RASA penat menyelimutiku, sehabis pulang praktik KOMUDA selama dua pekan di Rumah
Sakit Nur Hidayah Bantul. Ini adalah hari terakhirku. Rasa penat seolah lekas
minggat, ketika terngiang di pikiran ini untuk pulang kembali ke Jambi. Hampir satu
tahun aku pergi meninggalkan orang tua, kakak, keponakan, teman, kampung halaman serta sang kekasih. Hanya lewat signal
kusaling mengenal. Rindu yang sebenarnya tak seutuhnya luntur. Walau
sesaat tapi terasa melekat, ketika kami saling tahu dalam keadaan sehat wal’afiat.
Aku
bergegas menuju kamar mandi. Menyuntikkan kesegaran. Merilekskan syaraf-syaraf
wajah yang terlihat kusut. Dalam kondisi mandi tersebut, jemariku merunduk dan
tegak secara antre dimulai dari ibu jari hingga kelingking, diikuti bibirku
tampak komat-kamit, sesekali pula sontak berhenti. Selang beberapa saat
jemariku berhenti pas di jemari terakhir.
“Ooow!…
lima hari lagi!”. Ya aku akan pulang tanggal 5 Agustus. Tepat dengan puasa
kelima.
Seperti biasanya sebelum benar-benar kujejaki kaki di kampung. Mesti ada ritual tahunan yang mesti kusuguhkan yaitu sesajian buah tangan alias cinderamata. Aku pilih
batik. Keluargaku juga memberi mandat demikian. Kedua orang tua, kakak, dan ketiga
keponakan terus terbayang di benakku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bukan karena
lupa akan wajah mereka, tapi ya untuk bagaimana menentukan batik yang klik untuk mereka.
Aku arahkan
motorku menuju pusat hiru-pikuk suasana Jogja. Di tengah timbunan nan sesak batik-batik Beringharjo tersebut. Aku tampak dibuat bingung bukan kepalang tuk memilih, seperti halnya kebingungan tukang becak menjajakan jasanya di antara kerumunan orang-orang. Pikiranku campur aduk tak ubahnya onggokan gudeg di sepanjang trotoir Malioboro.
Akan tetapi senyuman nan manja setiap pelayan toko membawa aku seolah berdiri gagah bak tugu Jogja dan semangatku seakan kembali menyala seperti gunung merapi. Aku hanya menginginkan pada moment kepulanganku kali ini, semoga saja apa yang kubawa pada keluarga nanti, bisa menjadi sedikit gambaran kesimpelanku ada di Jogja, ya kira-kira sesimpel nasi kucing.
Akan tetapi senyuman nan manja setiap pelayan toko membawa aku seolah berdiri gagah bak tugu Jogja dan semangatku seakan kembali menyala seperti gunung merapi. Aku hanya menginginkan pada moment kepulanganku kali ini, semoga saja apa yang kubawa pada keluarga nanti, bisa menjadi sedikit gambaran kesimpelanku ada di Jogja, ya kira-kira sesimpel nasi kucing.
Mataku
menoleh ke saku celana. Kulihat uang masih cukup tenang menatapku.
Terlintas di pikiran untuk juga membeli batik khusus tuk sang kekasih. Nurul Fadhila
namanya. Selain sebagai buah tangan, juga buat kado Ulta-nya yang ke-18.
Menurutku, Dhila memang gadis gandes. Gendis. Mengalun rasa. Membias jiwa. Aku sudah kecantol
kail cintanya hampir 10 bulanan. Tapi dalam waktu yang cukup panjang ini.
Cinta kami hanya lewat hantaran signal serta bisikan Hp. Dan libur kali ini
benar-benar episode yang sangat kunanti.
Mencairkan rindu yang hampir beku. Menumpahkan rasa yang hampir berbusa. Walau
terpisah jarak dan waktu. Aku mencoba tuk tetap setia pada apa yang kurasa.
Tiga
kali sudah kuutarakan cinta padanya. Sejak MTS, MA dan saat berarmamater
mahasiswa aku mampu merangkul hatinya ke hatiku . Dia seolah-olah menyimpan banyak keindahan. Seperti senyum sejuta pelangi di pagi hari. Senyum rekah. Dia
buat aku kelusuk-kelasak berharap sebuah jawaban. Sikapnya yang cuek. Sulit tuk
kulupakan.
Tiket
sepekan sebelumnya sudah ada di genggaman. Tapi ada fenomena yang baru dengan kepulangan kali ini. Bila sebelumnya aku melintasi Jogja-Jambi 2 hari plus 3 malam. Kini cukup 2 jam saja. Aku memesan tiket pesawat. Ya! Ini kali pertama aku dibuat repot keblinger. Aku tak
tahu apa yang mesti diperbuat?. Chek-in sini. Masuk lagi sana. Tanpa teman.
Konyol.
*****
*****
KALI
ini jemari kelingking yang merunduk. Dan itu berarti sejenak kulambaikan tangan
pada Jogja. Terbang dengan membawa sejuta rindu. Sejuta cerita. Sejuta ceria.
Walau seutuhnya raga masih bersemayam di Bandara Soekarno Hatta-Jakarta. Jiwaku
sudah lama mampir di Bandara Shultan Thaha Syaifudin-Jambi. Sesuai jadwal aku
sampai pukul 12.10 WIB. Aku temukan kelurga terlihat lunglai menanti. Ingin
teteskan airmata. Tapi senyum kehangatan mencairkan rindu. Mendinginkan cinta. Sayang
kebahagianku terasa sangat tak lengkap. Karena aku tak menyaksikan senyum melingkar dengan dagu diangkat menghiasi roman muka Nurul Fadhila. Dia tak ada waktu itu.
Batik
khusus untuknya kusimpan dalam tas bersamaan dengan laptop. Demi mengelabuhi
keluargaku. Karena secara terang-terangan keluarga melarang keras hubungan kami.
Walau demikian,. kucoba untuk memenjarahi penyangkalan. Menjernihkan keadaan.
Dhila tak pernah tahu tentang semua rahasia yang menderu di kalbuku. Aku
sungguh tak ingin melepaskan wanita yang sejak lama telah kucinta. Berat.
Sulit
bagiku. Mereka bagaikan punya indera penghidu khusus barang tak berbau. Tapi
nggak tahu kenapa mereka cukup cuek seolah tak jelek. Sempat mereka tanyakan. “ini batik punya siapa?”. Aku hanya
senyum sinis mengingkari.
Batik
terusik itu akhirnya sampai di tangan Dhila. Gedung MTS menjadi saksi bisu
pertemuan kami. Kelam menjadi bukti akan rindu kami yang tak bertepi.
Terucap
dari bibir manisnya. “Ini apa kak?”
“Itu
kado Ulta. Spesial untuk adik”
“Wach!…”
Bagus banget kak!”.
“Terimakasih!”
“Tapi
kalau pacaran ngasih baju, hubungan cinta sulit berjalan lama loh kak!”
“Ya!
Mudah-mudahan itu nggak terjadi sama kita”
“Mudah-mudahan
saja kak!”
Kami
mengakhiri pertemuan dengan secercah rindu yang cukup terobati. Dan senyum
melingkar dengan dagu diangkat di roman muka Dhila yang pernah kumimpi saat di
bandara. Kini telah kudapat dan ingin kubawa terbang bersama ke Jogjakarta.
Sebuah semangat untuk kembali mengejar mimpi.
Sentuhan tangannya yang lembut di awal dan akhir pertemuan terasa bagaikan kecupan mesra di pipiku. Terbayang olehku kalau pertemuan itu menjadi adegan semi pernikahanku dengannya. Aku memimpikan pula kalau Dhila adalah wanita spesial yang kulihat selain ibuku, ketika sampai waktunya kepalaku terpasang toga. Karena di sanalah akan kuucapakan permintaan padanya, maukah kau menikah denganku?
*****
Sentuhan tangannya yang lembut di awal dan akhir pertemuan terasa bagaikan kecupan mesra di pipiku. Terbayang olehku kalau pertemuan itu menjadi adegan semi pernikahanku dengannya. Aku memimpikan pula kalau Dhila adalah wanita spesial yang kulihat selain ibuku, ketika sampai waktunya kepalaku terpasang toga. Karena di sanalah akan kuucapakan permintaan padanya, maukah kau menikah denganku?
*****
PAGI itu angin berhembus dengan kencang. Meniupkan dedaunan kering. Tiba-tiba Hp berdering menyambangi aku yang lagi sedang duduk santai di depan televisi. Aku terima
sebuah pesan singkat, sesingkat kubisa mengukir senyum bersamanya.
Mitos tadi yang kuanggap polos. Ngerocos. Tak lebih dari jongos. Berputar hingga 3600.
Mitos tadi yang kuanggap polos. Ngerocos. Tak lebih dari jongos. Berputar hingga 3600.
“Kak
lebih baik kita putus saja!”
Dengan perasaan sedih, sedikit tak percaya. “Maksud
adik apa? Apa salah kakak sama adik?
Kakak akan selalu berusaha menjadi yang terbaik buat adik”. Pintaku dengan nada penuh haru.
“Kakak
nggak salah apa-apa, cuma di antara keluarga kita saja yang sedikit berbeda
pandangan”
Secara
sepintas pikiranku langsung tertuju pada keluargaku. Mereka pasti telah mengorek
kembali lobang yang telah lama coba tuk kutimbun. Walau kutelah berusaha tuk
tetap ingin bersamanya. Sulit sungguh rumit. Aku menyerah setengah pasrah.
Perih.
Aku
kembali ke Jogjakarta tanpa cinta. Cita-cita yang hampir patah. Buta berkata
bersama sekeping lara. Secercah tangis. Seonggok kebodohan menyangkal. Apa
benar melalui hadiah baju batik orang tuaku bisa mengakhiri cerita cintaku bersama Nurul Fadhila?.
Yogyakarta, 11 Oktober 2011
Yogyakarta, 11 Oktober 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar