Ketika . . . . .
Sang mentari tiba-tiba tak bersinar
Sang rembulan juga tersentak meredup
Saat itu pula pikiranku menjelma bimbang
Hanya hitam pekat yang menemaniku
Dimanakah sinarku?
Kenapa begitu enggan ia menyinari ruang yang kosong?
Naluriku mulai tak mampu melihat
Karena tak ada cahaya kekuatan yang menemani
Hatiku seakan-akan juga membeku
Karena tak ada panas yang mencairkan
Diantara teka-teki tersebut . . . . .
Tanpa kusadari sepuluh jariku menari silih berganti
Merangkai dengan lembut bait perbait bisikan suara hatiku
Tetesan airmata pun mengiringi setiap lisanku berucap
Ku ingin melalui syair puisi ini
Semua orang bisa tahu
Kalau aku menantikan sinar yang tak kunjung datang
Walaupun begitu . . . . .
Setetes embun pagi harapan yang jatuh di hatiku
Membuatku selalu tetap menantikan sinarmu
Sekalipun sinar itu tak pernah tahu
Biar berat bagiku menjemput sinar di langit hatimu
Namun disini dan sampai kapanpun nanti
Aku akan selalu bertahan dengan sinarmu
Karena hanya kau yang selalu bersinar dihatiku
Walaupun sesungguhnya aku berada diantara sinar yang lain
Tak ada kata lelah bagiku untuk menanti
Dan takkan ada pula terucap menyerah buatku untuk selalu bermimpi
Karena tak mampu ku pungkuri, bahwa sinarku itu hanyalah si
Tidak ada komentar:
Posting Komentar