Kaldera bisikkan
sebentuk suara di kiri hingga menembus sebelahnya. berulang-ulang sampai lobang
berdempet duaku terusik sangat. suara
itu aku terima; kau akan segera mati. aku tak kaget. karena yang kupunya masih
terlalu peka dan gesit. ah! tak mungkin.
Kaldera menatap dua bola berkelopakku hingga menggapai putih
kecil di tengah-tengahnya. seolah ia ingin aku memercayainya. oh! kaldera aku
tak mungkin menerima pesan yang kausampaikan. Tuhan sayang samaku. kau tahu itu.
Kaldera setengah putus
asa. lalu terjatuh dari tebing tanpa sempat memegang akar hingga bertumpu pada
satu bola di bawahnya. mau kamu apa sih kaldera. tak usah kau ingat aku tentang
akhirku. kalaupun aku mati syurga untukku. aku telah melakukan semuanya untuk
Tuhan. kau paham itu.
Kaldera mulai pasrah.
namun ia janggal dengan setiap kata yang mendebatnya. selidik ada lobang yang
terus menutup dan membuka. hingga tak sadar walau ada busa melimpa di
pinggirnya. kau akan segera mati kaldera berkata. sudah berulangkali kukatakan
padamu. kau saja yang mati sana. kau ngerti maksudku.
Kaldera penasaran. dia
masuk melalui sebentuk pipa hingga bersua segumpal bendah hitam kemerahan yang
sedang berkirim surat dengan seonggok bendah lembut. lalu dari atas sayup-sayup
terdengar pekikan si lobang lentur. sudah selesai belum. di sana kaldera pun menangis
sejadi-jadinya.
Kaldera memilih keluar
dari lobang pembuang hingga tak pikirkan lagi tentang semua itu. kecewa sekali.
walau lobang berdaun kembang sudah berhenti. lobang berbatang sudah menarik. lobang berair sudah menolak. Tuhan tetap
izinkan si lobang berdaun lentur bersuara, hingga ucapkan suara terbaik
meskipun pertama kali.
Kalaupun mau, aku kira
Tuhan masih memberi sempat di dalam lobang bersegipanjang. asal, hidup, mati hidup adalah lobang.
Yogyakarta,
07/02/2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar