ibarat nada aku sukar
tuk iringi tempo
aku berada di simpang
penuh mambu
dalam kecamuk luar
biasa , hingga aku bingung…
senyum nan mesra itu terus buntuti,
ibarat ranum yang siriki
putik
dan tak kuasa harus
jatuh
aku menahan tangis
senyum nan bergelora
itu mendekapku
aku takut untuk menangis
ketika senyum itu semakin memeluk erat
dengan sejuta tepuk tangan selamat
mungkinkah aku sesal yang sekarat?
dari penantian teramat
ibarat puisi aku juga ingin senyum secara ikhlas
Yogyakarta,
22 Maret 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar