JEJAK
terjang pria bernama Jakar selalu saja membuat orang gemas sekaligus menghela napas,
apalagi ketika menyaksikan secara langsung tingkah laku konyolnya. Saat
pemilihan kepala desa (Pilkades) tahun 2009 aku sempat bertanya
dalam bimbang, ketika panitia memanggil nama “Zakaria, Zakaria, Zakaria”.
Ternyata sosok yang membuatku penasaran tersebut muncul dengan nama Jakar.
“Loh!
Inikan Jakar”. Lirihku dalam hati. Sejak saat itulah aku baru kenal, kalau
Zakaria adalah Jakar.
Jakar
hidup bersama isterinya Dijah dan dua buah hatinya Sam’un dan Nuruja
. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana di Desa Tuo Ilir, Jambi.
Ya! Jakar memang memiliki sebuah tempat berteduh di kala panas dan hujan serta
bersandar di kala lelah. Namun orang-orang tetap saja memandang sebelah mata.
Bukan karena rumah yang dimiliki Jakar tak gegap gempita, tapi karena hanya
peninggalan mertua.
Banyak orang berpendapat. “Kalau bukan karena mertua.
Sampai mati sekalipun Jakar pasti tak akan punya rumah”. Setelah
mendengar beberapa keterangan dari orang-orang kampung. Pernyataan mereka
bisa jadi beralasan.
Adalah Pak Salim orang yang pertama kali menuangkan
ceritanya. “Saat itu saya lagi sedang membangun rumah ini (Puak!...
Menepakkan tangan ke lantai). Jakar datang kepada saya dengan berkata. Lim
minta genteng tiga ya?”. Sambil mengarahkan muncung ke arah genteng
yang dimaksud.
“Tuk apa ya Kar?”
“Tuk dimakan”
“Hah!...”
“Kamu ini gimana Lim, ya untuk memperbaiki genteng rumah
saya yang bocor lah. Hehehe… Saya butuh cuma satu, tapi mana tahu nanti ada
lagi yang bocor. Saya kan tak mesti lagi datang ke sini”
Pak Salim sendiri tak mau diberi stempel sebagai orang
pelit, hanya karena tiga buah genteng.
“Ooow! Ya ambil saja Kar. Lima juga tak apa-apa” (Mengangkat
tangan kanan dan memperlihatkan jari –jari tangannya yang lima)
Ucapkan dua patah kata terima dan kasih. Jakar pun pergi.
Tak lama berselang setelah kejadian itu. Pak Salim kembali
lagi mendapatkan tamu seorang Jakar.
Kali ini Pak Salim lagi disibukkan mengecat rumah. Karena
tiga sampai empat hari ke depan Pak Salim akan segera mengajak keluarga pindah.
Pada saat Pak Salim lagi duduk sejenak ditemani secangkir kopi hangat dan jagung
rebus. Jakar datang dengan nada sedikit menimpali maksud tujuannya.
“Nampaknya sudah mau selesai rumahnya Lim”
“Alhamdulillah!... Rencana saya akan pindah kira-kira
tiga sampai empat hari ke depan”
Belum
sempat Pak Salim menawarkan kopi dan jagung rebus yang ada di depannya. Jakar
sudah mengangkat cerek yang berisi air kopi dan jagung rebus Pak Salim yang
masih tersisa dua biji dilahap habis sama Jakar.
Pak Salim yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa diam. Pak
Salim bukan risih, karena harus kehilangan secangkir kopi dan jagung rebus.
Tapi sikap Jakar itu yang membuat Pak Salim sedikit tak percaya. Cuek banget.
Tak sampai di situ. Jakar kembali melanjutkan aksi. “Di
bagian depan rumah saya dindingnya agak kusam, Lim. Boleh ya aku minta
catnya?”. Kata Jakar dengan santai.
Pak Salim yang merasa tak enak, karena catnya sendiri sudah
berada di tangan Jakar. Hanya mampu menganggukkan kepala.
“Terima kasih ya Lim. Kupergi dulu”
Selain Pak Salim ada Pak Tajudin yang pernah meredam amarah
ketika melihat tingkah Jakar. “Menurut saya hanya dia orang di kampung ini
punya prinsip. Cuma mau makan enak dan tidur nyenyak,tapi kerja tidak”
“Kenapa pula, Din?”. Jawab Pak Salim
“Sekitar empat tahun yang lalu saya pernah mengadu nasib di
Kota Jambi. Sebagai buruh toko swalayan. Tak tahu pada waktu itu Jakar dapat
informasi dari siapa. Dia tiba-tiba menelepon saya dan meminta untuk dicarikan
pekerjaan. Terserah apa saja. Kebetulan sekali pada waktu itu. Di toko di mana saya bekerja lagi kekurangan karyawan. Saya langsung berbicara pada bos, kalau ada
teman yang membutuhkan posisi tersebut. Bos segera mengiakan”
“Lalu?”
“Jakar sempat bekerja dua hari, namun tiba-tiba dia pulang
dengan alasan anaknya sakit. Dengan memberikan uang seangka bekerja satu bulan,
bos akhirnya mengizinkan ia pulang. Sempat bos sedikit tak percaya, tapi aku
mencoba meyakinkan bos dengan mengorbankan aku sebagai tanggung jawabnya.
Karena aku benar-benar sangat tersentuh ketika dia menceritakan anaknya sakit
parah dan tak ada uang seribupun tuk berobat. Dia pulang dengan janji akan
kembali setelah anaknya sembuh. Paling lambat satu minggu”
“Terus dia kembali atau tidak?”
“Hmmm! Tidak …dia hanya menjual rasa iba. Lima hari setelah
itu aku baru tahu dari seorang teman, kalau Jakar masih ada di Kota Jambi dan
anaknya yang dia bilang sakit, rupanya tak kenapa-kenapa. Sempat aku berencana
untuk membuat perhitungan sama dia, tapi aku buru-buru disadarkan rasa maluku pada semua orang”
“Masalah tanggung jawabmu sama bos gimana, Din?”
“Mau tak mau aku harus menebusnya dengan satu bulan bekerja
tanpa upah”
“Masya Allah! Sampai segitunya. Jakar
memang sudah berbahagia di atas penderitaan orang lain”
“Sudahlah, yang lalu biarlah menjadi pengalaman kita”
“Benar!..Oh ya Din!..jadi ada benarnya selama ini kalau nama
Jakar menjadi bulan-bulanan perkataan orang”
“Maksudmu?”
“Seringkan orang di kampung kita bilang, tak usah buat nama
dari keluarga Jakar. Namanya boleh Jakar, tapi seperti tak punya zakar.
Akibatnya orang mamaknai nama Jakar ‘jarang kerja’, isterinya Dijah ‘diam
saja’ dan dua anaknya Sam’un ‘sama untungnya’ serta Nuruja ‘nurut saja’.
“Wah! Kau mengingatkan aku pada novel ‘Romeo and Juliet’
karya Shakespeare. Ketika Romeo berkata pada Juliet, apalah arti sebuah nama? Mungkin ini
jawabannya”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar