Saat itu . . . . .
Diizinkan-Nya kau bertemu dengan sel telur
Sekitar 120 juta pangeran sperma mengikuti sayembara
Tapi hanya 1 pangeran sperma yang bisa mencuri hati permaisuri sel telur
Setelah permaisuri menerima ucapan cintamu
Kau berjalan menemui sang raja rahim
Menyatulah kasih sayangmu
Bersama satu istana selama 9 bulan
Dari secercah sel telur yang hina
Kau menjelma menjadi seonggok embrio
Seonggok embrio berbentuk sebuah janin
Dan berubah menjadi triliyunan sel-sel
Lalu dengan kuasa-Nya kau berkembang menjadi seorang bayi
Sang pemilik istana merasakan kebahagian yang tiada tara
Ketika diketahui istananya sudah ada yang menempati
Dia sebagai sang pemilik istana
Namun dia pula yang melayanimu
Dia rela berjalan ditengah guyuran hujan dan teriknya sang mentari
Asalkan sang penghuni istana bisa merasakan kedamaian
Dia pun sanggup hanya makan rasa asin
Asalkan kau bisa selalu sehat berada didalamnya
Dan ketika tiba saatnya kau keluar dari istana
Bersama separuh jiwa dan raganya
Dia pertaruhkan untuk mewujudkannya
Di saat keluar kau disambut dengan hamparan padang senyuman
Walaupun seyogyanya dia harus berjuang mengitari bumi ini
Demi mencari segumpal nasi untuk kesejahteraanmu
Dia kerahkan semua hidupnya untuk tumbuh kembangmu
Karena dia tak rela darah dagingnya selalu menjadi sesuatu yang hina
Sampai akhirnya kau temukan masa remaja
Harapan terkadang hanyalah harapan
Secercah sel sperma, tanpa disangka mulai berlisan bak sembilu
Si ibu berkata tidak, ia menjawab ia
Si ayah melarang jangan, dengan lantang ia berkata ‘Ah!’
Apakah ini balasan dari semua perjuangan panjang yang dia lakukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar