HARI berlayar menuju senja. Bu Murti masih tampak duduk di balik
tabir resah. Sunyi sendiri. Dia adalah seorang janda yang telah ditinggal
pergi suami sekitar tiga tahun yang lalu. Pergi tuk selamanya.
Anak semata wayang yang selalu dia sayang juga
hanya bisa dikenang. Merantau hampir dua tahun menyeberangi selat sunda di tengah
pulau Jawa, kota Yogyakarta. Seperanjat doa. Seonggok senyum bergelora
di antara melodi rindu. Takut, cemas, serta bimbang berusaha dia tepis dengan
sebuah ketegaran.
Foto yang kini tertempel di dinding kamar sering
menjadi tempat pengaduan Bu Murti. “Ayah!...Apakah ayah baik-baik saja di sana?
Nak!... Apakah kamu baik-baik juga di sana? Kalau ibu baik-baik saja
di sini. Ibu merindukan kebersamaan di antara kita lagi”
Ibu Murti dikenal sebagai wanita yang sangat mencintai
kedamaian dalam keluarga. Keharmonisan keluarga yang telah dia capai
sebelumnya. Sulit tuk dikubur, apalagi dimusnahkan. Karena itu Bu Murti
mempunyai suatu tekad. Tuk tidak menikah lagi. Bulat.
“Biar sunyi menghancurkan hatiku, aku akan tetap
setia padamu”. Janji Bu Murti.
Ibu Murti memang dididik dari kelurga yang
berkiblat pada kasih-sayang. Tak heran bila nama yang disandangnya menjadi buah
dari sebuah perwujudan itu. Nama yang dibuat ayahnya
ketika dia masih berumur tiga hari.
Lengang petang, sunyi siang di ujung hari. Bu
Murti temukan kegelapan. Dia pun menuju kasur tuk hilangkan kepenatan,
setelah sehari bekerja. Dia memang seorang wanita yang sangat dikagumi
masyarakat di kampungnya. Suami Bu Murti boleh saja kini hanya tinggal nama di
batu nisan. Tapi semangat suami tetap selalu hidup dalam jiwanya. Dengan
kegigihan, Bu Murti masih mampu mewujudkan mimpi anak meniti mimpi di kota
pendidikan.
Kini Bu Murti punya kesibukan mengurus
perkebunan sawit yang dulu dia tanam bersama suami. Dulu, selain menggantungkan
hidup di perkebunan sawit. Suami juga memiliki pemasukan sebagai guru honorer
di sekolah berbasis agama setara dengan SD (Sekolah Dasar).
Walau mungkin tak seberapa, tapi mereka merasakan kebarqahan dari apa yang
dijalani suami saat itu.
Pihak sekolah sebenarnya membolehkan Bu Murti,
jika mau menggantikan posisi suaminya. Namun setelah ditimang-timang, pilihan
Bu Murti tetap pada kebun sawit. Bu Murti mengerti kalau menjadi guru adalah
perbuatan yang mulia, tapi di balik semua itu dia juga berpikir. Apa bisa dia
mencukupi bea hidup serta memenuhi kebutuhan anaknya dari menjadi guru honorer
yang hanya berpenghasilan Rp300.000 sampai Rp500.000? Itu juga kadang dibayar,
kadang tidak.
Bila diambil kedua-dua. Dia berkeyakinan tak
akan mampu menjalankannya. Karena dia juga punya pekerjaan di rumah. Akhirnya,
keputusan Bu Murti bulat untuk memilih kebun sawit. Bu Murti punya kebun sawit
seluas 2 ha dan setiap dua minggu Bu Murti mampu meraup hasil sekitar Rp2000.000
sampai Rp2500.000. Sudah sangat cukup untuk bea hidup dia dan anaknya.
Ibu Murti kini masih berada di perampatan subuh tersebut. Sambil sesakali membayangkan kenangan-kenangan yang tersisa bersama suami dan anaknya. Matanya yang mulai rabun, tampak terkadang menyapa pepohonan yang ia pikir anaknya dan telinganya yang mulai pikun juga tak jarang mendengar suara panggilan suaminya.
Ibu Murti kini masih berada di perampatan subuh tersebut. Sambil sesakali membayangkan kenangan-kenangan yang tersisa bersama suami dan anaknya. Matanya yang mulai rabun, tampak terkadang menyapa pepohonan yang ia pikir anaknya dan telinganya yang mulai pikun juga tak jarang mendengar suara panggilan suaminya.
Ada peristiwa yang mengharukan di saat Bu Murti
membayangkan anaknya. Di detik-detik kelahiran anaknya, Bu Murti sekeluarga
sempat digegerkan kecemasan selama hampir 5 jam, ketika anaknya masih berada
dalam kandungan. Hanya dibantu dukun, dia dan anaknya Alhamdulillah masih mampu diselamatkan. Tapi yang menjadi kepiluan
Bu Murti sampai saat ini. Setelah kejadian itu, dia tak lagi bisa mengandung,
karena janinnya diangkat. Demi keselamatan dia dan anaknya.
Dalam lelap tak jarang Bu Murti terbangun.
Tangannya meraba ke samping, tapi hanya sebuah bantal guling. Di tengah resah
dia rasakan kesejukan lantunan azan subuh. Bu Murti menoleh ke jam dinding yang
berada persis di depan pintu kamar. Ditemukan jarum jam menukar titik ke angka
4. Dia bangun dari pembaringan menuju sumur. Baru sekitar lima langkah, kakinya
terhenyak berhenti. Dia lihat sebuah kamar kosong tanpa penghuni. Kamar yang
dulu sering dia hampiri tuk membangunkan anaknya. Sebelum sampai di
sumur.
Wajah Bu Murti terasa terbias ketika disentuh
dengan bilasan air wudhu. Subuh memang waktu yang menyimpan berjuta kenangan
buat Bu Murti. Dulu mereka selalu menjalankan salat subuh secara berjamaah.
Bagi Bu Murti salat subuh adalah salat penyatuan. Tak ada waktu yang teramat
dinanti selain waktu subuh. Di waktu subuh mereka bisa merasakan kebersamaan. Yang memang tak di dapat di waktu yang lain.
Di persimpangan subuh itulah Bu Murti terus
menanti. Dipandangnya jalan di simpang kanan. Dibayangkan suaminya berada
di sana. Kedamaian ia rasa. Tapi tatkala kepalanya di putar ke kiri. Menderuh di
qalbu sebuah kecemasan. Bu Murti cemas kalau dia belum seutuhnya mampu mendidik
anaknya. Takut anak berbelok ke arah yang salah. Lembah curam. Jurang.
Doa sanjungan untuk sebuah keselamatan
dunia-akhirat antara dia, suami dan anaknya selalu menghiasi salatnya. Bu
Murti memiliki pribadi tak kenal lelah. Tak peduli ada kabar dari sang anak
atau tidak. Tak peduli walau anak masih berniat lewat atau tidak. Dia tetap
duduk manis menanti. Satu keyakinan dan mimpi Bu Murti. Mereka dapat
bersama-sama bergandeng tangan melewati simpang kanan.
Subuh pergi, hadirkan subuh yang baru. Bu Murti
dengan tubuh dililit kain putih. Masih tetap bersimpuh diatas sejadah rohmah.
Dengan penuh pengharapan dia tengadahkan dagu dan kedua tangannya, sembari
berucap. “Ya Allah! Tunjukkan jalan yang benar buat anakku, janganlah buat dia
bimbang menentukan arah tujuan, ketika berada di persimpangan jalan”
Bu Murti selalu bertanya setiap orang yang
muncul dari simpang di mana anaknya pertama kali melangkahkab kakinya.
“Apa kamu pernah bersua anakku di sepanjang
jalanmu?”.
Tak jarang kabar yang datang menghembuskan
kepiluan. Meredupkan angan. “Selama di sana saya tak pernah bersua dengan
anak ibu. Sepanjang perjalanan yang saya tempuh, saya merasakan kesulitan
melewati jalan yang becek dan penuh semak belukar”
“Apakah sepanjang jalan yang kamu tempuh
pernah menemukan orang yang terpeleset, sesat, bahkan mungkin terjatuh ke
pinggir jurang?”
“Tentu ada Bu Murti! Teman-teman saya yang dulu
sama-sama berangkat ke sana. Sekarang banyak yang bingung dan meraba-raba. Pas
mau saya ajak pulang, ada yang bilang malu dan juga takut untuk melewati jalan
ini kembali”. Sembari mengarahkan telunjuknya ke jalan yang baru saja ia
lewati.
Di balik kabar yang buruk tersebut. Bu Murti
juga temukan kedamaian yang mengalir. Kembali tuk menaruh harapan. Karena
setiap dia menyambangi orang yang lewat. Tak semuanya ceritakan keburukan. Tapi
bercerita juga tentang jalan yang halus, mulus, dan lurus.
Sekarang Bu Murti hanya bisa diam di dua sisi.
Baik atau buruk. Pilihan yang masih dianggapnya tepat yaitu ikut angin
kebaikan. Walau dia sendiri hanya mampu mengenal anaknya dari depan. Belum
sampai ke belakang. Dia tetap punya keyakinan, kalau anakku tak ubahnya seekor
ikan di tengah lautan luas.
Yogyakarta, 5 Agustus 2012
Yogyakarta, 5 Agustus 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar