Selasa, 28 Juni 2011

Hakikat Menuntut Ilmu Agama

Di masa yang serba modern dan instan ini banyak orang yang berpikiran kalau menuntut ilmu agama adalah sesuatu yang jadul (zaman dulu), tidak memiliki masa depan yang cerah dan ketinggalan. Tapi pernahkah kita menyadari kalau semua itu sama sekali tidak benar, tidak ada perbedaan yang sangat esensial diantara keduanya dalam problematika masa depan. Seseorang yang selesai dari Sekolah Agama (Pondok Pesantren) juga akan mampu bersaing dengan anak-anak lainnya, bahkan dapat mengukir prestasi yang lebih baik . Sedangkan di mata Allah SWT sendiri kita akan mendapatkan derajat yang lebih tinggi.
Menuntul ilmu agama menurut saya adalah ‘bagaikan menanam padi, walaupun kita hanya menanam padi saja, tapi akan tumbuh juga rumput-rumput lain’ . Sedangkan menuntut ilmu umum ‘ laksana menanam rumput-rumput, tapi akan sulit untuk tumbuh padi’. Maksudnya adalah walaupun kita hanya menuntut ilmu agama, tanpa kita sadari ilmu-ilmu umum akan mengiringinya, tapi berbeda halnya dengan menuntut ilmu umum, akan sulit diiringi dengan pengetahuan ilmu agama. Jadi, dengan menuntut ilmu agama kita akan berada ditengah-tengah pengetahuan  ilmu dunia dan juga akhirat.
Selesai dari MTs/ SMP saya juga sempat berpikiran kalau ilmu agama tidak memilki prospek yang baik. Bahkan setelah dimasukkan ke sekolah agama di Jambi yaitu Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK)  tersebut, saya juga sempat menentang apa yang dianjurkan orang tua dan lebih krusial lagi saya meminta untuk pindah atau keluar dari sekolah agama tersebut. Hingga menyebabkan orang tua saya menangis dengan sikap dan keputusan yang saya lakukan. Namun, melalui tangisan orang tua saya tersebut pula mampu meleburkan hati saya yang bergejolak dan sikap saya salah.
Kesadaran saya akan pentingnya ilmu agama kembali diyakinkan setelah saya berada di tengah-tengah masyarakat. Seseorang yang memiliki ilmu agama akan diperlukan lebih terpandang oleh masyarakat. Maka dari sana pula saya sempat berpikiran untuk menuntut ilmu agama kembali, karena saya merasa minimnya ilmu agama yang saya miliki dan kurangnya kesungguhan saya sewaktu berada disana dalam belajar. Perkataan yang sering dilontarkan ustadz-ustadz saya dulu sempat kembali hadir dipikiran saya yaitu, kalau kalian tidak belajar sungguh-sungguh sekarang, nanti setelah keluar dari sini dan berada di tengah masyarakat, kalian pasti akan mengerti bagaimana pentingnya ilmu agama. Itulah kira-kira pernyataan beliau. Dan hal itu terbukti setelah saya benar-benar merasakan dan mengalaminya.
Sekolah agama (Pondok Pesantren) selain mengajarkan syariat agama, kita juga akan dilatih untuk belajar mendiri yaitu  berada jauh dari orang tua, mencuci pakaian sendiri dan belajar menghemat uang. Selain itu kita juga dituntut untuk selalu sabar dalam setiap keadaan yang terjadi. Dan hal yang paling tidak bisa saya lupakan sampai detik ini adalah kebersamaan dan kerja sama antara teman yang masih banyak menyimpan cerita misteri, unik, dan lucu yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun.
Kemandirian, kesabaran, dan arti kebersamaan akan sulit dilatih dan kita temukan, selain kita berada di Pondok Pesantren. Dan kalaupun kita temukan itu tidak terbentuk dan berjalan dengan baik, karena berbeda dengan pondok pesantren yang  memilki peraturan yang sudah terorganisir, akurat dan tegas yang harus diikuti oleh santri-santrinya. Sehingga menuntut santri-santri untuk patuh terhadap apapun yang terjadi.
Melalui pondok pesantren pula akan muncul prilaku baik dan santun dalam diri seorang santri. Tapi, bukan menutup kemungkinan setiap santri-santri yang sudah menuntut ilmu agama akan berprilaku baik dan santun, banyak juga diantara santri yang selesai berprilaku bejat atau tidak terpuji, bahkan lebih parah dari yang tidak menuntut ilmu agama.
Akan tetapi menurut hemat saya dengan ia sudah menuntut ilmu agama, diharapkan mampu mengontrol setiap prilakunya, karena ia sudah tahu hakikat halal dan haram atau salah dan benar seperti yang sudah dipelajarinya. Kalau memang pada kenyataan dia belum bisa sadar di masa mudanya, namun tuhan masih memberikan umur panjang padanya, dengan ia sudah memiliki modal ilmu agama, maka dari itu diharapkan mampu menyadarkan ia kembali ke jalan Allah yang sebenarnya.
Berbeda halnya dengan orang yang tidak pernah menuntut ilmu agama, hal itu tentu sulit mengontrol prilalakunya, jangankan mengajari ilmu agama untuk orang-orang disekitarnya, menjadi imam sholat ditengah keluarganya dan mengajari prilaku baik dan santun untuk anak-anaknya. Mengajari dan memimpin diri sendiri saja ia tidak bisa, karena minimnya ilmu agama yang ia miliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar