Sekilas Tentang MAHAsiswa . . .
Apa yang terlintas dipikiran kita semua, setiap kali mendengar dua kombinasi kata ini?. Perasaan senang tentunya pasti dirasakan bagi setiap siswa yang selesai dari SMA/MA dan ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Gimana tidak selain sudah mencapai kedewasaan dan sudah diberi kepercayaan orang tua menentukan pilihan dan berpendapat, seorang siswa tersebut juga naik peringkat atau tahta, dari sebelumnya dikenal sebagai siswa menjadi seorang mahasiswa, sungguh suatu prestasi yang sangat fenomenal atau excelent. Kenapa? . . . . . Coba kita semua bayangkan kata-kata apa saja yang dibekangnya diikuti kata maha. Tentu saja Maha Kuasa, Maha Esa, Maha Mulia, Maha Karya dan lain-lain. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sendiri maha berarti, sangat, amat, teramat, tak tertandingi; besar, sedangkan siswa yaitu murid. Jadi secara historisnya mahasiswa bisa berarti, siswa sangat, siswa amat, siswa tak tertandingi atau dalam KBBI sendiri yaitu; siswa di Perguruan Tinggi. Banyak dari kita tidak mengerti apa itu mahasiswa, menjadi mahasiswa bisa saja semua orang bisa, tapi hanya sedikit dari kita mahasiswa yang mampu menjadi mahasiswa yang produktif yaitu dengan berpikir kritis, berjiwa kreator, dan memiliki kecerdasan emosional.
Mengenang masa awal sebelum saya masuk dunia perguruan tinggi, begitu banyak isu- isu yang terdengar di telinga saya tentang problemalika perguruan tinggi, diantaranya salah satu yang masih sangat teringat jelas sampai sekarang adalah”Kuliah itu santai”. Peralihan status dari siswa menjadi mahasiswa mengundang konsekuensi yang sangat sederhana, tetapi kerap kali gagal disadari serta dipahami oleh kita sebagai mahasiswa. Menurut hemat saya, sukses tidaknya perjalanan kemahasiswaan kita sangat ditentukan sekali oleh kesadaran atas pergeseran status tersebut.
Dunia perguruan tinggi sungguh sangat berbeda dengan dunia SMA/MA. Dunia sekolah menengah adalah periode yang dipenuhi suka cita, egoisme, kegundahan khas remaja, dan cita-cita hidup yang masih didominasi oleh ukuran-ukuran material dan pragmatis. Dunia perguruan tinggi berbeda coy!, seolah membukakan segalanya sambil menjelaskan “it’s the real life atau it’s the real study”. Penuh warna dan pertarungan pembentukan jati diri yang diukur spirit intelektualisme, karya dan akhirnya pengakuan dari ortu dan masyarakat. Saya membenarkan kalau dunia perguruan tinggi adalah santai dan bebas, contohnya saya sendiri yang kuliah di Yogyakarta, sedangkan orang tua saya berada di Jambi, tentunya saya memiliki kebebasan yang penuh melakukan apa saja yang saya mau, tanpa bisa diketahui orang tua. Namun, saya menyadari bahwa, hidup tidaklah santai atau bebas seperti yang saya pikirkan sebelumnya, namun tetap menyimpan misteri potensi keindahan, dan suka cita yang lebih luas dan mendalam.
- Peran Mahasiswa
Di negeri kita, tidak bisa dipungkuri lagi, bahwa peranan mahasiswa sungguh sangat sakral, diantaranya; kemerdekaan Indonesia banyak diinspirasikan oleh mahasiswa/pelajar, Perjuangan yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928 digerakkan kelas mahasiswa yang tergabung di dalam Boedi Oetomo sejak 1908. Bahkan Proklamasi Kemerdekaan 1945, tidak lepas dari peranan mahasiswa, dan yang tak kalah pentingnya adalah terjadinya reformasi 1998, merupakan peran mahasiswa juga.
Salah satu sebab yang mendorong kekuatan mahasiswa tersebut karena mahasiswa merupakan kelompok yang berpendidikan terbaik yang mampu bergerak di semua lapisan masyarakat. Deskripsi diatas adalah gambaran dan milik zaman mahasiswa lampau. Pertanyaannya kemudian, sejauhmanakah kita mampu menjadi mahasiswa yang sesungguhnya sebagaimana yang tergambar dalam sejarah ini?. Menjadi mahasiswa pada saat ini, mungkin tidak seperti bagaimana rasanya menjadi mahasiswa pada tahun 1908, 1928, 1945, atau pada 1998. Kita tentu memiliki problematika zaman tersendiri yang tentu berbeda dengan mereka. Tantangan (challenge) yang kita hadapi sekarang, mungkin tidak pernah ada pada zaman mereka, seperti; budaya mode, komsumtif, hura-hura, teknologi yang canggih, narkoba, free sex, clubbing dan lain-lain. sedang menjadi godaan bagi setiap mahasiswa, khususnya di kota-kota besar. Lalu peranan kita sebagai mahasiswa apa?. Peranan kita sebagai mahasiswa adalah sebagai kreator, cerdas, kritis, dan sebagai agent of social change, karena itu menjadi mahasiswa sejati itu harus dijadikan sebagai bagian dari spirit untuk mengarungi dunia kemahasiswaan kita saat ini.
Perjalanan mahasiswa kita saat ini bisa diibaratkan seperti sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi; Kita baru saja selesai dari perang kecil menuju perang besar (ketika Perang Badar). Sahabat bertanya; Bukannya saat ini sudah merupakan perang besar ya Rasulullah!, karena telah berjatuhan banyak korban. Lalu bagaimanakah perang besar itu ya Rasulullah?. Rasulullah menjawab; Perang melawan hawa nafsu (Bulan Puasa atau Ramadhan). Kalau Rasulullah bersabda demikian kepada semua umatnya, saya juga ingin menyatakan; kalau kita saat ini sebagai anak bangsa juga menghadapi perang besar, bahkan jauh lebih besar daripada perang dunia I dan perang dunia II. Dan menurut analogis dan analisis saya, kita sudah berada pada perang dunia III. Kalau kita tidak mampu melewati jembatan hawa nafsu berpondasikan kesesenangan sesaat yaitu dengan menyajikan teknologi yang canggih, budaya mode, komsumtif, narkoba, free sex, clubbing tersebut, maka kita akan terjatuh ke dalam jurang kehancuran moral serta berada diantara hidup dan mati. Jadi menjadi mahasiswa pada saat ini, tidak bisa hanya kita hadapi dengan mata sebelah lagi, akan tetapi perjuangan di era 2010 ini adalah tantangan yang sangat serius.
- Perenungan dan hal-hal yang harus kita miliki oleh kita sebagai mahasiswa
Salah satu saran yang selalu teringat di benak saya dari orang tua atau guru-guru di kampung saya adalah; ada 4 macam pertanyaan dan itu harus bisa benar-benar kita pahami terlebih dahulu, setelah itu kita tanamkan dalam pikiran dan kita terapkan dalam perilaku kita sehari-hari yaitu; “siapa aku?, kemana aku?, dimana aku? dan darimana aku?”.
- Perenungan lain yang bisa kita lakukan adalah;
- Cari waktu sejenak untuk merenungkan posisi kita saat ini sebagai mahasiswa. Mungkin kita perlu membaca buku-buku sejarah atau download di internet segala yang menggambarkan bagaimana peranan mahasiswa dan kaum muda di dalam perjuangan dan kemajuan bangsa yang kita cintai ini. Renungkan juga, berapa orang yang mendapatkan kesempatan mengenyam perguruan tinggi seperti kita saat ini. Lantas, apa yang kita temukan tentang mahasiswa?. Mungkinkah mereka dahulu hanya hura-hura menghabiskan waktu mudanya dengan sia-sia?
- Renungkan juga bahwa kita adalah tumpuan dan harapan orang tua. Jika kita sukses menjadi mahasiswa dengan prestasi yang baik, tentu bukan saja keluarga kita yang akan bahagia. Namun masyarakat tempat kita tinggal juga menunjukkan kebanggaan yang sama kepada kita. Serta hal yang harus selalu kita ingat, kita semua adalah harapan bangsa Indonesia tercinta.
- Hal-hal yang yang harus ada dan kita miliki
Menjadi mahasiswa memang sesuatu yang mudah kita ucapakan dengan lidah kita yang indah, tetapi hanya sedikit diantara kita mahasiswa yang memahami arti keindahan dibalik kata mahasiswa tersebut serta mampu menjadi bagian daripada ‘mahasiswa sejati’. Maksudnya menjadi mahasiswa sejati adalah sebagai berikut;
- Usahakan setiap hari ada buku yang kita baca. Buku apapun itu yang kita senangi, baik itu yang menyangkut kuliah atau tidak. Tumbuhkan budaya membaca dalam diri kita. Dengan membacalah manusia akan mendapatkan ilmu, karena dari proses itulah otak kita mendapat stimulus sehingga informasi dan ilmu baru terus kita serap. Sehingga pikiran kita tidak monoton pada satu konteks jurusan yang kita ambil, namun dengan membaca kita bisa mengetahui semua ilmu yang ada, walaupun dari ilmu-ilmu tersebut kita hanya tahu sedikit-sedikit. Menurut asumsi saya “tahu sedikit tentang banyak hal lebih baik daripada tahu banyak tentang sedikit hal”, karena kalau kita tahu sedikit tentang banyak hal, kita tidak bingung dan terisolasi ketika orang mendiskusikan apapaun masalah yang dibicarakan.
Membaca merupakan sesuatu yang bukan saja dianjurkan oleh para ilmuan atau orang-orang terdahulu yang sudah merasakan pahit manisnya suatu kehidupan, tetapi anjuran tersebut jauh dan lebih rill dijelaskan sebelum hal tersebut dirasakan atau dialami oleh manusia itu sendiri, yaitu dalam Alquran yang berbunyi iqro’ yang berarti ‘bacalah’ dan ayat ini merupakan ayat yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT ke dunia melalui perantara Malaikat Jibril dan disampaikan kepada baginda Rasulullah SAW, alangkah mulia dan istimewahnya perintah ‘membaca’ ini diposisikan Allah SWT. Jadi sudah menjadi keharusan buat kita untuk memposisikan budaya membaca menjadi suatu yang istimewah serta number one dalam perjalanan kemahasiswaan kita.
Cobalah Sekali-kali buka cakrawala pikiran kita. Baik itu dengan membaca download-an di internet, surat kabar, buku-buku atau secara langsung datang ke Jepang. lalu perhatikan apa yang terjadi di Negara-negara maju, seperti Jepang. Sesuatu halnya yang mungkin dapat dicontoh atau diteladani oleh masyarakat Indonesia, termasuk kita sebagai mahasiswa adalah budaya membaca yang mereka miliki. Kita jangan kaget, kalau misalnya datang ke Jepang dan masuk ke kereta listrik, sebagian besar penumpangnya, baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau Koran. Tidak peduli itu duduk atau berdiri. Walaupun saya sendiri pribadi, tidak melihat serta mengalami hal tersebut secara langsung. Namun saya percaya dan yakin tentang keabsahan realita ini, karena informasi ini saya dapat melalui buku yang saya baca yang berjudul, Dapat Apa Sih Dari Universitas?, Karangan Romi Satria Wahono. Konon Beliau menyelesaikan program S1, S2 serta S3 disana.
- Cari komunitas/teman mahasiswa yang benar-benar mendorong kita menjadi mahasiswa yang sejati, yakni mahasiswa yang mampu memberikan solusi bagi dirinya dan juga bagi orang lain pada masa yang akan datang.
- Kita harus menjadi “macan” di dalam dan di luar kelas. Menjadi macan di dalam kelas artinya, nilai juga harus juga baik dengan ditopang kualitas intelektual kita juga dapat diuji. Sedangkan menjadi macan di luar kelas, yakni kita juga turut dalam organisasi-organisasi ekstra kampus dan menjadi leader di dalamnya. Jika tidak, kita hanya menjadi mahasiswa yang “jago kandang”
- Pikirkanlah, bahwa waktu itu tidak akan pernah bisa diulang. Jangan sampai ada penyesalan yang kita rasakan pada masa lampau. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah ambil yang baik-baiknya dari masa lalu dan belajarlah dari kesalahan itu, setelah itu tataplah masa depan kita dan sekarang tersenyumlah!. Lalu perhatikan apa yang akan terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar