Di mata keluargaku, kelam adalah sebuah cerita lama. Cerita lama yang tak lagi dikenang. Sunyi juga kini telah berubah menjadi bisu yang selalu ingin terusik. Ketakutan seakan tak pernah ada bersemayam di balik kegelapan. Jikalau pun ada yang berbicara ketakutan, itu pasti bukan tentang kegelapan.Ya! Bukan tentang kegelapan.


          Aku cinta kelam dibandingkan terang. Jika kaumencintai ibumu itu karena ia yang telah melahir dan merawatmu. Begitu juga ketika kaumencintai istri atau suamimu itu karena ia juga menaruh cinta padamu. Ketika kaucinta pada temanmu dikarenakan ia mau berbagi suka dan duka dengamu. Satu hal yang kau tahu aku bisa mendapatkan ketiga warna cintamu lewat cinta yang diberikan kelam.
         Saat ini aku tepat berdiri di bawah kilauan lampu listrik. Di samping kamarku ada  ibu dan adik yang lagi berbaring di depan sebuah layar kaca dan abangku lagi sedang asyik bermain PS (Play Station) di kamarnya. Sedangkan ayah tak tahu ke mana. Dugaanku kalau ia tak kumpul sama teman-temannya. Ia pasti lagi memanjakan hasratnya dengan para wanita malam menikmati terang yang menyapa nafsunya. Aku benci semua yang mereka lakukan.
           Listrik telah mencabik-cabik masa depanku dan merenggut kebersamaan keluargaku. Tanggal 5 April yang lalu aku tepat berusia 18 tahun, namun aku bukanlah seorang remaji yang duduk di bangku kelas XI atau XII SMA (Sekolah Menengah Atas). Lampu listrik telah menyilaukan apa yang harus kutuju.
            Langkahku terhenti  di SMP (Sekolah Menengah Pertama) sejak ayah lebih mengagungkan terang. Ia rela tak menyekolahkanku hanya karena ia ingin rumah disinari gemerlap lampu listrik. Ibu juga tega berbohong padaku, demi sebuah televisi. Sedangkan abangku mengajarkan kebahagian tak mesti dicari dari sekolah. Dia saja hanya tamatan SD (Sekolah Dasar), tapi bisa menggapai mimpi yang ia mau. Apakah masih ada yang harus kucinta selain kelam?
            “Ridla... ayo! Ke sini. Ngapain kamu di situ?” Ibu memanggilku seraya mengulurkan tangan padaku.
            “Ya ibu. Aku di sini saja” Aku mengelak
            “Kamu ini kenapa suka sekali menyendiri. Coba kamu lihat ini ada film seru banget!”. Ibu tampak semakin ingin menggodaku
“Tidak ibu. Aku mau ke luar saja sebentar” Aku tak mau sekali-kali menonton televisi.
“Ya sudah terserah kamu” Ibu geram padaku.
Aku coba berjalan ke luar. Barangkali sisa-sisa gelap yang waktu itu masih bisa kutemukan. Akan kutuangkan semua rasa yang tertanam di hati padanya. Karena hanya dia yang sepaham denganku, jika terang itu tak seharusnya ada.
***
            Tanpa kusadari jam sudah berdiri di titik 12.00 Wib. Aku memerhatikan ada seberkas kelam yang sedang mengintipku dari balik pepohonan. Mungkin ia lagi heran padaku yang berdiam diri di tengah malam sendirian. Apalagi aku seorang gadis, tentu akan membuatnya semakin bertanya-tanya.
            Dari luar rumah sayup-sayup masih kudengar suara televisi dan teriakan goal sesekali yang disuarakan abangku. Ayah sendiri masih belum kulihat tanda-tanda akan balik ke rumah. Mereka semua masih asyik dengan hobinya masing-masing. Tak peduli walau mata menginginkan tuk lelap.
            Alasan ayah tidak mau melanjutkan sekolahku, karena aku seorang perempuan, dengan lantang diiyahkan ibuku serta diamini abangku. Tak ada yang setuju. Selain itu mereka juga tak rela aku disekolahkan sama orang lain. Takut aku hanya sekedar diming-imingkan sekolah dan nantinya dijadikan jongos.
            Aku urungkan niat tuk menemui sang kelam. Saat dari kejauhan kulihat ayah telah pulang bersama para teman-temannya. Aku takut ia memarahiku. Sehabis pulang ayah pasti berjalan dengan terseok-seok, bicara kacau, dan pikirannya kosong. Dia suka mabuk-mabukan dan tak segan bertindak kasar pada siapa pun. Aku tak mau ia melihatku saat sedang bersama kelam. Dia pasti marah besar dan meminta pada kelam tuk menjauhiku. Aku tak mau.
            Aku bergegas menggapai pintu rumah. Di dalam rumah kudapati ibu dan adik yang sudah tertidur pulas dengan televisi yang masih memancarkan cahaya. Abang berhenti memelototi layar play station saat aku lewat di samping kamarnya.
            “Woi! Dari mana saja malam-malam begini?. Bermain ingat waktu. Kamu tuh perempuan, ntar bunting baru tahu rasa kamu” Dia menegur keras ulahku seakan tak ada yang salah dalam dirinya.
            Aku tak menghiraukan apa yang ia ucapkan. Aku terus masuk ke dalam kamar. Di kamar aku teringat pada kelam yang sempat memerhatikanku. Sebuah ketakutan mulai berbisik di telingaku tentang kelam yang menaruh sakit hati karena harus kutinggalkan. Suatu malam nanti kupasti akan menemui dan meminta maaf padanya.
***
            Kira-kira baru empat jam kunikmati jamuan tidur. Azan pun mengalun lembut dari musholla di samping rumahku. Aku terbangun serta mengambil mukenah dan sajadah. Lalu segera memenuhi panggilan azan. Keluar dari kamar kumasih dapati ibu terlelap dan adikku yang berusia lima tahun yang ada di samping ibu tampak menongakkan kepala ke belakang mencari suara gesekan di lantai.
            “Mbak! Mau ke mana?” Ia bertanya dengan penuh keheranan. Dari raut wajahnya aku menyangkal ia baru pertama kali melihat orang yang berpakaian putih keluar dari rumah di pagi hari.
            “Mbak mau pergi shalat ke masjid. Adik mau ikut tidak?”Aku berusaha tuk membujuknya
            “Ibu, ayah dan abang tak diajak apa?” Masih ada keheranan yang belum terjawab
            Sontak saja aku terdiam. “Ya! Kita berdua sajalah, Dik” Aku mencoba kembali menguasai diri tuk tidak membuatnya bertambah heran.
            “Tidak mau sajalah. Tak seru kalau tak ada ibu, ayah, dan abang” Ia kembali pejamkan mata
            Aku memang tak pernah lagi membangunkan ibu, ayah, dan abang. Ketika teguran berkali-kali datang padaku tuk tidak mengganggunya mereka. Capek dan ngantuk adalah alasan yang paling sering kudengar.
            Setelah selesai shalat subuh aku menuju dapur. Sejak lampu listrik hadir di tengah keluagaku, maka sejak itu pula aku yang berada di posisi ibu. Ibu dan adik bangun setelah aku selesai memasak. Dan abang membuka mata jika alarm tegak pas di angka 9. Karena ia sendiri mesti bekerja sebagai mandor di kebun sawit. Sedangkan ayah tatkala muazin siang hari bersuara. Hampir setiap hari kumenyaksikan kejadian  ini di rumahku. Aku selalu berharap terang lampu listrik yang selama ini mereka puja bisa menerangi hatinya juga.
            Aku mendambakan malam segera datang. Sudah tak tahan rasanya aku bernaung di bawah terang yang sebenarnya kelam. Dan saat malam nanti aku akan coba ajukan permintaan pada seberkas kelam yang kemarin malam mengintipku. Aku ingin ia mau berteman dengan keluargaku kembali.
 ***
            Malam yang kunanti kini benar-benar datang. Tapi ada yang beda dengan malam-malam sebelumnya. Di malam ini kami tanpa cahaya lampu listrik. Hanya sesekali cahaya petir menyambar mengiringi rintik-rintik hujan. Malam ini aku lihat ibu yang sedang bersedih, ayah yang tampak begitu marah dan abang yang memendam berjuta rasa kekesalan. Tak ada yang bisa memenuhi cerianya malam ini.
            Hati kecilku bersorak-sorai. Ini adalah malam kemenangan buatku. Aku tak lagi susah mencari kelam ke mana-mana. Karena kini ia sendiri yang datang memenuhi setiap ruang rumahku.
            “Ridla tolong kamu ambil lampu botol yang ada di dekat barang-barang bekas di samping sumur. Cepat!” Ayah mendesakku ketika ia lihat petir semakin ingin menembus kaca-kaca jendela
            “Ya ayah!...Aku ambilkan dulu” Aku menerobos pekat malam dengan  tubuh yang berbungkus kelam.
            Tanda seru melengkung menjadi tanda tanya saat aku berpikir doaku begitu cepat diterima sang kelam . Tuhan pasti telah menjawabnya lewat perantara angin. Lalu apakah bisa angin bersua kelam, kalau terang tak mengizininya?. Bisa saja ia mengelabuhi angin dengan segera mengalirkan terang. Tapi ia tidak demikian. Mungkin tak seterusnya aku harus berprasangka buruk pada listrik. Namun tetap saja harus kusisihkan beberapa puluh tahun lagi untuk bisa mencintai terang.
            Kekelaman yang mengiringi hidupku, bukan semerta-merta karena aku tak disekolahkan, bukan pula karena tingkah keluagaku yang menepikan akhirat. Bukan.  Aku masih kuat dengan semua itu. ada hal lain yang mengompa sesak  memenuhi beban di dadaku.  Asal kau tahu, aku adalah anak haram dari ulah bejat ayah dengan para wanita malam. Ya!! Aku anak haram. Haram.
            Aku merasa berada di tengah keluarga yang kelam. Aku merasa sangat tak pantas untuk ada di tempat-tempat yang terang. Sulit bagiku tuk melupakan apa yang diberikan kelam padaku. Ia yang telah melahir dan merawatku sebagai seorang ibu. Ia pula yang mau menjadi suami seorang anak haram sepertiku dan hanya ia pula yang mau menjadi teman saat suara dan tangisku tak ada lagi yang mendengar.
            Di kampungku sendiri setiap anak yang keluar tanpa hubungan perkawinan yang sah. Selalu akan diperlakukan jelek oleh masyarakat. Tak terkecuali denganku. Pemahaman terhadap anak haram yang tidak boleh menikah dengan anak yang dianggap halal masih menjadi fenomena. Aku terus dikatakan sebagai anak najis yang disentuh saja akan haram hukumnya.  Karena itulah aku mencintai kelam sama seperti aku mencintai ibu, suami serta temanku. Semuanya kudapat dari kelam, bukan dari terang.
Aku menyisir membelah kelam dengan rabaan kedua tangan sembari kuucapkan terima kasih kepadanya karena telah mau menjadi ibuku, kuajak ia bercumbu sebagai sepasang suami-istri dan malam itu juga aku bermain dan bercanda dengannya sebagai seorang teman.
            Tanganku kini telah memegang erat lampu botol bekas yang dimaksudkan ayah. Terakhir aku pernah memegangnya  sekitar 2 bulan yang lalu.  Saat itu ia juga diminta menghadirkan terang di tengah keluargaku. Dia menerima uluran tanganku dengan penuh keterbukaan. Tak ada kesal atau sedih yang dibahasakan wajah ataupun tubuhnya. Walau kusadari aku memegangnya saat aku membutuhkannya.
           Aku ingin belajar menjadi kelam pada lampu botol bekas...




Yogyakarta, 19 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar