Minggu, 19 Juni 2011

Perjalanan antara Jambi dan Yogyakarta

1.    Kerja Keras
Sudah sangat dikenal oleh  masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jambi bahwa orang Jawa dikategorikan sebagai ‘pekerja keras’, termasuk diantaranya masyarakat Jogja. Salah satunya terlihat ketika banyak orang-orang yang memiliki pohon karet di Jambi lebih memilih memperkerjakan orang Jawa dibandingkan orang asli Jambi. Karena singkat cerita orang Jawa memiliki kemampuan dan kemauan bekerja yang lebih baik, ulet, dan cepat, sedangkan ada beberapa orang kita Jambi, selain kerjanya terkesan lamban serta diikuti dengan kebiasaan malas, ia juga memiliki budaya mengambil barang dan uang sebanyak-banyaknya, sebelum ia meneteskan keringat buat si empunya.
Ironisnya penyakit ini mewabah di tengah masyarakat kita, sampai saat ini belum ditemukan cara penyembuhan dan penanganannya, baik tenaga medis atau kesehatan,dukun ataupun tabib, sampai pada psikiater. Solusinya hanya satu yaitu memahami dan menerapkan dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakan motivator atau inspirator,  yaitu;  memumbuhkan dalam diri kita benih-benih budaya kerja keras dan melahirkan kecintaan pada setiap pekerjaan yang kita geluti. Hasilnya, kita pun bersyaitan dengan malas dan bersantai-santai dan akhirnya pekerjaan yang kita jalankan pun memperoleh hasil yang maksimal dan kalau masih ada ‘kelainan menghutang’, itu lebih dari cukup untuk menutupi ruang kosong yang ada dalam diri kita.
Fakta lain juga bisa dilihat ketika banyaknya saudagar kaya yang ada di Jambi, khususnya di Kabupaten Tebo diantaranya adalah orang Jawa. Sektor pertanian, aset-aset perdagangan sampai dengan kursi kepemimpinan hampir semua didominasi orang-orang Jawa dan satu keadaan yang sangat saya khawatirkan saat ini adalah  takut terjadi etnosentris atau cemburu sosial, seperti yang terjadi di Kalimantan Barat yaitu antara suku asli (Dayak) dengan suku pendatang (Madura) dan juga baru-baru ini yang terjadi Di Tarakan (Kalimantan Timur), yang akhirnya melahirkan pertumpahan darah antara kedua kubu.
Pernyataan-pernyataan (statement) di atas, sebelumnya memang sempat terpikirkan oleh saya hanya sebatas argumen belaka, bahkan tidak lebih hanya sebuah stigma yang lahir di tengah masyarakat jambi. Namun, sejak beberapa tahun ini saya menginjak kaki di tanah jogja, akhirnya sedikit demi sedikit saya pun menemukan jawaban dari semua itu, saya mencoba memperhatikan secara seksama kebiasaan yang  mereka lakukan, baik itu dari segi pertanian, perdagangan dan beberapa hal lainnya. Saya perhatikan setiap ada tanah yang kosong mesti dimamfaati oleh mereka, keadaan semacam ini bisa saja Anda bantah dengan mengatakan; lah ia lah!, kalu tidak demikian mau gimana lagi mereka mau makan?, di jawa kan! memang tanahnya sempit dan susah mencari kerja. Lalu pertanyaan saya, apakah ia karena kita punya tanah atau ladang yang cukup luas dan pekerjaan-pekerjaan yang masih mudah ditemukan, kita bisa selalu menggoyangkan kaki di atas kursi sambil  menikmati secangkir kopi yang hanya cukup untuk hari itu saja. Perbedaan esensial antara petani-petani padi kita di Jambi dengan petani-petani di jogja, bukan hanya dari hasil yang mampu mereka dapatkan, tapi juga dari segi keuletan dan kerjakeras yang ada dalam diri mereka. Setelah padi selesai dipanen, hanya tunggu beberapa minggu setelah itu mereka kembali lagi bekerja untuk menanam bibit padi yang baru. Sedangkan kita di Jambi, khususya di kampung saya tercinta yaitu Ds. Tuo Ilir, padi selesai dipanen, naikkan ke rumah, apabila mau makan dibawa ke penggilingan, habis padi pergi ke toko dan kalu tidak ada uang, ssstttt ya! terpaksa mengutang dulu.
Jadi!, ada benarnya selama ini asumsi yang mengatakan dari kalangan kita masyarakat jambi. Kalau uhang jambi ditanyo ndak kemano kau? Jawabnya mesti satuidaklah atau dak lah. Orang dari keturunan padang, kalau ditanyo indak kama uda/uni? Jawabnya indak bagale. Sedangkan kalu wong darah jawa ditekon, nengdi kowe mas? Jawabnya adalah gole’ kerjo.

2.    Santun Dan Lemah Lembut
Santun dan lemah lembut merupakan ciri khas yang sangat kental pada  masyarakat jogja, sudah ada sejak leluhur nenek moyang mereka dan masih dipertahankan sampai pada saat ini. Salah satu alasannya kenapa Yogyakarta menjadi ‘kota pelajar’ serta menjadi sasaran bagi setiap pelajar dan mahasiswa untuk menuntut ilmu dan menjadi tujuan wisata masyarakat nusantara dan mancanegara adalah karena sipat santun yang ada di masyarakat jogja, dengan itu sekalipun seseorang terbiasa dengan perilaku yang keras dan bicara asal bablas di daerahnya, namun ketika sampai di Jogja ia  akan ikut terkontaminasi dengan perilaku masyarakat jogja yang santun dan lemah lembut. Sehingga kota jogja pun seakan-akan menjadi icon atau miniatur nusantara sebagai tujuan pendidikan dan wisata.
Sikap santun dan lemah lembut bisa kita lihat, terutama ketika kita baru pertama kali menginjak kaki di Jogja atau menjadi mahasiswa baru. Sekalipun mereka belum mengenali kita, mereka dengan indah menghadiahkan senyuman, menanyakan asal daerah serta nama kita, jadi walaupun kita baru pertama kali ke Jogja, tapi kita sudah merasakan keakraban bersama mereka. Hal lain yang sangat saya kagumi adalah ketika tidak pernah sekalipun terngiang di telinga dan terlintas di mata saya ada orang yang berantam, baik itu konflik eksternal sesama tetangga atau konflik internal bersama keluarga. Hal ini tentu mengherankan buat kita, setiap manusia pasti mempunyai masalah, baik itu sesama tetangga ataupun keluarga. Tetapi setelah saya selidik secara kontinyu, rupanya permasalahan diantara mereka tetap ada, namun dalam cara penyelesaiannya saja mereka berbeda yaitu tidak membawa permasalahan itu ke luar, paling keras mereka cuma adu mulut, itupun hanya di dalam rumah, sehingga orang lain atau tetangga tidak mengetahui tentang permasalahan yang terjadi pada mereka. Sifat yang unik dari orang jawa (jogja) adalah dia tidak akan mau berbicara langsung sama orang yang tidak ia senang, namun ia hanya berani berbicara sama teman atau orang terdekat untuk melampiaskan rasa kekesalan pada orang yang ia benci, hal ini terkadang juga bisa sangat berbahaya bagi kita yang mempunyai masalah sama mereka. Tidak jarang mereka di depannya baik sama kita, tetapi ketika berada di belakang mereka mencoba menusuk kita.  Hal lain juga terbukti ketika ibu kos saya mau melarang anak kos lain memasukkan motor mereka ke dalam garasi, karena keadaan garasi yang kecil. Apa yang beliau lakukan?. Mereka tidak berbicara langsung tentang ketidakbolehan atau ketidaksenangannya, akan tetapi menyuruh saya membuat suatu tulisan yang melarang tentang hal tersebut dan ditempelkan pada pintu masuk-keluarnya motor.

3.    Loyalitas
Yogyakarta dengan luas wilayah 3.133,15 dan populasi penduduk 3.343.651. Sungguh sangat jauh dengan Jambi yang memiliki luas wilayah 45.348,49 dan populasi penduduk 2.635.968. Yogyakarta yang memiliki luas wilayah yang kecil dan populasi penduduk yang lebih besar daripada jambi, namun bisa menjadi kota pendidikan serta memiliki 140 kampus negeri dan juga swasta, berbeda dengan jambi yang hanya memiliki hanya beberapa kampus saja.
Loyalitas masyarakat yogyakarta yaitu tetap merawat dengan baik kesetiaan dan kepatuhanya terhadap norma-norma adat yang berlaku  serta tidak memiliki sipat etnosentris atau cemburu sosial dan bercita-cita besar menjadikan yogyakarta sebagai Indonesia  Education Centre (IEC). Menjadikan kita masyarakat jambi jauh ketinggalan kereta sama mereka. Berbeda sekali dengan kita  di Jambi, loyalitas masyarakat sudah hampir tidak bisa ditemukan lagi serta masih kurangnya pergerakan dari  Pamerintah Daerah (PEMDA) Jambi untuk hal tersebut ke arah yang lebih berkualitas dan berkuantitas, sehingga jambi menjadi salah satu provinsi yang  tertinggal dari provinsi-provinsi lain, padahal SDA(Sumber Daya Alam) yang kita miliki tidak kalah dahsyatnya dengan apa yang dimiliki provinsi lain dan tentu provinsi kita juga banyak menyimpan potensi serta prospek yang baik untuk bisa diwujudkan dan dikembangkan.
4.    Jaga Tradisi
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) tidak membuat masyarakat yogyakarta kehilangan tradisi dan budayanya. Apakah kita semua pernah berpikir mengapa hanya yogyakarta yang menjadi kota istimewa di Indonesia dan tampuk kepemimpinan tertinggi dipegang oleh seorang ‘sultan’ atau ‘raja’?. Alasanya, mungkin saja karena jogja sebelumnya pernah menjadi Ibu Kota Indonesia. Selain itu juga karena masyarakat jogja selalu ingin menjaga tradisinya, bisa kita amati folemik baru-baru ini ketika yogyakarta ingin diganti oleh pemerintah Indonesia kepada hierarki yang dipimpin gubernur, secara serentak masyarakat jogja menggugat, alasan mereka yang rill tidak lain yaitu karena dikhawatirkan tradisi dan budaya yogya yang ada terisolasi dan musnah oleh pamerintah yang baru, seperti budaya-budaya di kraton dihilangkan, becak-becak dan andong-andong terpojokkan, makanan-makanan khas jogja terhapuskan dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana dengan kita di Jambi, contoh kecil dan terdekat kembali saya berkaca pada desa saya, dulu saya sangat ingat sekali ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, begitu banyak diantara para pemudi di kampung saya yang menggunakan kain sarung dan baju tertutup rapi ketika lagi berjalan, berbeda dengan sekarang kain sarung dimusnahkan, pakaian serba minim pun dikedepankan. Kebiasaan yang hampir punah juga terjadi, ketika waktu lebaran. Dulu desa kita diramaikan dengan budaya silaturrahmi, diantaranya oleh para pemuda dan pemudi, anak, adik, serta antarsaudara, semuanya saling menjalin hubungan silaturrahmi melalui kunjungan ke rumah orang yang di tuakan atau disegani. Seperti, murid bersilaturrahmi ke rumah guru-gurunya, adik menjalin kehangatan bersama kakak juga melalui silaturrahmi, begitu juga dengan mertua-menantu, anak-ayah sampai kepada hal yang sangat rumit yaitu suami-istri dan seterusnya. Lalu bagaimana pula yang terjadi dengan anak-anak Sekolah Dasar? pada masa saya duduk di bangku SD dulu, saya ingat sekali, salah satunya yaitu murid-murid tidak akan berani membantah apa yang dikatakan gurunya, tapi tidak halnya sekarang, ketika saya lagi sedang duduk-duduk di depan rumah dan kebetulan rumah saya di depan Sekolah Dasar (SD). Saya memperhatikan sekali, ketika itu ada anak kelas 5 SD memperolok-olok guru yang memerintahnya untuk mengambil sampah yang ada di depannya.
Proses transisi (peralihan) zaman, semakin waktu semakin mengkhawatirkan. Kalau dulu saya pernah dinasihati sama orang tua, kalau zaman bapak SMP/MTS tidak akan berani membantah apa yang dikatakan orang tua atau guru, seperti apa yang terjadi pada kalian saat ini. Namun kini saatnya saya yang duduk di bangku perkuliahan, perkataan yang sama bukan saya lontarkan pada anak SMP/MTS lagi, tetapi sudah bergeser ke anak-anak tingkat SD (Sekolah Dasar). Seiring perkembangan zaman yang hebat ini, bukan menjadi suatu yang tidak mungkin, perkataan ini bisa kembali dialamatkan kepada anak-anak TK (Taman Kanak-kanak), bahkan bisa jadi anak-anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Dan bahayanya lagi kata-kata ini sampai melayang ke anak-anak bayi. Kiamat sudah dunia ini.
Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), rupanya hanya mampu menopang tingkat Intelektual Quicure (IQ) saja, sedangkan Emotional Quicure (EQ) dan Spritual Quicure (SP) hanya nol besar. Tentu saja keadaan ini bertentangan dengan budaya timur yang selama ini kita pelajari dan asal kita tahu kondisi bangsa kita saat ini, bukan saja masyarakat jambi, berada pada stadium akhir masa runtuhnya akhlaqul karimah.  Kita cermati secara seksama pula, kalau musuh utama negeri kita ini, bukan karena kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM), apalagi tidak adanya Sumber Daya Alam (SDA), tetapi adalah mortalitas. Bisa kita perhatikan sendiri, kenapa antara dewan terhormat yang berpendidikan, bisa-bisanya terjadi percekcokan di dalam gedung DPR, menjamurnya kebudayaan korupsi di setiap jajaran pamerintahan kita dari pedesaan sampai dengan kursi tertinggi di pamerintahan, anggota dewan yang tidak hadir rapat sampai dengan tidur saat rapat berlangsung, anggota dewan secara jamaah menonton film porno di gedung DPR, belum lagi keinginan anggota dewan kita untuk memiliki gedung yang baru, sedangkan gedung yang lama masih sangat bagus, padahal bangsa kita berada pada kondisi yang sangat kritis. Keadilan yang ditegakkan secara sak karape dewe atau terserah dia sendiri, tanpa berdasarkan kebenaran yang sesungguhnya terjadi. Dan beberapa kejadian kontrofersial lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Jika, memang kondisi bangsa kita memiliki mortalitas yang baik atau aklaqul karimah, tentu tidak akan mungkin bangsa kita seperti saat ini.
Suatu keadaan yang sangat mencengangkan buat saya putra asli jambi ketika sampai di Jogja yaitu saya melihat dan menyaksikan anak-anak SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama) sampai dengan SMA (Sekolah Menengah Atas), oleh Departemen Pendidikan Yogyakarta dimasukkan dalam kurikulum pendidikan suatu mata pelajaran khusus yang mengajarkan tentang Kebudayaan Jogja, baik itu sejarah tentang Jogja, berbicara dan menulis Bahasa Jogja serta hal lain-lain yang berkaitan dengan Budaya Jogja. Kita juga bisa menyaksikan sendiri di Jogja , bahwa peninggalan sejarah dahulu mesti terawat dengan baik dan hal yang baru-baru ini di Jogja yaitu ditemukan lagi candi  yang tak jauh UII (Universitas Islam Indonesia) oleh seorang petani dibawah rerumpunan salaknya. Dan segera para arkeologi dan para pengurus situs sejarah menggalihnya secara hati-hati dan candi itu sekarang sudah bisa dikunjungi oleh wisatawan. Fenomena seperti ini tentu berbeda dengan kita di Jambi, jangankan kita ingin mengurus peninggalan sejarah yang baru ditemukan, peninggalan sejarah yang sudah ada saja tidak terurus dengan baik.
Pertanyaannya apakah kecintaan terhadap budaya tersebut masih ada di Masyarakat Jambi?. Bagi kita yang mengenal masyarakat jambi yang ada saat ini, secara langsung kita akan menjawab sudah ‘tidak ada’. Bisa kita cermati ketika pembangunan gedung-gedung perkantoran, sekolah, rumah sakit dan lain-lain yang sudah tidak lagi dibangun berdasarkan arsitektur ala jambi, batik jambi yang sebenarnya ada, tetapi tidak pernah dikenalkan dan direalisasikan pada masyarakat luas, Bahasa Jambi juga sudah sulit kita temukan, ketika dalam pergaulan sehari-hari, bahkan bagi sebagian anak-anak muda menjadi sesuatu yang ditutup-tutupi dan seolah-olah tidak tahu dan makanan khas jambi juga sudah asing terdengar di telinga kita orang membicarakanya. Jadi istilah Jambi Beradat pada saat ini, sudah saatnya kita ubah menjadi Jambi Tersesat. Karena perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di jambi lahir sipat gengsi atau life stile yang tinggi, tradisi ini mewabah dari anak-anak kecil, orang dewasa sampai lansia (lanjut usia), sehingga menggeruskan budaya jambi yang telah ada. Keadaan seperti ini tentu saja melahirkan sebuah hukum kausalitas (sebab akibat), karena luruh dan terkikisnya kecintaan kita terhadap budaya sendiri, menjadikan kita tidak mau untuk mempelajari dan memperkenalkan budaya kita kepada orang lain, selain tidak adanya lagi regenerasi yang memperkenalkan budaya jambi, hal lain juga didukung masih kurangnya keseriusan PEMDA (Pamerintah Daerah) kita untuk mengekpose budaya kita ke daerah luar. Jadi, tidak lagi mengherankan ketika kita berada di luar jambi, khususnya di Pulau Jawa. Banyak diantara teman-teman kita yang tidak mengenali jambi itu ada dimana, kadang-kadang saya sempat berpikir; ini anak bodoh atau gimana? memang dia tidak pernah baca peta atau paling tidak nonton berita gitu. Tetapi lama-lama saya juga berpikir, memang ada benarnya ada anak yang tidak kenal jambi, alasannya; pertama, karena tidak adanya ciri khas, terutama dari budaya kita yang bisa mengingatkan mereka, ketika mendengar kata jambi. Kedua, Kurang dieksposnya budaya kita di tengah-tengah masyarakat, baik di media cetak atau Televisi untuk bisa dikenal oleh orang lain.
Pemikiran saya tidak cukup sampai disana, saya mencoba berpikir secara kontinyu ke akar-akarnya, oh ya! fenomena ini tidak hanya berhenti (finish) sebatas jambi. Karena apa?, saya pernah menonton suatu acara di Televisi, ketika ada seorang presenter memandu suatu acara semacam petualangan di luar negeri dan ia menanyakan kepada seorang Warga Negara Asing (WNA), pertanyaan kira-kira seperti ini; Pak!, apakah Anda  tahu Negara Indonesia itu ada dimana? dan anehnya mereka malahan lebih tahu bali dan Pulau Jawa daripada Indonesia. Pernyataan yang sama juga pernah diucafkan oleh Presiden Amerikat Serikat, Barack Husein Obama ketika berkunjung ke Indonesia.
Pemikiran saya pun kembali mengajak saya berwisata dan bernostalgia terhadap hal yang lebih dalam lagi. Ketika saya bandingkan antara desa saya dengan desa-desa yang ada di bagian kecamatan saya, desa saya menjadi desa yang terkucilkan, naik lagi ke bagian kabupaten, kecamatan saya pun menjadi kecamatan yang terbelakang diantara kecamatan yang berada di kabupaten saya, bisa dibuktikan sejak kabupaten Bungo-Tebo dan sekarang terpisah masing-masing kabupaten bungo dan kabupaten tebo, perkembangan kecamatan saya pun tidak jauh berbeda masih seperti yang dahulu. Beranjak lagi ke tingkat provinsi, kabupaten saya pun masih sangat jauh tertinggal dari kabupaten yang ada di Provinsi Jambi. Selanjutnya ke posisi tinggi yaitu Negara Indonesia, provinsi jambi pun apabila digandengkan bersama provinsi yang lain di Indonesia,  keadaan yang terjadi juga tidak jauh berbeda. Dan terakhir ke tingkat tertinggi yaitu dunia, keadaannya pun semakin mengkhwatirkan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan negeri tempat tinggal saya? kenapa saya bisa tinggal di negeri yang sebenarnya kaya, tetapi miskin dan terkucilkan. Apakah karena amat cintanya sama keadaan miskin, kita pun mengikuti lagu, aku masih seperti yang dulu. Atau mungkin karena dengan negara yang kaya ini pula, membuat kita semakin malas dan manja. Coba kita bayangkan apakah ada negeri yang indah, kaya, dan berlimpah seperti negeri indonesia ini?. Lalu coba pikirkan pula kenapa jepang yang beberapa kali terjatuh, lalu mampu bangkit kembali yaitu ketika beberapa kali negeri mereka diguncang oleh bencana gempa dan tsunami dan peristiwa yang tak pernah hilang dari ingatan kita yaitu tragedi Hiroshima dan Nagasaki yang di jatuhkan bom atom pada saat perang dunia II oleh tentara militer Amerika Serikat, bahkan china dan india yang dulunya termasuk negera miskin, sekarang menjadi negara super power di dunia, sedangkan mereka memiliki negeri yang buruk, padang pasir yang tandus, sedikit daratan dan kalaupun ada itu sulit ditumbuhi tanaman dan tidak sesubur apa yang kita miliki.


5.    Budaya baca yang tinggi
Kelahiran benih-benih budaya membaca dan munculnya bercak-bercak kegemaran menulis dalam diri saya. Itu terlebih karena terilhami ketika  saya mulai menginjakkan kaki di Jogja. Setelah sampai di Jogja saya mengenal Books Fair (pekan raya buku-buku) atau sering kita kenal dengan ‘pameran buku’ yaitu menyuguhkan bagi pengunjungnya buku-buku yang sangat murah, buku-buku terbaru serta terjangkau bagi saya seorang mahasiswa. Saya yang awalnya hanya mencoba membeli buku-buku sampai pada akhirnya saya tertarik untuk belajar menulis buku, walaupun saya merasa kemampuan yang saya miliki pada saat ini belum memadai untuk kategori sebagai seorang penulis (author), karena pengetahuan saya yang masih minim serta pengalaman yang masih sedikit, tapi saya yakin dengan cara belajar terus-menerus, saya pasti bisa.
Selain itu di Jogja saya juga mengenal Taman Pintar yang juga memanjakan pengunjungnya dengan buku-buku yang sangat murah dan terjangkau Kalau tidak berlebihan, saya mau mengatakan; Jogja adalah Inspirasiku. Soalnya, begitu di Jogja saya bisa menemukan ide-ide baru yang lebih kreatif dan kritis. Sedangkan pada saat 2 bulan liburan di Jambi  saja, sedikitpun tidak ada bahan yang mampu saya tulis. Otak saya seakan-akan terkunci dan inspirasi saya pun seolah-olah terbelenggu. SD (Sekolah Dasar) dan MTs (Madrasah Tsanawiyah) di kampung selama 9 tahun, setelah itu 3 tahun MA (Madrasah Aliyah) di Kota Jambi dan 17 tahun total keseluruhan saya berdomisili di Jambi, sekalipun saya tidak pernah mendengar istilah Books Fair atau Pameran Buku. Dan kalaupun ada tokoh-tokoh buku, itu juga menyuguhkan harga yang sangat fantastis serta sulit dijangkau oleh kalangan pelajar dan mahasiswa yang ingin memilikinya. Budaya membaca inipun akhirnya menghadirkan mahasiswa yang kritis dan kreatif, sehingga tidaklah heran begitu banyak di Jogja cafe atau warung kopi, hebatnya walaupun banyak cefe-cafe yang sudah ada, tetapi tetap saja dipenuhi oleh mahasiswa untuk paling tidak sekedar kumpul-kumpul sesama etnis, pembahasan tentang organisasi atau pelajaran, ‘bedah buku’ atau diskusi tentang sejarah dahulu sampai fenomena yang masih hangatnya terjadi di Indonesia, bahkan di dunia internasional. Dari semua rentetan kejadian ini memunculkan banyak organisasi dari kalangan mahasiswa, baik itu organisasi intra kampus dan ekstra kampus, hanya karena persamaan ide, hobi dan tujuan, maka lahirlah sebuah organisasi.

6.    Berpikiran lebih maju
    Masyarakat Jogja sekalipun mereka tinggal di desa atau kurang mengenyam pendidikan, tetapi mereka tetap bisa berpikran madani atau tidak kalah tertinggal sama orang yang ada di kota atau orang yang berpendidikan. Saya bisa menyaksikan sendiri seorang pemilik warung makanan, bisa berbicara dan berpikiran seperti seorang mahasiswa pada idealnya, ketika saya bertanya ibu dulu pernah kuliah dimana?, jawaban beliau, ibu tidak pernah kuliah, ibu hanya tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kekaguman sayapun berlanjut ketika saya melihat ada undangan untuk bapak kos saya untuk menghadiri rapat kelompok tani yang beliau ikuti, saya pikir; wah! ini terstruktur sekali sebuah organisasinya.Karena berpikiran lebih maju ini pula membuat pada zaman dahulu kota jogja sulit dimasuki oleh para penjajah dan oleh karena itu sempat menjadi ibu kota indonesia.
    Selain itu tidak pernah sekalipun terlihat oleh saya ada orang yang berebut kekuasaan, terutama pada tampuk kepemimpinan terendah saja yaitu di pedesaan, baik Kepala Desa, Ketua RT dan Ketua RW. Mereka selalu fair pada saat pemilihan dan tidak terjadi percekcokan antara mereka. Dan ketika seorang tersebut menang dalam pemilihan tersebut, mereka menerima dengan baik apa yang menjadi hasilnya. Lalu apa yang terjadi dengan kita di Jambi, terutama lagi di desa saya, kita masih banyak sekali berkembang sifat etnosentris atau cemburu sosial, begitu lawan politik kita naik, kitapun dengan segala upaya berusaha untuk menggulingkannya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, kita sampai membuatnya harus pergi dari desa yang ia pimpin. Satu lagi yang membuat saya terkadang heran sekaligus tertawa, yaitu fenomena yang mewarnai ketika saat pemilihan wakil rakyat, kepala daerah atau presiden. Kita semua masyarakat Ds. Tuo ilir tentu bisa menyadari sendiri, ketika pada pemilihan DPR misalnya, karena banyaknya partai politik (Parpol) yang bermasukan untuk mencari dukungan, sehingga memunculkan paradigma atau pandangan yang berbeda antara masyarakat, akhirnya membuat pilihan partai yang berbeda pula dan dampaknya pun terjadi perselisihan, hingga melahirkan terputusnya hubungan tegur sapa. Bukan saja sesama tetangga, tetapi juga sampai dalam satu keluarga yaitu antara anak-ayah. Saya tidak memahami secara jelas tentang permasalahan ini, apakah karena mungkin masyarakat di desa saya terlalu berpikiran maju, sehingga mereka pun berbondong-bondong untuk ikut politik dan tidak segan untuk bersitegang sesama saudara atau teman sendiri, hanya karena mementingkan ego sendiri, sekalipun orang yang ia dukung tak mengenalnya dan kalaupun kenal itu hanya saat pemilihan saja, berbeda halnya ketika ia  telah duduk di kursi ambisinya. Pertanyaannya saya tentu tidak mesti saya jawab sendiri, Anda bisa pikirkan dan temukan jawaban sendiri. Berpikiran maju atau mundurkah masyarakat desa saya?.
7.    Komitmen yang tinggi untuk masa depan
    Semua yang saya tulis disini, sungguh tidak bisa terlepas dari pengalaman pribadi saya baik ketika bergaul atau berinteraksi sesama mereka, baik melalui apa yang saya lihat dan apa yang saya dengar. Jadi, dalam hal ini setiap point-point yang ada saya selalu mencoba mengaitkan dengan apa yang sudah pernah saya alami sendiri. Termasuk halnya ketika saya pada saat liburan kuliah, saat itu saya diajak oleh kakak tingkat sewaktu di Madrasah Aliyah Jambi, untuk sekedar jalan-jalan ke sebuah desa teman sekelasnya sesama jurusan bahasa inggris di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang tidak begitu jauh dari kota jogja, sebut saja namanya Edy Kurniawan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, kami pun sampai di desa tersebut. Kami disambut sama mereka dengan kehangatan dan keakraban, dipersilahkan masuk dan duduk di kursi ruang tamu mereka, setelah waktunya makan, kami diajak makan dan apapun makanan yang ada mereka tak segan-segan menghidangkannya. Dan begitu juga waktu tidur kami disediahkan tempat tidur. Cerita ini hanya sebatas prawacana saja, karena memang belum ada hal yang istimewah dari cerita yang terjadi ini. Karena apa? Anda pembaca semua pasti berpikiran, kalau cuma itu kita juga bersikap demikian kepada tamu kita, bahkan bisa lebih.
    Pengalaman yang ingin saya sharing kepada para pembaca adalah ketika pada malam harinya, kira-kira habis sholat isya, saya ikut berbincang bersama orang tua temannya Bang Edy tadi di kursi ruang tamu, setelah beberapa menit terjadi perbincangan antara kami, akhirnya tak tahu kenapa tiba-tiba, beliau menanyakan; orang tua mu di Jambi bekerja apa?. Saya pun menjawah petani karet pak!.Lah! kebetulan itu, nanti kalau bapak sudah pensiun, bapak mau ikut kesana saja menjadi penyadap karet atau mungkin sekalian saja bertani karet disana. kata beliau. Saya jawab; memang berapa lama lagi pak?. Sekarang bapak dan ibu mu ini masih menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil), ya! paling tidak sekitar 6 sampai 7 tahun lagi lah!. Kata beliau pula. Jawaban saya pula, Oooh! (sambil berpikiran dalam benak saya, itu kan masih waktu yang panjang, tetapi kenapa beliau sudah berpikiran demikian). Kejadian ini memang belum bisa sepenuhnya dikategorikan bapak tersebut  sebagai orang yang mempunyai ‘komitmen yang tinggi untuk masa depan’, akan tetapi ini hanya sebatas sintilan saja, buat kita masyarakat jambi, terutama lagi-lagi di desa saya. Kita jangankan mau berpikiran untuk 6 sampai dengan 7 tahun kedepan seperti bapak itu, setelah punya uang atau anggaran sekitar sebulan, bahkan seminggu saja kita sudah goyang-goyang kaki di rumah. Dan ketika uang habis, barulah kita kembali mau bekerja, ketika saat bekerja uang pun sudah ludes, akhirnya gali lobang tutup lobang pun tak bisa dihindarkan. 
Fakta-Fakta Lain Tentang Kota Yogyakarta;
1.    Agama
    Yogyakarta mayoritas penduduknya juga beragama islam, tetapi karena di tanah jogja tempat lahirnya ulama’ terkenal kita yaitu  KH. Ahmad Dahlan  merupakan pendiri atau pencetus lahirnya Muhammadiyah, maka rata-rata masyarakatnya pun ikut pada aliran islam yang satu ini. Sama sekali tidak ada yang salah dengan ajaran mereka, cuma dari pemahaman saja terkadang berbeda dengan Nahdatul Ulama (NU) yang berkembang di tempat kita. Mereka juga sama seperti kita, mengusung suatu misi  menuju arus islam berlatarbelakang ahli sunnah wal jamaah ‘ aswaja’.  Ketika di Jogja saya tidak lagi mendengar azan dua kali pada saat jumatan, apalagi mendengar pukulan beduk sebanyak 3 tahapan, seperti yang ada di desa saya. Diantara khutbah pertama dan kedua tidak dibacakan shalawat atas Rasulullah SAW yang disuarakan oleh seorang muazzin dan lain sebagainya. Walaupun demikian kita tidak semerta-merta mengatakan, ajaran mereka itu adalah salah dan kitalah yang benar. Karena setiap individu atau kelompok mempunyai pemahaman sendiri tentang apa yang mereka yakini. Selagi itu tidak bertentangan dengan Alquran dan Sunnah. Keadaan semacam ini tidak seharusnya menjadi perdebatan buat kita, pekejaan rumah kita bukan permasalahan benar atau tidak antara keduanya, tetapi terletak pada penyerahan diri kita yang sesungguhnya pada Allah SWT dan pengabdian kita pada Rasulullah untuk menjalankan sunnah-Nya. Maka itulah islam yang sesungguhnya dihadapan Allah SWT.
    Masalah tentang pemahaman keagaman antara tempat kita dengan jogja (mohon maaf sebelumnya, bukan bermaksud untuk membandingkan kualitas pemahaman agama seseorang, karena kita sadar betul kualitas keimanan seseorang, hanya Allah semata yang tahu). Wallahua’lam.  Tetapi, disini saya cuma melihat dari perspektif pembelajaran yang hanya mereka dapatkan dan cara beberapa masyarakat menjalankan ritual keagamaan, terutama pada saat melafalkan ayat-ayat Alquran. Saya melihat rata-rata anak-anak jogja hanya mengenyam pendidikan tentang keagaman, itu hanya melalui TPA saja. Mulai dari selesai shalat ashar sampai kira-kira pukul 17.30 WIB, waktunya paling lama kira-kira 2,5 jam. Keadaan seperti ini tentu berbeda sekali sama kita. Kita mendapatkan pendidikan keagamaan dari sebuah sekolah khusus untuk mempelajarinya yaitu Madrasah Ibtidaiyah, yang di dalamnya mengajarkan kepada kita segala sesuatu tentang agama, baik itu ilmu fiqh, membaca ayat suci Alquran yang baik dan benar (Tajwid), ketuhanan (Tauhid), sampai pada nahwu dan sharaf segala macamnya. Belum lagi pada malam harinya, kira-kira habis maghrib kita juga kembali beramai-ramai pergi ke rumah ustadz atau kyai untuk mengasah bacaan ayat suci Alquran. Lalu bagaimana pula saat masyarakat jogja melafalkan ayat Alquran (sekali lagi saya mohon maaf, bukan bermaksud untuk mengatakan bacaan Alquran saya sempurna, tetapi paling tidak saya masih tahu lah, walaupun hanya sedikit tentang tajwid dan pada bagian mana yang seharusnya dipanjangkan atau tidak). Hal yang tidak habis pikir oleh saya, bagaimana beberapa imam shalat masjid melafalkan ayat-ayat Alquran seperti pada orang awam, bukan saja dari hukum tajwidnya yang mendalam, tetapi juga hal yang sangat mendasar yaitu dimana antara bacaan yang panjang dan pendek. Kenapa saya bahas sampai kepada imam, karena kita pun tahu seorang imam, seharusnya memiliki bacaan Alquran yang siap untuk dipertanggungjawabkan.
    Pembahasan pada bagian keagamaan ini sungguh sangat berat untuk saya jelaskan, karena kalau kita bicara tentang keagamaan, kita juga bicara masalah keyakinan serta kepercayaan dan tidak lepas pula dari sebuah kata kebenaran dan juga kebaikan. Kalau bicara keakar-akarnya tentu sampai kapanpun tidak bakalan ada pelabuhannya. Hanya akan membuat pikiran kita ngambang sana-sini. Kalau begini, lalu bagaimana dengan yang itu dan begitu seterusnya. Dalam beberapa perhatian yang sempat saya lihat, ada satu sisi yang menjadikan saya kagum dan bangga pada masyarakat jogja yaitu pernah suatu ketika saya berkunjung ke tempat teman saya, yang kebetulan dia menjadi ta’mir pada suatu masjid dan dia juga mahasiswa jambi. Setelah kami selesai menjalankan shalat ashar, saya pun keluar dan meminta kunci padanya untuk masuk ke dalam kamarnya. Tetapi kira-kira sekitar ½ jam teman saya tidak segera menyusul ke kamar, saya keluar kamar untuk mencarinya. Alangkah kagetnya saya, ketika  melihat para ibu-ibu rumah tangga belajar membaca Alquran yang dituntun oleh teman saya tadi. Alasan, kenapa saya kagum pada mereka adalah pertama, walaupun sudah ibu-ibu rumah tangga mereka masih peduli tentang bacaan Alquran yang mereka miliki. Kedua, mereka tidak seolah-olah bersikap malu. Oke lah! buat sebagian kita yang sudah cukup mapan dalam bacaan Alquran, maka saya rasa Anda di luar konteks ini. Tetapi, bagaimana buat kita yang masih awan dalam bacaan Alquran, maka saya harap ini menjadi pembelajaran berharga buat kita semua. Kenapa pula saya berpegang pada peduli dan malu untuk menjadi alasannya, karena saya lihat di tempat kita begitu sudah tua atau menjadi seorang ibu atau ayah, kepedulian tentang bacaan Alquran itu sudah tidak ada dan apalagi berhubungan dengan sifat malu sungguh menjadi penghalang terbesar buat sebagian masyarakat kita.
    Ada 5 agama yang sangat dominan dan diakui oleh Bangsa Indonesia yaitu Islam, Kristen Khatolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Budha. Dari 5 agama yang saya sebutkan ini, semuanya bisa kita temukan di Jogjakarta. Tidak usah kita melirik jauh-jauh ke masyarakat luas yang ada di Jogja, cukup saya ambil contoh dari kampus saya saja. Di kampus saya Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) kita bisa menemukan 5 agama yang ada diatas. Tanpa saya sadari, perkumpulan saya diantara teman-teman 5 agama tersebut, memberi warna dalam hidup saya. Warna yang saya maksud, bukanlah antara agama yang saya yakini yaitu Islam dicampur aduk dengan agama lain, sehingga menghasilkan warna yang baru dan menarik. Tetapi warna yang ingin saya katakan disini adalah sebuah warna saling menghargai dan menghormati. Dengan kita mengenal mereka dan keyakinan mereka, kita juga akan mengerti arti sebuah perbedaan. Dan bukan hanya berdiri di balik tirai penghujatan mengatakan apa-an itu? dan mungkin sampai pada mentertawakan mereka. Asal kita tahu hampir semua insan yang ada di dunia ini, khususnya di daerah kita jambi. Tidak lebih terlahir dari sebuah keyakinan genetik atau keturunan, kita bisa beragama Islam, tidak lepas dari karena orang tua kita beragama Islam, orang tua kita mempunyai keyakinan pada Islam, tanpa kita pungkuri pula karena kakek-nenek kita terlahir dari darah Islam dan begitulah seterusnya. Lalu begitu pula dengan saudara-saudara kita yang ada di agama lain. Terkadang hanya taufiq dan hidayah dari Allah SWT yang membedakan antara seorang yang beragama genetik dan memang seutuhnya di dapat dari panggilan-Nya.




2.    Bahasa
    Kita mengenali sekali kalau di Jambi terdapat banyak berbagai macam suku, adat, budaya dan juga etnis, sehingga menjadikan jambi sebagai salah satu provinsi multi kultural, karena banyaknya orang perantauan atau transmigrasi yang berdomisili disana. Tanpa kita sadari lahirlah berbagai macam bahasa di tengah-tengah masyarakat kita jambi. Tetapi berbeda halnya dengan jogja, sekalipun mereka di datangi juga berbagai macam suku, adat, budaya dan etnis, akan tetapi mereka tetap dalam bahasa yang satu. Pernyataan ini berdasarkan pengalaman saya juga, ketika saya menanyakan kepada ibu kos saya; ada punya tukul besi tidak bu!, Beliau menjawab; apa itu? saya coba alihkan ke bahasa yang lain, maksud saya penokok bu! Kembali lagi beliau bertanya, apa itu? oh ya! hammer ada tidak bu!, apa lagi yang itu? Jawab beliau. Lalu terakhir saya bertanya, kalu palu ada tidak bu!. Barulah beliau memahami apa yang saya maksud. Begitu juga halnya ketika saya menanyakan ada punya koset tidak bu!, Beliau juga tidak mengenali barang yang dimaksud, Kalu mancis atau cetuk ada tidak bu!, lah barang apalagi itu kata beliau. Dan terakhir ketika saya bilang korek api, barulah beliau mengerti apa itu yang saya cari.
    Selanjutnya kalau tadi dalam multi bahasa, tetapi kali ini saya mencoba berbagi pengalaman ketika berinteraksi dengan masyarakat jogja dalam satu bahasa, ketika baru pertama di jogja, saya makan di warung padang bersama dengan Bang Okta (teman sekampung yang sudah berada di jogja sejak 2 tahun sebelum saya) dan Bang Mizon (Kakak Ipar yang mengantarkan saya ketika ke jogja), setelah mengambil nasi dan lauk sendiri, kami pun ke kursi dan meja yang telah disediahkan. Ketika saatnya peramu hidangan bertanya sama saya, kamu mau minum apa?. es kosong. Jawab saya. Apa yang terjadi ketika dihidangkan yaitu hanya batu es yang ada di dalam gelas tersebut, tanpa ada airnya. Untunglah! disana ada Bang Okta yang sudah memahami tentang hal tersebut, dia pun kembali berkata; maksud dia ini mas air es. Dan ketika itu pula barulah diambil gelas saya yang hanya berisi es tadi dan dimasukkan air putih. Dan berbeda lagi ketika mereka menyebutkan teh es atau jeruk es seperti kita di jambi, mereka tidak menyebutnya demikian, malahan kata-katanya dibalik, menjadi es teh atau es jeruk.
    Orang jogja juga memiliki kebiasaan menyingkat kata-kata, misalnya bubur kacang ijo menjadi ‘burjo’, Nasi Goreng (Nasgor).  Dan begitu juga ketika mereka bilang lampu merah, dibilangnya ‘Bang Jo’, kebun binatang menjadi ‘Bonbin’ dan lain sebagainya.
   
3.    Makanan
    Kalau masalah makanan khas jawa, termasuk salah satunya makanan khas jogja. So pasti kita sebagian masyarakat jambi mengenali rasa yang terkandung dalam makanan mereka yaitu manis. Saat pertama ke Jogja, saya benar-benar harus memaksakan diri untuk ikut makanan yang manis. Sekalipun adakala pemasaknya atau cheaf sempat menanyakan pada saya, pedas apa mas?. Ya! sangat pedas. Jawab saya. Tetapi, pada saat dinikmati tetap saja saya tak merasakan kepedasan itu. Lalu, sekarang sudah hampir 2 tahun ini saya mempunyai inisiatif tersendiri, supaya tidak menghilangkan selera makan. Saya sengaja menjadikan cabe rawit sebagai teman makan saya, meski sebenarnya hal ini tidak saya lakukan pada saat di Jambi. Dan sekali-kali pula saya sengaja datang ke Warung Padang, karena menurut saya masakan padang cukup cocok buat lidah saya.
    Fakta unik yang saya temukan dari makanan jogja, ketika pertama kali saya mendengar makanan khas jogja yaitu nasi kucing, saya pikir unik sekali namanya. Tidak lama setelah itupun saya mencoba menikmati makanan itu, mau tahu berapa harga perbungkus nasi kucing tersebut?. Harganya adalah Rp1000,-. Di dalam nasi tersebut ada nasi+oseng (tempe goreng), nasi+teri, nasi+telur dan ada juga nasi goreng. Kalau untuk porsi saya nasi itu 2 sampai 3 baru kenyang dan kalau 3 bungkus itu juga baru Rp3000,-, ditambah tak lupa segelas es teh atau es jeruk, yang bisa kita kenal di Jambi teh es dan jeruk es. Dan itu juga baru menghabiskan Rp4000,-.
    Dalam cara pelayanannya rata-rata semua warung makanan, baik angkringan, lesehan, dan kantin. Mereka memberikan keleluasaan atau keluwesan yang penuh buat kita untuk mengambil makanan sendiri dan nantinya setelah kita selesai makan, merekapun dengan penuh kepercayaan menerima semua laporan dari apa yang kita makan. Hanya kejujuranlah yang bisa membantu kita untuk mengatakan apa telah kita makan. Saya pernah sekali bertanya sesama anak jambi, gimana misalnya kalau hal ini diterapkan di kampung kita?. Dia menjawab dengan penuh keraguan.




4.    ACARA PERINGATAN DAN PERAYAAN
    Acara yang dimaksudkan disini meliputi; shadaqah, tasyakuran, resepsi pernikahan, khitan dan lain-lain sebagainya. Selain ada beberapa acara yang mengundang para undangan untuk makan langsung di rumah pengundang, ada juga beberapa acara yang makanannya bisa dibawa pulang oleh para undangan serta ada pula yang kedua-duanya ada dalam satu acara yaitu makan di rumah pengundang dan setelah pulang diberikan makanan kembali.
    Fenomena yang unik yang sedikit membuat saya senang dari budaya masyarakat yogyakarta dalam hal acara ini adalah ketika saya melihat di kamar teman saya ada beras mentah dalam plastik, telur, kopi atau teh, gula dan lain-lain dalam satu wadah, barang-barang itu dia  dapatkan setelah mengikuti shadaqah yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Kalau di tempat saya fenomena ini juga ada, tapi keadaannya berbalik. Bukan pengundang yang memberi barang-barang makanan tersebut, akan tetapi para undangan. Barang-barangnya dimasukkan dalam sebuah rantang, lalu setelah pulangnya rantang tersebut diisi dengan makanan yang sudah dimasak oleh pengundang. Tradisi ini biasa dilsaksikan pada saat acara resepsi pernikahan. Menurut saya ada sesuatu hal yang menarik, ketika para undangan diberi barang-barang dalam bentuk mentah, walaupun memang pada dasarnya sedikit membuat repot yang diundang, karena tidak bisa langsung menikmati makanan tersebut. Namun, disini dengan barang yang masih berbentuk mentah, orang yang memiliki barang tersebut bisa memasak menurut selera yang dibutuhkan, apalagi ada kopi di dalamnya, dia bisa membuat kopi tersebut kapan saja yang dia inginkan, berbeda halnya dalam bentuk yang sudah matang, orang mau tak mau harus langsung menikmati makanan tersebut hari itu juga, karena kalau tidak langsung dinikmati makanan akan segera basi. Dan seyogyanya memang tradisi ini kita lakukan apabila para undangan memang sudah dihidangkan makanan matang sebelumya dan alangkah baiknya setelah pulang bisa kita beri kembali makanan mentah.
    Budaya masyarakat yogyakarta yang ada diatas hanyalah sebuah cerita atau pengalaman saja, boleh   diikuti jika memang perlu atau boleh juga tak mau sama sekali. Seperti, kata Bang H. Roma Irama; Cocok buat negeri lain, belum tentu Indonesia. Dan sekarang saya ubah menjadi, cocok buat budaya lain, belum tentu budaya kita. Betul!. Namun ironisnya, walaupun sebelumnya hanya sebuah kekhawatiran semu, tapi fakta di lapangan menunjukan, kalau semuanya tidak lagi sebuah kekhawatiran, akan tetapi sudah benar-benar terjadi. Ada beberapa masyarakat kita jambi yang sudah coba-coba ikut budaya orang lain, tidak tanggung-tanggung bukan lagi budaya yang di luar jambi, akan tetapi sampai pada budaya di luar indonesia yaitu ‘hidangan prancis’. Alhasil, apa yang dikatakan Bang Haji bentol (benar total), karena cara pelayanan mengambil sendiri, makanan yang dihidangkan meleset dari tafsiran sebelumnya alias ‘habis’, padahal masih banyak para undangan yang belum mendapatkan makanan. Tentu saja keadaan seperti ini hanya akan menjadi bumerang buat kita.

5.    Mata Pencaharian
    Pada bagian tentang budaya ‘kerja keras’ masyarakat jogja sebelumnya, sedikit-sedikit sudah ada saya sisipkan tentang mata pencaharian masyarakat jogja, salah satunya adalah dari sektor pertanian. Selain itu banyak juga masyarakatnya yang mengantungkan hidup menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil), namun ada juga memamfaatkan dari sektor parawisata, seperti menjadi pedagang dari keterampilan tangan dingin mereka yaitu menjual pakaian batik khas jogja, aksesoris-aksesoris yang bisa dipakai di tubuh kita sampai pada aksesoris yang diolah menjadi hiasan rumah dan ada juga sebagian masyarakatnya yang menjadikan becak dan andong sebagai tumpuan hidupnya sehari-hari.
    Kondisi jogja yang dipenuhi oleh pelajar dan mahasiswa, juga turut menyumbang beberapa mata pencaharian bagi mereka. Kondisi semacam ini memunculkan berbagai macam ragam dan kreatifitas makanan yang tersedia di jogja, membuka warung makan menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh dan membantu dalam hidup mereka, karena rata-rata pelajar dan mahasiswa jogja jarang sekali yang masak sendiri. Selain itu pula dimamfaatkan oleh jasa laundryan untuk menyediakan jasa dalam hal mencuci pakaian. Pemandangan-pemandangan seperti ini terkadang membuat kita harus bergaya hidup manja, makan selalu disediakan dan pakaian selalu dicucikan, tanpa mengingat sebuah kata mandiri.
    Pekerjaan lain sangat populer dari kondisi tersebut adalah menjamaurnya dari segala pojok keramaian dan tempat pemberhentian sementara kendaraan, suatu istilah yang biasa kita kenal parkir. Di Jogja kita akan menemukan tukang parkir dimana saja, terutama di tempat keramaian. Sehingga, membuat kita setidak-tidaknya harus memasukkan uang ke saku celana Rp500,- sampai Rp2000.- untuk membayar jasa yang satu ini. Mau lama ataupun sebentar.

    FAKTA LAIN TENTANG MAHASISWA
    Saya tidak  tahu persis budaya berikut ini, apa memang budaya yang sudah ada di Jogja sejak dulu atau dibawa oleh mahasiswa luar yang kuliah di Jogja. Sebenarnya sebagai insan modern keadaan ini tidaklah begitu mengherankan, tapi karena saya termasuk orang jadul (zaman dulu) atau katrok, keadaan seperti ini menurut saya sedikit agak tabu ketika melihatnya. Karena sebelumnya hampir tidak pernah saya melihat keadaan ini di kampung saya, bahkan di Kota Jambi sendiri.
1.    Merokok
        Merokok memang sudah menjadi trend masa kini, bukan saja orang dewasa, tapi juga sudah dikenal dengan baik oleh anak Sekolah Dasar (SD). Penyebab yang paling besar dari maraknya kebiasaan buruk ini adalah dari faktor lingkungan, yang semula hanya ingin coba-coba sampai akhirnya benar-benar tak bisa melepaskannya atau kecanduan. Di desa saya sendiri, kebiasaan ini tidak lagi menjadi sesuatu yang asing dijumpai, bahkan ada beberapa anak yang nekat memilih rokok sebagai pilihan pertama dibandingkan sekolah. Di dalam pergaulan sehari-hari kita juga kadangkala harus dihantui dengan ajakan teman-teman, sambil berucaf mengatakan, ayam berkokok diatas genteng, kalau tidak merokok tak ganteng. Kita sebagai anak yang masih labil atau dalam masa pubertas, pernyataan semacam itu mampu menggetarkan perasaan dan pikiran kita untuk juga berada diantara mereka.
        Yogyakarta sebagai kota pelajar, apakah kebiasaan merokok juga berkembang baik disana?. Menurut perhatian saya selama ini, kebiasaan merokok juga sama buruk dengan yang ada di Jambi, akan tetapi dari sisi anak-anak Sekolah Dasar, kebiasaan buruk ini hampir tidak terlihat, seperti yang terjadi di kampung saya. Namun ada satu pemandangan yang menarik ketika saya berada di Jogja, saya kerap kali menjumpai kaum hawa (mahasiswi) merokok dengan santai di tengah keramaian. Sampai saat ini saya tidak tahu pasti apa motif ini mereka lakukan, bisa jadi  alasan mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang dilontarkan para kaum adam. Selain memang ada beberapa orang yang menjadikan rokok sebagai life style, ada juga yang berpikiran kalau rokok bisa menjadi sedatifa (penenang).



2.    Naik Kendaraan
        Solusi yang pertama terngiang di pikiran, ketika hendak berpergian berdua, selain berjalan kaki adalah dengan kendaraan motor atau sepeda. Dalam keadaan naik motor berdua, sudah barang tentu ada yang membonceng dan ada yang dibonceng, kalau di Jambi misalnya, saya melihat pria dan wanita naik motor, lalu yang membonceng adalah pria. Tapi tidak demikian dengan pemandangan yang kadangkala terjadi di Jogja, wanita yang membonceng dan pria yang dibonceng. Di abad ke-21 seperti sekarang ini, keadaan semacam ini tentu tidak mengherankan bagi sebagian orang, jika saya merujuk pada 3 nilai dalam ilmu filsafat yaitu nilai kebenaran, nilai kebaikan dan nilai keindahan (estetika). Pertama, ditinjau dari nilai kebenaran, mungkin bisa saja dibenarkan selagi si pria tidak berbuat senonoh. Kedua, dari nilai kebaikan, saya pikir keadaan ini lebih banyak berdampak negatif, selain memang dalam keadaan yang dibutuhkan atau darurat. Ketiga, sedangkan dari segi keindahan, keadaan ini juga tidak enak dilihat, apalagi kita sebagai masyarakat yang berkiblat pada budaya timur.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar