Aku kecewa sama bangsa super kaya ini
Aku sedih dengan negeri pancasialis ini
Katanya punya tuhan
Tapi kenapa tak tinggal damai berdampingan
Katanya keadilan beradab
Tapi kenapa hukum ditegakkan secara biadab
Katanya menginginkan persatuan
Tapi kenapa kepentingan pribadi selalu diutamakan
Katanya kerakyatan hikmat kebijaksanaan
Tapi kenapa berpikir tanpa kecermatan
Katanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Tapi kenapa rakyat semakin melarat
Jika pemimpin sudah berada didepan
Rakyat hanyalah boneka permainan
Dia gemahkan iming-iming kesejahteraan
Namun itu hanya jembatan kemunafikan
Satu pihak berkata begitu
Satu pihak berucap begini
Setelah api yang ia buat hangus membakar
Dia pun buru-buru mencari air untuk memadamkannya
Alasan lagi, lagi-lagi alasan
Dia katakan suatu saat padi itu akan panen
Tapi ia tak pernah merawatnya
Dia katakan mawar itu ada durinya
Makanya susah untuk dipetik
Ladang itu masih subur
Dia meminta ladang yang tersubur
Berkembang tanpa merekah . . . . .
Kuntum tapi tak mekar . . . . .
Setangkai bunga tak akan layu sampai pada waktunya
Andaikan tak dipotong tangkainya
Sekuntum mawar akan bentangkan warna-warni keindahan
Aidaikan tak ditaburkan hama-hama kenistaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar