Jumat, 22 Maret 2013

SESAL YANG SEKARAT



ibarat nada aku sukar tuk iringi tempo
aku berada di simpang penuh mambu
dalam kecamuk luar biasa , hingga aku bingung…
senyum  nan mesra itu terus buntuti,

ibarat ranum yang siriki putik
dan tak kuasa harus jatuh
aku menahan tangis
senyum nan bergelora itu mendekapku

aku takut untuk menangis
ketika senyum itu semakin memeluk erat
dengan sejuta tepuk tangan selamat
mungkinkah aku sesal yang sekarat?
dari penantian teramat

ibarat puisi aku juga ingin senyum secara ikhlas

Yogyakarta, 22 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar