Organisasi merupakan salah satu saran yang selalu diberikan guru-guru saya sewaktu menjadi seorang pelajar. Setelah selesai MTs/SMP dan ingin melanjutkan ke MA/SMA saya disarankan untuk ikut organisasi dan begitu juga setelah selesai dari MA/SMA. Dan salah satu saran yang masih terbungkus rapi di memori saya adalah harapan bapak, setelah selesai dari MA/SMA ini dan masuk ke dunia Perguruan Tinggi, kalian semua harus selalu menjalani 3 hal pokok;
- Organisasi, tapi dengan organisasi juga kalian tidak boleh meninggalkan hal pokok yang ke-2
- Kuliah, karena walaupun banyak mahasiswa yang tidak ikut organisasi, tapi banyak juga diantara mahasiwa yang ikut organisasi, sedangkan kuliah mereka ditinggalkan.
- Perpustakaan, Selain kuliah dan diwarnai dengan kegiatan ekstra kampus, kalian juga harus ke perpustakaan dengan arti sebenarnya yaitu ‘membaca’, karena dengan membaca pikiran kalian akan mendapatkan stimulus untuk berpikir jauh ke depan dan mendapatkan wawasan yang lebih luas.
Dan apabila 3 hal pokok ini dapat kalian jalani dengan baik, maka kalianlah yang dimaksud dengan ‘ mahasiswa ideal’. Tegas beliau dengan nada meyakinkan saya dan teman-teman.
Setelah selesai dari MA/SMA saya mencoba berangkat ke Yogyakarta dengan pikiran sedikit dihantui keraguan dan mencoba berusaha berpegang pada 3 hal pokok yang di amanatkan beliau. Pendek cerita saya pun masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta. Fenomena lain terjadi setelah saya menjadi bagian dari Perguruan Tinggi Swasta tersebut. Harapan saya selain kuliah, saya juga ingin ikut berorganisasi di kampus. Tapi planning (rencana) saya sudah tersusun secara sistematis tersebut, seakan-akan pudar setelah hampir ½ tahun saya berada di dalamnya.. Salah satu contoh signifikan kurangnya support (dukungan) dari pihak kampus atau dosen-dosen yaitu seperti pengalaman pahit saya berikut ini.
Di malam Senin, 18 Oktober 2010 kira-kira pukul 18.00 Wib, seperti biasanya saya menjalani rutinitas perkuliahan yaitu dimulai dari pukul 15.00 Wib - 16.40 Wib dan dilanjutkan lagi dari pukul 17.00 Wib -18.15 Wib bersama dosen yang sangat mengagumkan, karena dilihat dari rentetan nama gelarnya yang begitu panjang yaitu dimulai dari Amk, S. Kep, Ners (Profesi) sampai pada M. Kep dan konon menurut cerita beliau, dari 1000 mahasiswa prodi keperawatan yang masuk ke UI (Universitas Indonesia), 40 orang yang terjaring memiliki prestasi baik dari 1000 mahasiswa yang mendaftar, beliau merupakan orang yang termasuk diantaranya. Selain itu mulai dari sarjana, profesi hingga pascasarjana itu semua beliau selesaikan melalui beasiswa. Namun ada salah satu yang saya anggap kontroversi dari pernyataanya. Di akhir kuliah beliau memang terbiasa memberi nasehat, baik itu berupa ajakan maupun larangan. Ada yang ikut demo disini?, kalian itu kalau disuruh orangtua kuliah, ya kuliah lah!. Jangan mau macam-macam, apa-apa peraturan yang sudah ditetapkan pihak kampus, ikutilah!. Begitulah kira-kira pernyataan beliau. Seolah-olah secara sepintas pernyataan beliau tidak ada salahnya. Tapi menurut hemat saya, pernyataan beliau yang mengatakan; kalian itu kalau disuruh orang tua kuliah, ya kuliah lah!. Beliau seolah-olah membelenggu mahasiswa untuk berkembang dan berpikir jauh ke depan yaitu untuk belajar berpendapat dan mengeluarkan aspirasinya, beliau juga seakan-akan mendoktrin mahasiswa untuk monoton belajar hanya di intra kampus, tanpa diikuti kegiatan ekstra penunjang lainnya seperti ‘organisasi’. Demonstrasi merupakan sesuatu cara yang efektif untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa, dengan catatan bukan demonstrasi yang anarkis. Karena, melalui pernyataan-pernyataan yang disampaikan mahasiswa, pihak kampus akan tahu mana yang mesti harus diperbaiki. Inilah merupakan sekelintir fenomena pendidikan yang terjadi di Negara Indonesia tercinta. Aku berharap fenomena seperti tidak terjadi di kampus-kampus lain.
Apa yang sebenarnya terjadi di kampus ku saat ini, seakan-akan membuat ku geram atau gemas untuk melakukan tindakan yang lebih mengingatkan pihak kampus, tapi di suatu sisi ku juga sadar, kalau kampus yang ku tempati saat ini adalah kampus swasta, mereka memiliki hak interogatif yang lebih kompleks untuk melakukan apapun yang mereka mau. Bahkan dosen sampai mengeluarkan pernyataan, ia tidak segan-segan untuk mengeluarkan mahasiswa yang tidak mengikuti semua peraturan kampus. Kalau permasalahannya dikeluarkan gara-gara menegakkan kebenaran atau menuntut kewajiban ku yang direnggut secara paksa, seperti halnya penaikan SPP secara spontan, tanpa ada hujan ataupun panas dan fasilitas-fasilitas kampus yang belum mampu mereka sediakan dan penuhi, padahal sudah berapa banyak uang yang sudah dibayar. Hal itu tentu sesuatu yang mesti ditindaklanjuti oleh seorang mahasiswa. Aku pribadi tidak akan takut diberi label mahasiswa pembangkang dan dikasih IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) rendah gara-gara hal tersebut, karena tujuan pokok dan utama ku ke Yogyakarta bukannya mendapatkan IPK (Indeks Prestasi Komulatif) yang tinggi, Tapi tujuan utama dalam kemahasiswaan saya adalah menuntut ilmu sebanyak-banyaknya (semua ilmu yang memiliki nilai positif buat perjalanan hidup saya, baik itu ilmu agama, ilmu sosial maupun ilmu umum lainnya) dan ilmu itu adalah ilmu kebenaran. Menurut saya IPK tinggi atau ‘kualitas’ akan berada dibawah ilmu yang banyak (pengetahuan yang luas) alias ‘kuantitas’. Saya yakin sekali bahwa tahu sedikit tentang banyak hal lebih baik daripada tahu banyak tentang sedikit hal. Walaupun pada riilnya memang lebih baik lagi jika kita punya kualitas dan juga kuantitas. Karena dengan itu kita bukan hanya menjadi macan di dalam kampus tapi juga di luar kampus.
Keaktifan berorganisasi seharusnya menjadi salah satu parameter penilaian mahasiswa di Perguruan Tinggi. Karena dengan berorganisasi mahasiswa akan mampu mengembangkan kepribadiannya dan dalam hal ini juga akan menjadi faktor utama untuk diterima di lapangan kerja. Hal-hal positif yang bisa kita ambil dari organisasi adalah berlatih berinteraksi dengan orang lain, belajar menghadapi masalah dan berusaha untuk memecahkannya, bekerjasama dalam kelompok dan hal yang paling penting yaitu melatih mental untuk berkomunikasi di tengah masyarakat atau orang banyak.
Kordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah V DI Yogyakarta Bambang Supriyadi mengatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan tahun 2006, ribuan sarjana di Indonesia sulit mencari kerja kerena minimnya kemampuan berkomunikasi. Dan sebagian besar mahasiswa juga sulit bekerja sama dengan orang lain. Meskipun nilai mereka tinggi, tanpa kemampuan sosial dan komunikasi, mereka akan sulit diterima. Kemampuan komunikasi dan kerjasama dalam kelompok akan menjadi esensial lagi, apabila dihubungkan dengan sebagai calon perawat, karena selain kita memang selalu berhubungan dengan pasien, komunikasi yang baik (terapeutik) akan sangat membantu proses keperawatan yang akan kita berikan. Namun hanya sedikit mahasiswa yang mengerti dan memahami akan hal ini. Selain itu masih kurang eksistensi pihak kampus untuk mendukung tercapainya akan program ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar