Senin, 10 September 2012

KEPADA DESAKU


Aku membludak, menjerit, mengglinding
Sudah... tak tenang
Aku teduh di bawah naung penuh gaung
Berakar dari nafas-nafas tak berbias bayang
Dan batang yang tak lagi menopang ranting-ranting

Di desaku inilah kawan
Kan kau lihat para pemburu kepuasan
penceklik syiar dan pemuja tahta
melebur saling mata-mata, buta

Di sini.....
Politik tak ubahnya urat nadi tanpa pembuluh vena
Tak ada aliran darah arteri
yang mampu dekati segumpal daging

Asal kau tahu,
Semua dalam belenggu paksa
juga aku menulis puisi ini

Aku hanya ingin masih ada nurani di desaku ini
Nurani sama sayang
Nurani paham saling

Desa Tuo Ilir, 22-23 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar