Kamis, 07 Februari 2013

Syahadatkan Aku…


Kaldera bisikkan sebentuk suara di kiri hingga menembus sebelahnya. berulang-ulang sampai lobang berdempet  duaku terusik sangat. suara itu aku terima; kau akan segera mati. aku tak kaget. karena yang kupunya masih terlalu peka dan gesit. ah! tak mungkin.
Kaldera menatap  dua bola berkelopakku hingga menggapai putih kecil di tengah-tengahnya. seolah ia ingin aku memercayainya. oh! kaldera aku tak mungkin menerima pesan yang kausampaikan. Tuhan sayang samaku. kau tahu itu.
Kaldera setengah putus asa. lalu terjatuh dari tebing tanpa sempat memegang akar hingga bertumpu pada satu bola di bawahnya. mau kamu apa sih kaldera. tak usah kau ingat aku tentang akhirku. kalaupun aku mati syurga untukku. aku telah melakukan semuanya untuk Tuhan. kau paham itu.
Kaldera mulai pasrah. namun ia janggal dengan setiap kata yang mendebatnya. selidik ada lobang yang terus menutup dan membuka. hingga tak sadar walau ada busa melimpa di pinggirnya. kau akan segera mati kaldera berkata. sudah berulangkali kukatakan padamu. kau saja yang mati sana. kau ngerti maksudku.
Kaldera penasaran. dia masuk melalui sebentuk pipa hingga bersua segumpal bendah hitam kemerahan yang sedang berkirim surat dengan seonggok bendah lembut. lalu dari atas sayup-sayup terdengar pekikan si lobang lentur. sudah selesai belum. di sana kaldera pun menangis sejadi-jadinya.  
Kaldera memilih keluar dari lobang pembuang hingga tak pikirkan lagi tentang semua itu. kecewa sekali. walau lobang berdaun kembang sudah berhenti. lobang berbatang sudah menarik.  lobang berair sudah menolak. Tuhan tetap izinkan si lobang berdaun lentur bersuara, hingga ucapkan suara terbaik meskipun pertama kali.  
Kalaupun mau, aku kira Tuhan masih memberi sempat di dalam lobang bersegipanjang. asal, hidup, mati hidup adalah lobang.

Yogyakarta, 07/02/2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar