Di masa yang serba modern dan
instan ini banyak orang yang berpikiran kalau menuntut ilmu agama adalah
sesuatu yang jadul (zaman dulu), tidak memiliki masa depan yang cerah dan
ketinggalan. Tapi pernahkah kita menyadari kalau semua itu sama sekali tidak benar,
tidak ada perbedaan yang sangat esensial diantara keduanya dalam problematika
masa depan. Seseorang yang selesai dari Sekolah Agama (Pondok Pesantren) juga
akan mampu bersaing dengan anak-anak lainnya, bahkan dapat mengukir prestasi
yang lebih baik . Sedangkan di mata Allah SWT sendiri kita akan mendapatkan
derajat yang lebih tinggi.
Menuntul ilmu agama menurut saya
adalah ‘bagaikan menanam padi, walaupun kita hanya menanam padi saja, tapi akan
tumbuh juga rumput-rumput lain’ . Sedangkan menuntut ilmu umum ‘ laksana
menanam rumput-rumput, tapi akan sulit untuk tumbuh padi’. Maksudnya adalah
walaupun kita hanya menuntut ilmu agama, tanpa kita sadari ilmu-ilmu umum akan
mengiringinya, tapi berbeda halnya dengan menuntut ilmu umum, akan sulit
diiringi dengan pengetahuan ilmu agama. Jadi, dengan menuntut ilmu agama kita
akan berada ditengah-tengah pengetahuan ilmu dunia dan juga akhirat.
Selesai dari MTs/ SMP saya juga
sempat berpikiran kalau ilmu agama tidak memilki prospek yang baik. Bahkan setelah
dimasukkan ke sekolah agama di Jambi yaitu Madrasah Aliyah Keagamaan
(MAK) tersebut, saya juga sempat menentang apa yang dianjurkan orang tua
dan lebih krusial lagi saya meminta untuk pindah atau keluar dari sekolah agama
tersebut. Hingga menyebabkan orang tua saya menangis dengan sikap dan keputusan
yang saya lakukan. Namun, melalui tangisan orang tua saya tersebut pula mampu
meleburkan hati saya yang bergejolak dan sikap saya salah.
Kesadaran saya akan pentingnya
ilmu agama kembali diyakinkan setelah saya berada di tengah-tengah masyarakat.
Seseorang yang memiliki ilmu agama akan diperlukan lebih terpandang oleh
masyarakat. Maka dari sana pula saya sempat berpikiran untuk menuntut ilmu
agama kembali, karena saya merasa minimnya ilmu agama yang saya miliki dan
kurangnya kesungguhan saya sewaktu berada disana dalam belajar. Perkataan yang
sering dilontarkan ustadz-ustadz saya dulu sempat kembali hadir dipikiran saya
yaitu, kalau kalian tidak belajar sungguh-sungguh sekarang, nanti setelah
keluar dari sini dan berada di tengah masyarakat, kalian pasti akan mengerti
bagaimana pentingnya ilmu agama. Itulah kira-kira pernyataan beliau. Dan hal
itu terbukti setelah saya benar-benar merasakan dan mengalaminya.
Sekolah agama (Pondok Pesantren)
selain mengajarkan syariat agama, kita juga akan dilatih untuk belajar mendiri
yaitu berada jauh dari orang tua, mencuci pakaian sendiri dan belajar
menghemat uang. Selain itu kita juga dituntut untuk selalu sabar dalam setiap
keadaan yang terjadi. Dan hal yang paling tidak bisa saya lupakan sampai detik
ini adalah kebersamaan dan kerja sama antara teman yang masih banyak menyimpan
cerita misteri, unik, dan lucu yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun.
Kemandirian, kesabaran, dan arti
kebersamaan akan sulit dilatih dan kita temukan, selain kita berada di Pondok
Pesantren. Dan kalaupun kita temukan itu tidak terbentuk dan berjalan dengan
baik, karena berbeda dengan pondok pesantren yang memilki peraturan yang
sudah terorganisir, akurat dan tegas yang harus diikuti oleh santri-santrinya.
Sehingga menuntut santri-santri untuk patuh terhadap apapun yang terjadi.
Melalui pondok pesantren pula akan
muncul prilaku baik dan santun dalam diri seorang santri. Tapi, bukan menutup
kemungkinan setiap santri-santri yang sudah menuntut ilmu agama akan berprilaku
baik dan santun, banyak juga diantara santri yang selesai berprilaku bejat atau
tidak terpuji, bahkan lebih parah dari yang tidak menuntut ilmu agama.
Akan tetapi menurut hemat saya
dengan ia sudah menuntut ilmu agama, diharapkan mampu mengontrol setiap
prilakunya, karena ia sudah tahu hakikat halal dan haram atau salah dan benar
seperti yang sudah dipelajarinya. Kalau memang pada kenyataan dia belum bisa
sadar di masa mudanya, namun tuhan masih memberikan umur panjang padanya,
dengan ia sudah memiliki modal ilmu agama, maka dari itu diharapkan mampu
menyadarkan ia kembali ke jalan Allah yang sebenarnya.
Berbeda halnya dengan orang yang
tidak pernah menuntut ilmu agama, hal itu tentu sulit mengontrol prilalakunya,
jangankan mengajari ilmu agama untuk orang-orang disekitarnya, menjadi imam
sholat ditengah keluarganya dan mengajari prilaku baik dan santun untuk
anak-anaknya. Mengajari dan memimpin diri sendiri saja ia tidak bisa, karena
minimnya ilmu agama yang ia miliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar