Aku membludak, menjerit, mengglinding
Sudah... tak tenang
Aku teduh di bawah naung penuh gaung
Berakar dari nafas-nafas tak berbias bayang
Dan batang yang tak lagi menopang ranting-ranting
Di desaku inilah kawan
Kan kau lihat para pemburu kepuasan
penceklik syiar dan pemuja tahta
melebur saling mata-mata, buta
Di sini.....
Politik tak ubahnya urat nadi tanpa pembuluh vena
Tak ada aliran darah arteri
yang mampu dekati segumpal daging
Asal kau tahu,
Semua dalam belenggu paksa
juga aku menulis puisi ini
Aku hanya ingin masih ada nurani di desaku ini
Nurani sama sayang
Nurani paham saling
Desa
Tuo Ilir, 22-23 Agustus 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar