Senin, 12 Desember 2011

PENANTIAN BU MURTI DI PEREMPATAN SUBUH




HARI berlayar menuju senja. Bu Murti masih tampak duduk di balik tabir resah. Sunyi sendiri. Dia adalah seorang janda yang telah  ditinggal pergi suami sekitar tiga tahun yang lalu. Pergi tuk selamanya.
Anak semata wayang yang selalu dia sayang juga hanya bisa dikenang. Merantau hampir dua tahun menyeberangi selat sunda di tengah pulau Jawa, kota Yogyakarta. Seperanjat doa. Seonggok senyum bergelora di antara melodi rindu. Takut, cemas, serta bimbang berusaha dia tepis dengan sebuah ketegaran.

Foto yang kini tertempel di dinding kamar sering menjadi tempat pengaduan Bu Murti. “Ayah!...Apakah ayah baik-baik saja di sana? Nak!... Apakah kamu baik-baik juga di sana?  Kalau ibu baik-baik saja di sini.  Ibu merindukan kebersamaan di antara kita lagi”
Ibu Murti dikenal sebagai wanita yang sangat mencintai kedamaian dalam keluarga. Keharmonisan keluarga yang telah dia capai sebelumnya. Sulit tuk dikubur, apalagi dimusnahkan. Karena itu Bu Murti mempunyai suatu tekad. Tuk tidak menikah lagi. Bulat.
“Biar sunyi menghancurkan hatiku, aku akan tetap setia padamu”. Janji Bu Murti.
Ibu Murti memang dididik dari kelurga yang berkiblat pada kasih-sayang. Tak heran bila nama yang disandangnya menjadi buah dari sebuah perwujudan itu. Nama yang dibuat ayahnya ketika dia masih berumur tiga hari.  
Lengang petang, sunyi siang di ujung hari. Bu Murti  temukan kegelapan. Dia pun menuju kasur tuk hilangkan kepenatan, setelah sehari bekerja. Dia memang seorang wanita yang sangat dikagumi masyarakat di kampungnya. Suami Bu Murti boleh saja kini hanya tinggal nama di batu nisan. Tapi semangat suami tetap selalu hidup dalam jiwanya. Dengan kegigihan, Bu Murti masih mampu mewujudkan mimpi anak meniti mimpi di kota pendidikan.
Kini Bu Murti punya kesibukan mengurus perkebunan sawit yang dulu dia tanam bersama suami. Dulu, selain menggantungkan hidup di perkebunan sawit. Suami juga memiliki pemasukan sebagai guru honorer di sekolah berbasis agama setara dengan SD (Sekolah Dasar). Walau mungkin tak seberapa, tapi mereka merasakan kebarqahan dari apa yang dijalani suami  saat itu.
Pihak sekolah sebenarnya membolehkan Bu Murti, jika mau menggantikan posisi suaminya. Namun setelah ditimang-timang, pilihan Bu Murti tetap pada kebun sawit. Bu Murti mengerti kalau menjadi guru adalah perbuatan yang mulia, tapi di balik semua itu dia juga berpikir. Apa bisa dia mencukupi bea hidup serta memenuhi kebutuhan anaknya dari menjadi guru honorer yang hanya berpenghasilan Rp300.000 sampai Rp500.000? Itu juga kadang dibayar, kadang tidak.
Bila diambil kedua-dua. Dia berkeyakinan tak akan mampu menjalankannya. Karena dia juga punya pekerjaan di rumah. Akhirnya, keputusan Bu Murti bulat untuk memilih kebun sawit. Bu Murti punya kebun sawit seluas 2 ha dan setiap dua minggu Bu Murti mampu meraup hasil sekitar Rp2000.000 sampai Rp2500.000. Sudah sangat cukup untuk bea hidup dia dan anaknya. 
Ibu Murti kini masih berada di perampatan subuh tersebut. Sambil sesakali membayangkan kenangan-kenangan yang tersisa bersama suami dan anaknya. Matanya yang mulai rabun, tampak terkadang menyapa pepohonan yang ia pikir anaknya dan telinganya yang mulai pikun juga tak jarang mendengar suara panggilan suaminya. 
Ada peristiwa yang mengharukan di saat Bu Murti membayangkan anaknya. Di detik-detik kelahiran anaknya, Bu Murti sekeluarga sempat digegerkan kecemasan selama hampir 5 jam, ketika anaknya masih berada dalam kandungan. Hanya dibantu dukun, dia dan anaknya Alhamdulillah masih mampu diselamatkan. Tapi yang menjadi kepiluan Bu Murti sampai saat ini. Setelah kejadian itu, dia tak lagi bisa mengandung, karena janinnya diangkat. Demi keselamatan dia dan anaknya.
Dalam lelap tak jarang Bu Murti terbangun. Tangannya meraba ke samping, tapi hanya sebuah bantal guling. Di tengah resah dia rasakan kesejukan lantunan azan subuh. Bu Murti menoleh ke jam dinding yang berada persis di depan pintu kamar. Ditemukan jarum jam menukar titik ke angka 4. Dia bangun dari pembaringan menuju sumur. Baru sekitar lima langkah, kakinya terhenyak berhenti. Dia lihat sebuah kamar kosong tanpa penghuni. Kamar yang dulu sering dia hampiri tuk membangunkan anaknya.  Sebelum sampai di sumur.
Wajah Bu Murti terasa terbias ketika disentuh dengan bilasan air wudhu. Subuh memang waktu yang menyimpan berjuta kenangan buat Bu Murti. Dulu mereka selalu menjalankan salat subuh secara berjamaah. Bagi Bu Murti salat subuh adalah salat penyatuan. Tak ada waktu yang teramat dinanti selain waktu subuh. Di waktu subuh mereka bisa merasakan kebersamaan. Yang memang tak di dapat di waktu yang lain.
Di persimpangan subuh itulah Bu Murti terus menanti. Dipandangnya jalan di simpang kanan. Dibayangkan suaminya berada di sana. Kedamaian ia rasa. Tapi tatkala kepalanya di putar ke kiri. Menderuh di qalbu sebuah kecemasan. Bu Murti cemas kalau dia belum seutuhnya mampu mendidik anaknya. Takut anak berbelok ke arah yang salah. Lembah curam. Jurang.   
Doa sanjungan untuk sebuah keselamatan dunia-akhirat antara dia, suami dan anaknya  selalu menghiasi salatnya. Bu Murti memiliki pribadi tak kenal lelah. Tak peduli ada kabar dari sang anak atau tidak. Tak peduli walau anak masih berniat lewat atau tidak. Dia tetap duduk manis menanti. Satu keyakinan dan mimpi Bu Murti. Mereka dapat bersama-sama bergandeng tangan melewati simpang kanan.
Subuh pergi, hadirkan subuh yang baru. Bu Murti dengan tubuh dililit kain putih. Masih tetap bersimpuh diatas sejadah rohmah. Dengan penuh pengharapan dia tengadahkan dagu dan kedua tangannya, sembari berucap. “Ya Allah! Tunjukkan jalan yang benar buat anakku, janganlah buat dia bimbang menentukan arah tujuan, ketika berada di persimpangan jalan”
Bu Murti selalu bertanya setiap orang yang muncul dari simpang di mana anaknya pertama kali melangkahkab kakinya.
“Apa kamu pernah bersua anakku di sepanjang jalanmu?”.
Tak jarang kabar yang datang menghembuskan kepiluan. Meredupkan angan.  “Selama di sana saya tak pernah bersua dengan anak ibu. Sepanjang perjalanan yang saya tempuh, saya merasakan kesulitan melewati jalan yang becek dan penuh semak belukar”
“Apakah sepanjang jalan yang  kamu tempuh pernah menemukan orang yang terpeleset, sesat, bahkan mungkin terjatuh ke pinggir jurang?”
“Tentu ada Bu Murti! Teman-teman saya yang dulu sama-sama berangkat ke sana. Sekarang banyak yang bingung dan meraba-raba. Pas mau saya ajak pulang, ada yang bilang malu dan juga takut untuk melewati jalan ini kembali”. Sembari mengarahkan telunjuknya ke jalan yang baru saja ia lewati.
Di balik kabar yang buruk tersebut. Bu Murti juga temukan kedamaian yang mengalir. Kembali tuk menaruh harapan. Karena setiap dia menyambangi orang yang lewat. Tak semuanya ceritakan keburukan. Tapi bercerita juga tentang jalan yang halus, mulus, dan lurus. 
Sekarang Bu Murti hanya bisa diam di dua sisi. Baik atau buruk. Pilihan yang masih dianggapnya tepat yaitu ikut angin kebaikan. Walau dia sendiri hanya mampu mengenal anaknya dari depan. Belum sampai ke belakang. Dia tetap punya keyakinan, kalau anakku tak ubahnya seekor ikan di tengah lautan luas. 

Yogyakarta, 5 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar