“Ibu dan ayah. Tuk kali ini coba mengerti
aku. Aku rasa kutelah mencoba memahamimu. Tapi kenapa kau tak pernah memberi
ruang pada apa yang kumau”.
Dengan hobinya
sebagai penulis. Nasri masuk ke kamar dan mengambil diary yang sejak MTS dia simpan. Di dalamnya tertulis berbagai
macam kegundahan serta keresahan. Hanya sedikit goresan yang melukiskan
kebahagian.
“kenapa ibu?
kenapa ayah?. Aku selalu dilarang”
Nasri duduk
lesu tak bergairah. Mukanya kusut seakan suram menapak masa depan yang
terbentang luas di hadapan. Suram bukan karena tak ada uang. Bukan pula
meriang, apalagi sudah tak punya mimpi tuk terbang. Tapi tentang wujud cinta
yang begitu sulit tuk ia pahami.
Terlahir
sebagai anak bungsu. Nasri sadari itu. Ia tak boleh kecewakan orang tua yang teramat
mencintai dan menyayanginya. Bagi si Nasri senyum orang tua adalah
kebahagiannya. Jika itu mau orang tua, maka itu menjadi maunya.
Pada awalnya
Nasri menikmati hidup di lingkaran orang tuanya. Bahagia sekali bisa berjalan
dengan setumpuk doa dari orang tua. Begitu pula dengan orang tua Nasri terlukis
berjuta kebahagian menghinggapi angannya. Bangga sekali memiliki anak yang
penurut.
Inilah misteri sebuah waktu. Semua bisa berubah. Semua bisa luntur.
Hingga lahirkan kejenuhan dan beragam permintaan dan tentunya tak akan abadi.
Memasuki dunia
MA (Madrasah Aliyah). Di sinilah di mana Nasri mulai dihadapkan di antara dua
pilihan. Pilihan dia dan orang tua. Di sekolah yang ia masuk ada 2 alternatif,
yaitu; tinggal di asrama atau di luar alias ngekos.
Disini mulai
tampak sikap penurut Nasri terkikis. Ia berbelok haluan, ketika orang tuanya
menyuruh jalan terus. Bukan karena melawan, tapi karena waktu yang kini membuat
dia berubah. Berubah tuk sekejap saja mendengarkan apa yang sebenarnya
ia mau.
Namun di balik
semua itu Nasri tetaplah anak yang punya kepekaan yang kuat terhadap apa yang
dirasa orang tua. Walau dia masih remaja, tapi dia mencoba tuk berpikir dewasa.
“Orang tuaku
menyuruh tinggal di asrama pasti mereka tak mau terjadi apa-apa padaku”
Nasri sendiri
menyadari kalau ia tak seutuhnya bisa menjamin mampu mengontrol
prilakunya. Bila tinggal dalam lingkungan yang bebas. Akhirnya Nasri mencoba
tuk kembali ke jalur orang tuanya.
Pernah
pertengahan tahun kedua Nasri kembali mengeluh. Ia sudah tak tahan dan minta
tuk keluar dari asrama. Begitu hasrat tersampaikan. Berbagai pujuk rayu serta
harapan keluar dari mulut orang tuanya. Klimaksnya mereka teteskan
airmata. Tetesan airmata yang kembali urungkan niat si Nasri. Dia kembali.
Nasri terus
bertahan. Hasilnya dia mampu menamatkan sekolah di Madrasah Aliyah tersebut.
Dia mulai berpikir kalau apa yang ia capai saat ini. Bukan hanya kelulusan dari
sekolah saja. Melainkan juga kelulusan menjalankan apa yang orang tua mau.
Satu harapan ke depan yang
tertanam dalam diri Nasri. Pencapaian saat ini sebagai go to freedom. Dia ingin selanjutnya berjalan dengan kata hatinya.
Sampai pada
akhirnya Nasri diberi kesempatan kuliah di Yogyakarta. Masalah jurusan apa yang
harus ia ambil. Tak tahunya sudah terlampir sedari dulu. Satu pilihan yang
lagi-lagi membuat ia menghela napas panjang.
“Nak, kamu
mesti ambil jurusan Keperawatan. Peluangnya jauh lebih besar. Jangan ambil
jurusan yang lain. Kalau tak dapat kerja gimana?. Lihat itu kakakmu sampai sekarang
menjadi pengangguran abadi. Lalu coba perhatikan pula itu anak Pak Qosim
balik-baliknya juga menjadi petani”
“Saya ingin mengambil jurusan
sastra ibu. Sastra sudah menjadi hobi saya sejak MTS. Saya senang sekali sastra”
“Ah! apa itu
sastra. Tak jelas tujuanya. Ibu sudah dengar dari mana-mana kalau Keperawatan
itu lagi dibutuhkan, sedangkan sastra ibu saja baru dengar kali ini. Pokoknya
kamu harus ikuti apa yang sudah menjadi ketentuan ibu. Ibu jauh lebih tahu
tentang masa depanmu”
“Tapi kan saya
yang menjalani semua ini, Bu”
“Oooh! jadi
gitu. Kamu mau berjalan sendiri-sendiri. Berarti sekarang semuanya kamu mesti
sendiri. Termasuk bea kuliahmu”
“Tapi ibu”
“Tak ada
topi-topi lagi. Eeeh!... maksudnya tapi. Ibu ini sudah tua, jadi ibu lebih banyak
tahu daripada kamu”
Sangat sulit
bagi Nasri tuk mengelak. Dia tak ingin airmata itu kembali membasahi pipi kedua
orang tuanya. Tak lagi.
“Mungkin inilah
waktunya aku tuk berbakti pada mereka. Setelah sekian lama mereka merawat serta
mendidikku. Biarlah kuterluka. Aku akan coba tuk jalani semua ini”. Tekad
Nasri.
Semester I,
semester II dan semester III tak ubahnya seperti deruh air ketika bendungan
dibuka. Bergemuruh. Deras sekali. Namun siapa sangka di semester IV air
mulai terkuras. Tak lagi terlihat gagah. Nasri mulai alami kejenuhan. Ia baru
menyadari bagaimana rasanya melanggar kode etik yang seharusnya disepakati
bersama kata hati.
Waktu telah
begitu banyak terbuang. Uang telah banyak melayang. Mau diapain lagi. Nasi
telah menjadi bubur. Dan buburpun telah ia makan. Kini dia berusaha tuk tetap
berharap dari bubur yang telah ia makan. Tinja seperti apa yang keluar. Busuk
tapi harum atau malah harum tapi busuk.
Tak sampai
di situ, Nasri juga mesti menentukan sikap yang tepat ketika menghadapi berbagai
permintaan dan larangan orang tuanya. Sering sekali apa yang diinginkan Nasri
tak sampai di pelabuhan. Karena harus berbentur karang ketakutan orang tuanya.
Keputusan orang
tua tak jarang menyentuh kelenjar lakrimalis Nasri, hingga teteskan airmata.
Kondisi ini pernah ia alami ketika di semester III ia meminta tuk dibelikan
motor. Tapi orang tuanya tetap saja mempertahankan prinsip yang telah mereka
buat sedari awal.
Berkecamuk
perasan yang ada dalam pikiran orang tua Nasri. Kalau kecelakaan gimana?. Terus
kalau nanti kamu lupa kuliah gara-gara keterusan jalan-jalan gimana? lalu
gimana kalau motornya sampai hilang?. Sedangkan tujuan Nasri memiliki
motor sebagai ruang gerak atau memperluas langkahnya. Nasri beranggapan
kalau tanpa motor ia tampak seperti ‘mati kutu’. Namun orang tua tetap saja
menyangkal keinginan Nasri dengan pikiran-pikiran negatif.
Permintaan itu
terus dan terus Nasri coba alamatkan pada orang tuanya. Hasilnya mereka luluh.
Begitu banyak syarat yang Nasri terima sebelum mereka benar-benar deal. Salah satunya Nasri tak boleh
keseringan jalan-jalan. Dan kata terakhir yang sempat Nasri dengar adalah kalau
motor yang sudah dibeli ini hilang. Mereka tak akan lagi sekali-sekali
membelikan motor buatnya.
Biarlah. Tak
apa-apa. Nasri tetap bahagia, walau mesti berhadapan dengan syarat-syarat itu.
Nasri masih beranggapan kalau ini wujud dari sebuah cinta.
Seiring dengan
bergulirnya waktu. Wujud cinta orang tuanya semakin sulit tuk ia pahami.
Perasaan itu muncul ketika ia minta izin dari orang tuanya tuk pindah dari kos
ke masjid menjadi takmir. Nasri punya keyakinan kalau di masjid ia bisa
semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Dia merasa ada yang mengganjal dari
sikap dan perilakunya dari hari ke hari. Dia kerapkali meninggalkan salat.
Sedangkan bila di masjid Nasri beranggapan bisa menjalin hubungan dengan Allah
SWT serta membangun
hubungan sesama manusia.
Nasri tetaplah
Nasri. Dia mencoba mengalah. Dengan tetap tinggal di kos. Setelah hampir dua
tahun Nasri bertahan dengan kos yang diinginkan orang tua. Dia kembali hadirkan
sebuah penawaran baru yaitu pindah ke kontrakan. Namun orang tuanya tetap saja
berdalih kalau Nasri mesti tinggal di kos sampai dia selesaikan kuliah.
“Kalau kali ini
aku juga menyerah. Kapan kesempatanku tuk menang. Sampai kapan semua ini akan
berakhir. Semoga aku selalu diberikan kekuatan oleh Tuhan tuk jalani semua ini.
Maafkan aku Kalau gagal berjalan dengan jalanmu”
Yogyakarta, 10 Januari 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar