Kenapa mesti aku yang kaupanggil Si Bujang Sampah? Aku muak
mendengar ucapanmu yang memanggilku Si Bujang Sampah. Bukti akan
berbicara nanti siapa sebenarnya aku. Ini jalanku. Aku tak butuh
teman-teman pembual dan pecundang sepertimu. Pergi sekarang dariku.
Usia 10 tahun saat pertama kali kudengar teman-teman menyapaku Si
Bujang Sampah. Padahal bukanlah namaku. Aku sudah buktikan
kebimbanganku ini dengan apa yang ada di akta kelahiran, rapor SD
(Sekolah Dasar), bahkan di dinding kamar rumahku masih terlihat jelas
sebuah goresan arang bertuliskan Miftahul Khairi beserta tempat dan
tanggal kelahiranku Jambi, 03 Desember 1990. Tapi kenapa ada nama yang
tiba-tiba menjadi benalu. Buatku malu.
“Teman-teman
coba tengok Si Bujang Sampah sudah datang. Tutup hidung kalian. Baunya
busuk sekali” Teriak Badrun salah satu teman kelasku.
Gelak tawa pun pecah sampai membuat mereka terpental-pental megelukan
kelucuan yang ada di kata sampah. Kejadian itu berlangsung setiap hari.
Di sekolah atau di luar sekolah. Tak ada wujud teman di mataku. Semua
menganggapku bau busuk yang mesti dihindari. Hanya kesepian yang mau
berteman denganku.
Aku adalah boneka permainan. Aku adalah bahan tertawaan. Tentang diri yang kukenal.
Lebih
baik kiranya aku tak bisa mendengar daripada setiap hari harus terus
begini. Aku benci semua teman-temanku. Mereka tak pernah sedikit pun
menaruh rasa iba padaku, seolah-olah yang mereka mau dariku adalah
tangisan, tangisan dan tangisan.
Pagi itu mentari mulai
bersiap menampakkan diri di balik awan. Panas pun mulai tampak
menyelinap di antara sela-sela jendela. Sebuah suara menerobos
berkali-kali ke dalam kamarku. Suara yang mendesakku untuk bangun. Aku
sangat malas tuk melangkahkan kaki ke sekolah hari itu. Apalagi bertemu
wajah teman-teman yang tak mau mengerti perasaanku.
“Ayo
cepat bangun. Coba lihat itu sudah hampir pukul 07.00 Wib. Hari ini
kamu juga harus mengikuti upacara bendera. Ntar kamu telat sampai di
sekolah”. Si emak semakin mendesak dengan menggoyang-goyangkan tubuhku
ke kiri dan ke kanan.
“Emak! Aku libur saja hari ini ya”. Sambil menarik kembali selimut hingga menutupi sekujur tubuhku.
“Kenapa? Kamu sakit, Jang?” Si emak tampak mulai menyimpan kekhawatiran.
Belum sempat kujawab emak berucap kembali. “ Ya sudah! Kamu
istirahatlah dulu. Emak mau cari obatmu dulu di toko pak Agus. Setelah
itu emak mau ke sekolah minta izin sama wali kelasmu” Emak
meninggalkanku di saat aku mengepalkan tangan dan membayangkan wajah
teman-temanku.
Ebak datang menghampiriku. Kelihatannya
beliau mendapatkan amanah dari emak untuk menemaniku agar tak sendiri
di di kamar. ”Mau bapak pijit tubuhmu, biar urat-urat sarafmu kembali
segar”. Sambil menaruh punggung tangan kanannya di keningku
“Panas tubuhmu, Jang” Sambungnya pula.
Kebiasaan pijit-memijit memang kerap kali menjadi pilihan dalam
keluargaku untuk meladeni kondisi tubuh yang tak bersahabat. Aku juga
terkadang diminta sama bapak untuk menginjak area belakang tubuhnya.
Dari betis hingga perbatasan bahu dan lehernya. Saat di mana beliau
mulai merasa sakit-sakit di bagian tubuhnya.
“Ya! Ebak. Aku mau” Jawabku singkat
“Tunggu di sini!. Ebak ambilkan dulu minyak sayur dan bawang merah
sebagai pelumas tuk memijit tubuhmu” Beliau bergegas meninggalku.
Tak lama berselang emak datang. Beliau membawakan 3 butir obat penurun
panas dan secangkir teh hangat. “Ini obat! Kamu minum biar demammu tak
semakin parah”
Di saat ebak memijat tubuhku dan di saat
emak meletakkan nasi serta sambal ikan teri di sampingku untuk aku makan
setelah selesai dipijit. Aku angkat bicara pada mereka “Emak. Ebak.
Boleh tidak kalau aku tak usah dipanggil bujang. Panggil saja aku
Khairi, seperti namaku” Pintahku dengan penuh harap.
“Loh!
Kenapa Jang?” Ebak mengarahkan pandangan ke emak. Lalu keduanya sontak
memusatkan tatapan padaku. Tanpa sedikitpun berkedip. Ada heran yang
menyeruak di pikiran mereka.
“Ya tidak suka saja. Di
sekolah juga teman-teman memanggilku bujang. Kalau aku tak suka tetap
tak suka” Kata-kata yang menambah keheranan di benak mereka.
“Ya tak apa-apalah mereka panggil kamu bujang. Memang apa yang salah?”
Emak memintaku untuk menghentikan rasa herannya. Sedangkan ebak tampak
mau mengakhiri pijitnya dengan mulai menarik-narik satu per satu jemari
kaki dan tanganku.
“Ya salah emak. Teman-teman
memanggilku bujang sampah. Kalau bujang saja ya tak masalah” Mukaku
tampak merah padam dan mengeluarkan cairan di kelopak mata.
Sejenak mereka pejamkan mata. Kening mereka sama-sama tampak mengkerut
sambil sesekali menggigit bibir. Mungkin saja saat itu mereka ingin
memutar kembali masa lalu tuk menjelaskan rahasia yang cukup lama
terpendam.
“Kenapa diam? Ada apa dengan semua ini? Apa mungkin sebenarnya aku bukanlah anak emak dan ebak? Desakku.
“Sssttt... Tak boleh bicara begitu. Khairi adalah anak kandung emak dan
ebak yang paling tersayang. Boleh tanya ayuk, datuk serta nyaimu kalau
tak percaya” Tangisan hadir beserta dekapan hangat di tubuhku.
Emak menceritakan padaku dengan rasa haru. Hening tak bergeming. Ada
beban berat yang tiba-tiba saja menimpa tubuhnya. Tak mau buatku sedih.
Setidaknya itulah kesan yang kudapat saat menatap wajahnya.
Ceritanya begini Khairi! Emak dan ebak termasuk yang tak beruntung
dalam melahirkan anak. Emak sudah lima kali melahirkan.Tapi hanya kau
dan ayukmu Ramaita yang dapat bertahan sampai saat ini. Abangmu yang
pertama Rudi Hidayat meninggal, setelah ayukmu Ramaita ada juga abangmu
Musmul Yadi yang juga meninggal di usia 2 tahun. Di tahun berikutnya
sepasang kakak kembarmu juga ikut meninggal.
Tak sampai di
situ. Ayukmu Ratna Dewi pada kehamilan emak yang kelima juga harus
meninggal di usianya 6 tahun . Emak dan ebak berpikir Tuhan seolah tak
bersikap adil. Sampai pada akhirnya emak mencari kekuatan untuk
membentengi kehamilan emak yang keenam, sekaligus tuk yang terakhir
kalinya. Dan itu kami lakukan padamu.
Emak mendapatkan
saran dari dukun Tamin . Kalau emak tak mau ditinggalkan anak begitu
cepat. Maka saat kau berusia 3 hari mesti ada seorang wanita yang punya
keberuntungan dalam melahirkan yang membawamu dalam ambung dan
meletakkan di tempat sampah. Lalu setelah beberapa menit ia mengambilmu
dan membawamu kembali pada emak. Makanya kamu memanggil Sialus itu emak,
karena dia lah saat itu yang emak minta melakukan ritual serak sarau
itu padamu.
“Mungkin karena itu teman-teman memanggilmu
bujang sampah. Tapi sudahlah! Tak usah kau hiraukan apa yang dikatakan
teman-temanmu hai! Khairi. Anakku. Kau bisa buktikan pada mereka nanti,
kalau sesuatu tak bisa dipandang dari nama, apalagi cuma melihat dari
penampilan luar. Hati yang seharusnya berbicara”. Ebak menaruh
tangannya kanannya di dadaku.
“Maksudnya ebak?” Timpalku dengan penuh tanda tanya.
“Sekarang
memang terlalu dini buat kau pahami kata-kata ini. Nanti setelah kau
besar pasti kautemukan jawabannya” Beliau menepuk bahuku. Ada semangat
yang ingin ia salurkan padaku.
Emak menyela pembicaraan antara aku
dan ebak. “Emak ingin kauhadirkan wangi kasturi di balik bau busuk yang
teman-teman katakan padamu.”
“Apa itu emak?” Aku semakin tak mengerti apa yang mereka maksud
Di usiaku yang kini 21 tahun aku mulai berpikir. Andai saja ketika itu
aku bisa bicara, maka aku akan minta pada emak dan ebak tuk
selama-lamanya menempatkanku di sampah yang busuk itu. Dan andai pula
ketika itu aku sadar, aku tak akan marah dan bersedih tatkala dipanggil
si bujang sampah. Itu jauh lebih baik.
Bila mungkin aku
masih diberikan kesempatan bernafas akan kuucapkan sebuah kata maaf pada
emak dan ebakku. Terima kasih buat teman-teman kecilku yang telah
membantu menyadarkanku. Walau kutahu kalian pasti akan sulit mengerti
tentang semua ini.
Tak ada artinya sebuah nama. Panggil aku Si Bujang Sampah.
Kosakata: Bujang/Jang: Panggilan sayang dari orang tua untuk anak laki-laki
Ayuk : Panggilan untuk kakak perempuan Abang: Panggilan untuk kakak laki-laki
Emak : ibu / Ebak : ayah / Nyai: Nenek / Datuk: Kakek
Yogyakarta, 17 Mei 12

Tidak ada komentar:
Posting Komentar