Rabu, 11 Januari 2012

SEGORES LUKA DALAM MIMPI


“Ibu dan ayah. Tuk kali ini coba mengerti aku. Aku rasa kutelah mencoba memahamimu. Tapi kenapa kau tak pernah memberi ruang pada apa yang kumau”.
Dengan hobinya sebagai penulis. Nasri masuk ke kamar dan mengambil diary yang sejak MTS dia simpan. Di dalamnya tertulis berbagai macam kegundahan serta keresahan. Hanya sedikit goresan yang melukiskan kebahagian.
“kenapa ibu? kenapa ayah?. Aku selalu dilarang”
Nasri duduk lesu tak bergairah. Mukanya kusut seakan suram menapak masa depan yang terbentang luas di hadapan. Suram bukan karena tak ada uang. Bukan pula meriang, apalagi sudah tak punya mimpi tuk terbang. Tapi tentang wujud cinta yang begitu sulit tuk ia pahami.
Terlahir sebagai anak bungsu. Nasri sadari itu. Ia tak boleh kecewakan orang tua yang teramat mencintai dan menyayanginya. Bagi si Nasri senyum orang tua adalah kebahagiannya. Jika itu mau orang tua, maka itu menjadi maunya.
Pada awalnya Nasri menikmati hidup di lingkaran orang tuanya. Bahagia sekali bisa berjalan dengan setumpuk doa dari orang tua. Begitu pula dengan orang tua Nasri terlukis berjuta kebahagian menghinggapi angannya. Bangga sekali memiliki anak yang penurut.
Inilah misteri sebuah waktu. Semua bisa berubah. Semua bisa luntur. Hingga lahirkan kejenuhan dan beragam permintaan dan tentunya tak akan abadi.
Memasuki dunia MA (Madrasah Aliyah). Di sinilah di mana Nasri mulai dihadapkan di antara dua pilihan. Pilihan dia dan orang tua. Di sekolah yang ia masuk ada 2 alternatif, yaitu; tinggal di asrama atau di luar alias ngekos.
Disini mulai tampak sikap penurut Nasri terkikis. Ia berbelok haluan, ketika orang tuanya menyuruh jalan terus. Bukan karena melawan, tapi karena waktu yang kini membuat dia berubah. Berubah tuk  sekejap saja mendengarkan apa yang sebenarnya  ia mau.
Namun di balik semua itu Nasri tetaplah anak yang punya kepekaan yang kuat terhadap apa yang dirasa orang tua. Walau dia masih remaja, tapi dia mencoba tuk berpikir dewasa.
“Orang tuaku menyuruh tinggal di asrama pasti mereka tak mau terjadi apa-apa padaku”
Nasri sendiri menyadari  kalau ia tak seutuhnya bisa menjamin mampu mengontrol prilakunya. Bila tinggal dalam lingkungan yang bebas. Akhirnya Nasri mencoba tuk kembali ke jalur orang tuanya.
Pernah pertengahan tahun kedua Nasri kembali mengeluh. Ia sudah tak tahan dan minta tuk keluar dari asrama. Begitu hasrat tersampaikan. Berbagai pujuk rayu serta harapan  keluar dari mulut orang tuanya. Klimaksnya mereka teteskan airmata. Tetesan airmata yang kembali urungkan niat si Nasri. Dia kembali.
Nasri terus bertahan. Hasilnya dia mampu menamatkan sekolah di Madrasah Aliyah tersebut. Dia mulai berpikir kalau apa yang ia capai saat ini. Bukan hanya kelulusan dari sekolah saja. Melainkan juga kelulusan menjalankan apa yang orang tua mau.
Satu harapan ke depan yang tertanam dalam diri Nasri. Pencapaian saat ini sebagai go to freedom. Dia ingin selanjutnya berjalan dengan kata hatinya.
Sampai pada akhirnya Nasri diberi kesempatan kuliah di Yogyakarta. Masalah jurusan apa yang harus ia ambil. Tak tahunya sudah terlampir sedari dulu. Satu pilihan yang lagi-lagi membuat ia menghela napas panjang.
“Nak, kamu mesti ambil jurusan Keperawatan. Peluangnya jauh lebih besar. Jangan ambil jurusan yang lain. Kalau tak dapat kerja gimana?. Lihat itu kakakmu sampai sekarang menjadi pengangguran abadi. Lalu coba perhatikan pula itu anak Pak Qosim balik-baliknya juga menjadi petani”
“Saya ingin mengambil jurusan sastra ibu. Sastra sudah menjadi hobi saya sejak MTS. Saya senang sekali sastra”
“Ah! apa itu sastra. Tak jelas tujuanya. Ibu sudah dengar dari mana-mana kalau Keperawatan itu lagi dibutuhkan, sedangkan sastra ibu saja baru dengar kali ini. Pokoknya kamu harus ikuti apa yang sudah menjadi ketentuan ibu. Ibu jauh lebih tahu tentang masa depanmu”
“Tapi kan saya yang menjalani semua ini, Bu”
“Oooh! jadi gitu. Kamu mau berjalan sendiri-sendiri. Berarti sekarang semuanya kamu mesti sendiri. Termasuk bea kuliahmu”
“Tapi ibu”
“Tak ada topi-topi lagi. Eeeh!... maksudnya tapi. Ibu ini sudah tua, jadi ibu lebih banyak tahu daripada kamu”
Sangat sulit bagi Nasri tuk mengelak. Dia tak ingin airmata itu kembali membasahi pipi kedua orang tuanya. Tak lagi.
“Mungkin inilah waktunya aku tuk berbakti pada mereka. Setelah sekian lama mereka merawat serta mendidikku. Biarlah kuterluka. Aku akan coba tuk jalani semua ini”.  Tekad Nasri.
Semester I, semester II dan semester III tak ubahnya seperti deruh air ketika bendungan dibuka. Bergemuruh. Deras sekali. Namun siapa sangka di semester IV air  mulai terkuras. Tak lagi terlihat gagah. Nasri mulai alami kejenuhan. Ia baru menyadari bagaimana rasanya melanggar kode etik yang seharusnya disepakati bersama kata hati.
Waktu telah begitu banyak terbuang. Uang telah banyak melayang. Mau diapain lagi. Nasi telah menjadi bubur. Dan buburpun telah ia makan. Kini dia berusaha tuk tetap berharap dari bubur yang telah ia makan. Tinja seperti apa yang keluar. Busuk tapi harum atau malah harum tapi busuk.
Tak sampai di situ, Nasri juga mesti menentukan sikap yang tepat ketika menghadapi berbagai permintaan dan larangan orang tuanya. Sering sekali apa yang diinginkan Nasri tak sampai di pelabuhan. Karena harus berbentur karang ketakutan orang tuanya.
Keputusan orang tua tak jarang menyentuh kelenjar lakrimalis Nasri, hingga teteskan airmata. Kondisi ini pernah ia alami ketika di semester III ia meminta tuk dibelikan motor. Tapi orang tuanya tetap saja mempertahankan prinsip yang telah mereka buat sedari awal.
Berkecamuk perasan yang ada dalam pikiran orang tua Nasri. Kalau kecelakaan gimana?. Terus kalau nanti kamu lupa kuliah gara-gara keterusan jalan-jalan gimana? lalu gimana kalau motornya sampai hilang?. Sedangkan tujuan Nasri memiliki motor  sebagai ruang gerak atau memperluas langkahnya. Nasri beranggapan kalau tanpa motor ia tampak seperti ‘mati kutu’. Namun orang tua tetap saja menyangkal keinginan Nasri dengan pikiran-pikiran negatif.
Permintaan itu terus dan terus Nasri coba alamatkan pada orang tuanya. Hasilnya mereka luluh. Begitu banyak syarat yang Nasri terima sebelum mereka benar-benar deal. Salah satunya Nasri tak boleh keseringan jalan-jalan. Dan kata terakhir yang sempat Nasri dengar adalah kalau motor yang sudah dibeli ini hilang. Mereka tak akan lagi sekali-sekali membelikan motor buatnya.
Biarlah. Tak apa-apa. Nasri tetap bahagia, walau mesti berhadapan dengan syarat-syarat itu. Nasri masih beranggapan kalau ini wujud dari sebuah cinta.
Seiring dengan bergulirnya waktu. Wujud cinta orang tuanya semakin sulit tuk ia pahami. Perasaan itu muncul ketika ia minta izin dari orang tuanya tuk pindah dari kos ke masjid menjadi takmir. Nasri punya keyakinan kalau di masjid ia bisa semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Dia merasa ada yang mengganjal dari sikap dan perilakunya dari hari ke hari. Dia kerapkali meninggalkan salat. Sedangkan bila di masjid Nasri beranggapan bisa menjalin hubungan dengan Allah SWT serta membangun hubungan sesama manusia.
Nasri tetaplah Nasri. Dia mencoba mengalah. Dengan tetap tinggal di kos. Setelah hampir dua tahun Nasri bertahan dengan kos yang diinginkan orang tua. Dia kembali hadirkan sebuah penawaran baru yaitu pindah ke kontrakan. Namun orang tuanya tetap saja berdalih kalau Nasri mesti tinggal di kos sampai dia selesaikan kuliah.
“Kalau kali ini aku juga menyerah. Kapan kesempatanku tuk menang. Sampai kapan semua ini akan berakhir. Semoga aku selalu diberikan kekuatan oleh Tuhan tuk jalani semua ini. Maafkan aku Kalau gagal berjalan dengan jalanmu”



Yogyakarta, 10  Januari 2012


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar