Sabtu, 07 Juli 2012

SI BUJANG SAMPAH

Kenapa mesti aku yang kaupanggil Si Bujang Sampah? Aku muak mendengar ucapanmu yang memanggilku Si Bujang Sampah. Bukti akan berbicara nanti siapa sebenarnya aku. Ini jalanku. Aku tak butuh teman-teman pembual dan pecundang sepertimu. Pergi sekarang dariku.

          Usia 10 tahun saat pertama kali kudengar teman-teman menyapaku Si Bujang Sampah. Padahal bukanlah namaku. Aku sudah buktikan  kebimbanganku ini dengan apa yang ada di akta kelahiran, rapor SD (Sekolah Dasar), bahkan di dinding kamar rumahku masih terlihat jelas sebuah goresan arang  bertuliskan Miftahul Khairi beserta tempat dan tanggal kelahiranku Jambi, 03 Desember 1990.  Tapi kenapa ada nama yang tiba-tiba menjadi benalu.       Buatku malu.

         “Teman-teman coba tengok Si Bujang Sampah sudah datang. Tutup hidung kalian. Baunya busuk sekali” Teriak Badrun salah satu  teman kelasku.
          Gelak tawa pun pecah sampai membuat mereka terpental-pental megelukan kelucuan yang ada di kata sampah. Kejadian itu berlangsung setiap hari. Di sekolah atau di luar sekolah. Tak ada wujud teman di mataku. Semua menganggapku bau busuk yang mesti dihindari. Hanya kesepian yang mau berteman denganku.
          Aku adalah boneka permainan. Aku adalah bahan tertawaan. Tentang diri yang kukenal.
 Lebih baik kiranya aku tak bisa mendengar daripada setiap hari harus terus begini. Aku benci semua teman-temanku. Mereka tak pernah sedikit pun menaruh rasa iba padaku, seolah-olah yang mereka mau dariku adalah tangisan, tangisan dan tangisan.
          Pagi itu mentari mulai bersiap menampakkan diri di balik awan. Panas pun mulai tampak menyelinap di antara sela-sela jendela. Sebuah suara menerobos berkali-kali ke dalam kamarku. Suara yang mendesakku untuk bangun. Aku sangat malas tuk melangkahkan kaki ke sekolah hari itu. Apalagi bertemu wajah teman-teman yang tak mau mengerti perasaanku.
          “Ayo cepat bangun. Coba lihat itu sudah hampir pukul 07.00 Wib. Hari ini kamu juga harus mengikuti upacara bendera. Ntar kamu telat sampai di sekolah”. Si emak semakin mendesak dengan menggoyang-goyangkan tubuhku  ke kiri dan ke kanan.
          “Emak! Aku libur saja hari ini ya”. Sambil menarik kembali selimut hingga menutupi sekujur tubuhku.
          “Kenapa? Kamu sakit, Jang?” Si emak tampak mulai menyimpan kekhawatiran.
           Belum sempat kujawab emak berucap kembali. “ Ya sudah! Kamu istirahatlah dulu. Emak mau cari obatmu dulu di toko pak Agus. Setelah itu emak mau ke sekolah minta izin sama wali kelasmu” Emak meninggalkanku di saat aku mengepalkan tangan dan membayangkan wajah teman-temanku.
          Ebak datang menghampiriku. Kelihatannya beliau mendapatkan amanah dari emak untuk menemaniku agar tak sendiri di   di kamar. ”Mau bapak pijit tubuhmu, biar urat-urat sarafmu kembali segar”. Sambil menaruh punggung tangan kanannya di keningku
        “Panas tubuhmu, Jang” Sambungnya pula.
         Kebiasaan pijit-memijit memang kerap kali menjadi pilihan dalam keluargaku untuk meladeni kondisi tubuh yang tak bersahabat. Aku juga terkadang diminta sama bapak untuk menginjak area belakang tubuhnya. Dari betis hingga perbatasan bahu dan lehernya. Saat di mana beliau mulai merasa sakit-sakit di bagian tubuhnya.
       “Ya! Ebak. Aku mau” Jawabku singkat
       “Tunggu di sini!. Ebak ambilkan dulu minyak sayur dan bawang merah sebagai pelumas tuk memijit tubuhmu” Beliau bergegas meninggalku.
        Tak lama berselang emak datang. Beliau membawakan 3 butir obat penurun panas dan secangkir teh hangat. “Ini obat! Kamu minum biar demammu tak semakin parah”
        Di saat ebak memijat tubuhku dan di saat emak meletakkan nasi serta sambal ikan teri di sampingku untuk aku makan setelah selesai dipijit. Aku angkat bicara pada mereka “Emak. Ebak. Boleh tidak kalau aku tak usah dipanggil bujang. Panggil saja aku Khairi, seperti namaku” Pintahku dengan penuh harap.
        “Loh! Kenapa Jang?” Ebak mengarahkan pandangan ke emak. Lalu keduanya sontak memusatkan tatapan padaku. Tanpa sedikitpun berkedip. Ada heran yang menyeruak di pikiran mereka.
        “Ya tidak suka saja. Di sekolah juga teman-teman memanggilku bujang. Kalau aku tak suka tetap tak suka” Kata-kata yang menambah keheranan di benak mereka.
        “Ya tak apa-apalah mereka panggil kamu bujang. Memang apa yang salah?” Emak memintaku untuk menghentikan rasa herannya. Sedangkan ebak  tampak mau mengakhiri  pijitnya dengan mulai menarik-narik satu per satu jemari kaki dan tanganku.
        “Ya salah emak. Teman-teman memanggilku bujang sampah. Kalau bujang saja ya tak masalah” Mukaku tampak merah padam dan mengeluarkan cairan di kelopak mata.
        Sejenak mereka pejamkan mata. Kening mereka sama-sama tampak mengkerut sambil sesekali menggigit bibir. Mungkin saja saat itu mereka ingin memutar kembali masa lalu tuk menjelaskan rahasia yang cukup lama terpendam.
       “Kenapa diam? Ada apa dengan semua ini? Apa mungkin sebenarnya aku bukanlah anak emak dan ebak? Desakku.
       “Sssttt... Tak boleh bicara begitu. Khairi adalah anak kandung emak dan ebak yang paling tersayang. Boleh tanya ayuk, datuk serta nyaimu kalau tak percaya” Tangisan hadir beserta dekapan hangat di tubuhku.
        Emak menceritakan padaku dengan rasa haru. Hening tak bergeming. Ada beban berat yang tiba-tiba saja menimpa tubuhnya. Tak mau buatku sedih. Setidaknya itulah kesan yang kudapat saat menatap wajahnya.
        Ceritanya begini Khairi! Emak dan ebak termasuk  yang tak beruntung dalam melahirkan anak. Emak sudah lima kali melahirkan.Tapi hanya kau dan ayukmu Ramaita yang dapat bertahan  sampai saat ini. Abangmu yang pertama Rudi Hidayat meninggal, setelah ayukmu Ramaita ada juga abangmu Musmul Yadi yang  juga meninggal di usia 2 tahun. Di tahun berikutnya sepasang kakak kembarmu juga ikut meninggal.
        Tak sampai di situ. Ayukmu Ratna Dewi pada kehamilan emak yang kelima juga harus meninggal di usianya 6 tahun . Emak dan ebak berpikir Tuhan seolah tak bersikap adil. Sampai pada akhirnya emak mencari kekuatan untuk membentengi kehamilan emak yang keenam, sekaligus tuk yang terakhir kalinya. Dan itu kami lakukan padamu.
        Emak mendapatkan saran dari dukun Tamin . Kalau emak tak mau ditinggalkan anak begitu cepat. Maka saat kau berusia 3 hari mesti ada seorang wanita yang punya keberuntungan dalam melahirkan yang  membawamu dalam ambung dan meletakkan di tempat sampah. Lalu setelah beberapa menit ia mengambilmu dan membawamu kembali pada emak. Makanya kamu memanggil Sialus itu emak, karena dia lah saat itu yang  emak minta melakukan ritual serak sarau itu padamu.
       “Mungkin karena itu teman-teman memanggilmu bujang sampah. Tapi sudahlah! Tak usah kau hiraukan apa yang dikatakan teman-temanmu hai! Khairi. Anakku. Kau bisa buktikan pada mereka nanti, kalau sesuatu tak bisa dipandang dari nama, apalagi cuma melihat dari penampilan luar. Hati  yang seharusnya berbicara”. Ebak menaruh tangannya kanannya di dadaku.
        “Maksudnya ebak?” Timpalku dengan penuh tanda tanya.
“Sekarang memang terlalu dini buat kau pahami kata-kata ini. Nanti setelah kau besar pasti kautemukan jawabannya” Beliau menepuk bahuku. Ada semangat yang ingin ia salurkan padaku.
Emak menyela pembicaraan antara aku dan ebak. “Emak ingin kauhadirkan wangi kasturi di balik bau busuk yang teman-teman katakan padamu.”
        “Apa itu emak?” Aku semakin tak mengerti apa yang mereka maksud

        Di usiaku yang kini 21 tahun aku mulai berpikir. Andai saja ketika itu aku bisa bicara, maka aku akan minta pada emak dan ebak tuk selama-lamanya menempatkanku di sampah yang busuk itu. Dan andai pula ketika itu aku sadar, aku tak akan marah dan bersedih tatkala dipanggil si bujang sampah. Itu jauh lebih baik.
          Bila mungkin aku masih diberikan kesempatan bernafas akan kuucapkan sebuah kata maaf pada emak dan ebakku. Terima kasih buat  teman-teman kecilku yang telah membantu menyadarkanku. Walau kutahu kalian pasti akan sulit mengerti tentang semua ini.
           Tak ada artinya sebuah nama. Panggil aku Si Bujang Sampah.

Kosakata: Bujang/Jang: Panggilan sayang dari orang tua untuk anak laki-laki   
Ayuk : Panggilan untuk kakak perempuan    Abang: Panggilan untuk kakak laki-laki
Emak  : ibu /  Ebak : ayah /  Nyai: Nenek  /  Datuk: Kakek    


Yogyakarta, 17 Mei 12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar