Sabtu, 22 Oktober 2011

Kisah Cintaku Bersama Dik Ulis

CERPEN PERDANA

Di lembar kertas putih bertinta hitam ini, kucoba untuk  memecahkan sebuah gumpalan bahtera perasaan yang bersemayam di dalam hatiku. Tahu nggak shobat. Menurutku hanya  'Dik Ulis’ lah something  yang slalu setia menemaniku, memang ia bukan seorang wanita yang membuatku tak  sanggup berkata dengan kecantikannya dan memang benar pula ia bukan bidadari yang membuatku seolah-olah tak mampu untuk tegak berdiri dengan pesonanya. Tapi satu hal yang perlu shobat garis bawahi atau kalau tak mau repot-repot pakai stabilo aja. He3x ... Alasanku memilih Dik Ulis yaitu, karena kemulian hatinya yang selalu menaburkan senyum di hatiku.
Dik Ulis tahu betul bagaimana  membawa suasana yang tenggelam menjadi hidup kembali, Dik Ulis  juga mengerti bagaimana bersikap ketika dalam keadaan euforia. Tak ada sikap dan kata sedikitpun yang menyisakan luka sepanjang petualangan cinta kami. Satu kata yang ingin kuucapkan, puji syukur kupanjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah mempertemukan ku bersama Dik Ulis.
Menurutku, dari dahulu yaitu sejak kuda lagi makan benalu dan sampai saat ini kuda sudah makan sphageti, cinta dik Ulis buatku tak akan lekang oleh panas serta tak akan lapuk karena hujan. Ceileee!... emang lebay sich kedengarannya, tapi mau diapain lagi, itulah perasaan yang terekam oleh kamera rasaku saat ini, buat ‘lampion jiwaku’ Dik Ulis tercinta.
Terkadang bisa juga dibilang aneh sich shobat, saking cintanya ia padaku, ia tak peduli aku mau pergi sama kekasih lain, kata Dik Ulis mah; jika abang sudah bosan sama ku, abang nggak apa-apa kock mau cari kekasih yang lain, yang penting abang selalu ingat denganku. Selingkuh membuat kita makin kukuh dan poligami menghiasi cinta kita supaya semakin bersemi. sambung Dik Ulis pula.  Amboi! enak kali rupanya pacaran sama Dik Ulis, ini dia kata-kata yang sudah kutunggu sejak kumulai bosan dengan pesona wajahmu, gumamku dalam hati.
Shobat-shobat pembaca mungkin nggak bakalan percaya, Dik Ulis nggak peduli loh shobat, apabila aku lagi pengen ngajak dia jalan-jalan, setiap saat dia pasti mau dan ketika aku tidak mau atau sudah bosan sama dia, Dik Ulis nggak ngomel-ngomel apa-apa, dia selalu tetap duduk manis menanti kedatanganku. Secara sepintas memang radah-radah aneh kedengarannya shobat. Tapi itu lah realita cintaku.
Aku sebagai seorang kekasihnya saja merasa ganjil tentang kejadian ini. Terkadang di tengah kesendirian pernah terlintas di pikiranku, kalau aku mesti harus benar-benar setia padanya, namun sungguh sayang, kesadaran itu hanya ‘nusebja’ alias numpang sebentar saja. Setelah itu pikiran kembali mengajakku bernostalgia dengan kekasih yang lain. Mungkin pantas kali ya, kalau aku diberi gelar ‘Bad Boy’.
Andai ditanya, apa benar kamu cinta sama Dik Ulis? Insya Allah dengan asma Allah dan juga kuasa-Nya kuberani berkata, bahwa aku juga cinta sama Dik Ulis. Namun ketika ditanya, apakah kamu benar-benar mau setia padanya?. Kesetianku selalu ada buat Dik Ulis , tapi ... maaf kalau di dalam kesetian ini, aku juga harus berbagi kesetian sama kekasih lain. Aku adalah seorang lelaki yang suka perselingkuhan, selingkuh itu indah.
Untuk melukiskan kebahagian yang tergambar di hatiku, mungkin hanya lewat untaian kata-kata ini, yang bisa kupersembahkan untuk Dik Ulis tercinta;
Dik Ulis! . . .
Kau memang sangat manis
Tatapan matamu bagaikan bola tenis
Hidungmu bak bola manggis
Dagumu laksana ulu keris
Aku rela mencarimu, walau kau berada di negeri perancis
Kau tak ajarkan padaku bagaimana bermuka sinis
Tapi kau ajarkan padaku bagaimana senyum, ketika aku dalam keadaan menangis
Hanya ini yang dapat kutulis
Untukmu Dik Ulis . . .
Dari sederetan panjang tentang kisah perjalanan cintaku sama dik Ulis. Waduh! gile yech kata-katanya seperti seorang sejarawan aje. Heee3x... Saat ini, bagiku sudah tak ada kata lagi yang bisa kuucapkan untuk melukiskan semua tentangnya. Kalau ku tak berlebihan pantas kiranya kupanggil dia; Annisya’ baldotun toyyibatun warobbun ghofur.  Upz ya! ada satu kata lagi, Fiddun ya wal akhiroh atau mungkin bisa juga kali ya kusebut dia Limited Edition. Busyet dech!
Aha! Tapi sayang shobat, dibalik semua kisah yang menyimpan berjuta senyuman tersebut. Kekuatan cinta kami mesti diuji dengan  bertubi-tubi kesenjangan serta permasalan, hingga akhirnya akupun dihantui oleh perasaan pesimis, membuatku harus terbaring kaku tanpa bahasa. Tepat pada tanggal 6 Agustus 2011, komunikasi antara kami mulai terputus, jangankan untuk membelai lembut rambut-rambut Dik Ulis dengan jemariku, tegur sapa pun tak terjalin saat kami berpapasan.  hubungan kasih  yang selama bertahun-tahun berjalan harmonis serta romantis, tak tahu kenapa harus berakhir miris.  Setiap hari kucoba untuk kembali mengambil hati Dik Ulis, namun karena luka yang terlalu menyakitkan, membuatku sulit untuk kembali menutup segumpal daging yang terlanjur teriris, karena dia sendiripun sudah menutup rapat-rapat hatinya untukku.         
Sebulan lebih lamanya ku harus jalani hari-hariku, hanya ditemani sunyi dan sepi. Dik Ulis yang selama memberi warna dalam setiap jejak langkahku, kini pergi bagaikan di telan kegelapan.
‘Allah tak akan menguji hamba-Nya, yang itu diluar kemampuanya’. Begitu lah kira-kira kata yang pertama teringat di benakku. Kamis, 15 September 2011 benar-benar merupakan sebuah tragedi bersejarah dalam dunia percintaanku, karena di hari, tanggal, bulan serta tahun ini  secara bertahap-tahap kukembali mendapatkan signal kasihku bersama Dik Ulis.
Shobat-shobat pembaca mungkin masih dihantui berbagai macam rasa penasaran atau mungkin ada yang mau mencoba merasakan gelora asmara seperti aku dan Dik Ulis.  Siapa sich sebenarnya Dik Ulis yang membuat lelaki yang bernama ‘Riadussolihin’ begitu mencintainya. Walau pada faktanya sendiri Dik Ulis harus diduain. Berdasarkan silsilah Dik Ulis mempunyai ayah yang bernama Abuku, sedangkan ibunya sendiri bernama Umica. Dik Ulis dilahirkan di  daerah Yogyakarta.
Konon pada saat itu aku lagi dipojok kesunyian terdiam bisu, Dik Ulis diam-diam datang menghiburku. Dengan senang bercampur keraguan kusambut ia dengan penuh keterbukaan. Mulai pada saat itulah tumbuh benih-benih cintaku pada Dik Ulis, singkat cerita akhirnya kupinang ia menjadi kekasihku.
Untuk menutup semua rasa penasaran pembaca pada Dik Ulis. Dik Ulis yang aku maksud disini adalah ‘Menulis’ yang aku singkat menjadi Ulis, Abusem sendiri berasal dari dua kata Abu dan Sem, sem sendiri adalah ‘semangat’, lalu karena dia berperan sebagai ayah, maka aku ambil Bahasa Arab dari ayah yaitu ‘Abu’. Sedangkan Umica berasal dari dua kata Umi dan Ca, Ca sendiri adalah ‘Membaca’ dan karena dia disebut sebagai ibu, maka aku ambil Bahasa Arab ibu yaitu Umi.  Jadi Dik Ulis yang dimaksud dalam kisah ini  adalah ‘menulis’.


Yogyakarta, 10 April 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar